Membahas peristiwa Isra Mikraj tidak lepas dari upaya mengakui keterbatasan rasio manusia di hadapan kemahakuasaan Allah yang melampaui batas ruang dan waktu. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana bisa seorang manusia menempuh perjalanan sedemikian jauh dalam waktu yang amat singkat?
Di tengah kegaduhan logika dan skeptisisme penduduk Makkah kala itu, Abu Bakar hadir tanpa keraguan sedikitpun. Beliau adalah orang pertama yang mengakui kebenaran perjalanan Nabi Muhammad saw. Bagi beliau, kebenaran informasi tidak diukur dari seberapa masuk akalnya sebuah peristiwa, melainkan dari siapa yang menyampaikannya. Prinsip Abu Bakar ini selaras dengan diksi yang digunakan Allah untuk memvalidasi kebenaran perjalanan Nabi Muhammad saw.
Penafsiran Ibnu Katsir terhadap Al-Isra’ Ayat 1
Standar keimanan Abu Bakar ini mendapatkan landasan teologis dalam Alquran, tepatnya pada Q.S. Al-Isra’ [17]: 1. Allah meletakkan kunci pemahaman atas peristiwa Isra Mikraj melalui pilihan diksi dalam ayat tersebut,
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya) agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Analisis penggunaan diksi Asra (telah memperjalankan) mengungkapkan bahwa peristiwa isra mikraj merupakan iradah Allah. Penggunaan verba pasif ini memposisikan Nabi Muhammad saw. bukan sebagai subjek yang berjalan atas kemauannya sendiri, melainkan sebagai hamba yang dipandu oleh kuasa ilahi. Hal ini menegaskan bahwa kemustahilan ruang dan waktu dalam peristiwa tersebut terjadi atas kuasa Dzat Yang Maha Memperjalankan.
Sejalan dengan itu, penyematan gelar ‘abd (hamba) dalam ayat ini adalah bentuk kemuliaan paling tinggi yang Allah Swt. berikan kepada kekasihnya. Ibnu Katsir menggarisbawahi diksi ‘abd pada momen agung ini menunjukkan bahwa puncak kemuliaan (tashrif) manusia terletak pada kemurnian nilai ubudiahnya kepada Sang Pencipta.
Lebih jauh lagi, lafaz ‘abd mencakup kesatuan ruh dan jasad yang secara otomatis telah mematahkan skeptisisme yang mengatakan bahwa peristiwa ini hanya perjalanan ruh atau mimpi Nabi Muhammad saw. belaka.
Dengan demikian, integrasi diksi asra dan ‘abd memberikan landasan yang kuat akan keotentikan Isra Mikraj. Subjek utama peristiwa ini adalah Allah, Dzat Yang Maha Kuasa, sehingga segala hukum alam yang dianggap mustahil oleh rasio manusia menjadi tidak relevan di hadapan kekuasaan-Nya.
Baca Juga: Riwayat tentang Abu Bakar dalam Tafsir Ayat Isra Mikraj
Tafsir Alquran bi Alquran
Meskipun landasan teologis atas peristiwa isra mikraj telah didapatkan dari Surah Al-Isra’ ayat 1, ayat tersebut diakhiri dengan frasa yang bersifat global. “…agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.” Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa saja wujud dari ‘tanda-tanda kebesaran’ itu?
Di sinilah munasabah antar surah yang digunakan oleh Ibnu Katsir menemukan urgensinya. Beliau tidak membiarkan narasi Al-Isra’ ayat 1 berdiri sendiri. Untuk menguak apa yang disaksikan Nabi Muhammad saw. dalam perjalanan Isra Mikraj, Ibnu Katsir merujuk pada rangkaian ayat dalam Q.S. An-Najm [53]: 13-18.
وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ ١٣ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى ١٤ عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ ١٥ اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ ١٦ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى ١٧ لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى ١٨
“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya. Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya). Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar.”
Setelah memahami landasan teologis Isra Mikraj dalam surah Al-Isra’, rincian mengenai pengalaman Nabi Muhammad saw. ketika di langit dijelaskan secara rinci dalam ayat di atas. Dalam perspektif Ibnu Katsir, ayat ini bukan sekedar narasi tambahan, melainkan sebagai penjelasan yang lebih mendalam dari klausa ‘sebagian tanda-tanda (kebesaran) kami.’
Baca Juga: Peringatan Isra-Mikraj: Refleksi Sufistik Kualitas Salat Kita
Hakikat Penglihatan Nabi dalam Surah An-Najm
Salah satu ayat yang disorot oleh Ibnu Katsir di sini adalah ayat 17, ‘Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).’ Ibnu Katsir menegaskan bahwa penglihatan Nabi Muhammad saw. atas Jibril, surga, dan lain-lainnya adalah penglihatan yang riil bukan sebatas khayalan. Ar-ru’ya (penglihatan) adalah sebuah kegiatan yang bersifat material, bukan aktivitas ruhaniyah. Diksi ini memiliki munasabah yang erat dengan diksi ‘abd yang ada pada surah Al-Isra’. Seorang hamba yang melakukan perjalanan fisik membutuhkan indera penglihatan yang nyata untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Terdapat keselarasan makna antara Al-Isra’ yang menjelaskan perjalanan ke Baitul Maqdis sebagai pusat keberkahan di bumi, dan An-Najm yang menjelaskan perjalanan menuju Sidratulmuntaha sebagai puncak Ubudiah di langit.
Rangkaian ayat ini diakhiri dengan kalimat, ‘Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.’ Dalam kacamata Ibnu Katsir, Al-Isra’ menjadi mukadimah dari perjalanan Isra Mikraj, sedangkan An-Najm memberikan bukti utama dari peristiwa ini. Pertemuan Nabi Muhammad saw. dengan Jibril dan pemandangan di Sidratulmuntaha adalah perwujudan dari ‘tanda-tanda agung’ yang dijanjikan.
Integrasi Wahyu dan Puncak Keimanan
Berdasar pada penafsiran ayat Isra Mikraj, dapat dipahami bahwa Alquran merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling menjelaskan (Alquran bi Alquran). Surah Al-Isra’ berfungsi sebagai informasi lokasi, sedangkan surah An-Najm berfungsi sebagai informasi substansi.
Penyematan gelar hamba dan deskripsi visual Sidratulmuntaha di kedua surah tersebut dijadikan landasan oleh Ibnu Katsir untuk menyatakan bahwa Isra Mikraj adalah mukjizat yang melibatkan ruh dan jasad Nabi Muhammad saw.
Kisah ini membawa pesan bagi siapapun yang merasa jalan di dunia terasa buntu, pintu-pintu langit akan selalu terbuka lebar. Melalui salat sebagai upaya agar selalu terkoneksi dengan Dzat Yang Maha Tak Terbatas. Menemukan ketenangan, di tengah keterbatasan nalar seorang hamba. Wallah a’lam



![Tafsir Al-Ahzab [33]: 33 ; Makna Wa Qarna, Tabarruj, dan Ahlul Bait](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2025/12/3d92b21b52dd7bbb4b00207287a3ec65-218x150.jpg)












![Tafsir Al-Ahzab [33]: 33 ; Makna Wa Qarna, Tabarruj, dan Ahlul Bait](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2025/12/3d92b21b52dd7bbb4b00207287a3ec65-100x70.jpg)
