BerandaTafsir TematikPeran Bahasa dan Masyarakat Arab dalam Menjaga Alquran

Peran Bahasa dan Masyarakat Arab dalam Menjaga Alquran

Pemeliharaan Alquran datang dari Allah sendiri selaku zat yang menurunkan Alquran. Dalam Q.S. Surah Al-Hijr [15]: 9 Allah berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran dan Kami (pula) yang memeliharanya.”

Dalam Tafsir Al-Munir, Wahbah az-Zuhaili menegaskan, Alquran terpelihara dari perubahan, penambahan dan pengurangan. Allah memelihara Alquran dengan menjadikan Alquran itu ajaib dan berbeda dari ucapan manusia. Pemeliharaan ini terjadi di dalam Alquran itu sendiri dan berhubungan dengan isi dan bahasa yang digunakan dalam Alquran.

Dalam Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Alquran, ath-Thabari menguraikan, terdapat pula penafsiran bahwa pemeliharaan Alquran dilakukan dengan memelihara Nabi Muhammad saw. dari musuh-musuh yang ingin mencelakainya. Pemeliharaan ini terjadi di luar Alquran dan berhubungan dengan penyebaran Alquran.

Jika ditelusuri, Alquran tetap terpelihara karena didukung oleh banyak faktor, baik dari dalam Alquran itu sendiri maupun dari luar. Tulisan ini membahas sebagian dari faktor tersebut, terutama faktor yang terjadi pada masa awal kemunculan Alquran.

Baca Juga: Berbagai Cara Allah Menjaga Al-Quran dalam Tafsir Surah Al-Hijr Ayat 9

Peran Bahasa Arab

Dalam Q.S. Yusuf [12]:2: Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Kitab Suci) Alquran berbahasa Arab agar kamu mengerti.” Dalam Tafsir Al-Munir, dijelaskan bahasa Arab merupakan bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas jangkauannya, serta paling baik dalam menyampaikan makna-makna yang timbul dalam jiwa. Berbagai potensi tersebut membuat penerima Alquran dapat memahami Alquran dengan benar.

Dalam Q.S. Al Ahqaf [46]: 12, Allah berfirman, “Sebelum (Alquran) telah ada kitab Musa sebagai imam (anutan) dan rahmat. Ini (Alquran) adalah Kitab yang membenarkan (kitab-kitab sebelumnya) yang berbahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Syekh az-Zuhaili juga menegaskan bahwa bagian dari karunia Allah dan kemudahan untuk mendapatkan petunjuk-Nya adalah Allah mengutus setiap rasul dari kalangan umatnya serta menggunakan bahasa umatnya. Rasul menjelaskan agama kepada mereka, sehingga mereka dapat memahami agama tersebut lalu menyebarkannya kepada orang lain dengan cepat dan mudah, sebagaimana dalam Q.S Ibrahim [14]: 4.

Syekh  az-Zuhaili juga menjelaskan, bahwa dengan Q.S. Maryam [19]: 97 Allah telah menjelaskan Alquran kepada Rasulullah secara rinci serta memudahkan pemahamannya. Untuk selanjutnya, Rasulullah dapat menggunakan Alquran untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang bertakwa serta dapat memperingatkan orang-orang yang berpaling dari kebenaran.

Beberapa ayat di atas menegaskan bahwa Alquran diturunkan dalam bahasa Arab. Pemilihan bahasa Arab didasari karena bahasa Arab merupakan bahasa yang paling jelas dan paling luas jangkauannya sehingga mampu menyampaikan berbagai makna, termasuk makna yang timbul dari dalam jiwa.

Baca Juga: Penjagaan Allah Terhadap Nabi Saw Menurut Alquran dan Hadis

Di sisi lain, saat pertama kali muncul, ajaran Alquran dipandang aneh. Untuk memudahkan penyampaian ajaran Alquran serta memperbesar peluang penerimaan, ajaran Alquran harus disampaikan dalam bahasa yang mudah dan sederhana serta dapat dimengerti dan dipahami oleh masyarakat awam. Bahasa Arab memiliki potensi tersebut sehingga menjadi pilihan Bahasa Alquran.

Berbagai potensi bahasa Arab membuat masyarakat Arab selaku penerima Alquran pada generasi pertama dapat memahami Alquran dengan benar. Pemahaman tersebut membuat mereka dapat mengamalkan Alquran sekaligus dapat menyebarkannya kepada orang lain secara cepat dan mudah. Penyebaran Alquran untuk selanjutnya membuat Alquran terus terpelihara dan terus berkembang hingga saat ini.

Peran Masyarakat Arab

Pemeliharaan Alquran juga tidak terlepas dari peran masyarakat Arab selaku penerima Alquran pada generasi pertama. Dalam Lentera Hati, Kisah dan Hikmah Kehidupan, M. Quraish Shihab menceritakan karakter masyarakat Arab pada saat kemunculan Alquran.

Menurut Shihab, sebagai pusat Arab, masyarakat Makkah pada saat itu belum banyak disentuh peradaban dan belum mengenal kemunafikan. Mereka juga pekerja keras dan teguh pendirian. Potensi ini membuat mereka memegang teguh ajaran Alquran serta pantang terhadap pengkhianatan dan kemunafikan.

Baca Juga: Peran Bahasa Arab dan Cabang Keilmuannya dalam Penafsiran Al-Qur’an

Pemeliharaan Alquran juga tidak terlepas dari berbagai potensi yang dimiliki Arab pada saat kemunculan Alquran. Dalam Mu’jizat Alquran Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib, M. Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa pada saat kemunculan Alquran, Arab merupakan wilayah yang menjadi jalur lalu lintas internasional yang menghubungkan dunia Timur (Kekaisaran Persia) dan dunia Barat (Imperium Romawi).

Arab pada saat itu juga merupakan sebuah wilayah yang belum dikuasai oleh Romawi maupun Persia. Penyampaian Alquran terhadap masyarakat Arab membuat Alquran terpelihara karena terbebas dari pengaruh Romawi dan Persia yang berseberangan dengan ajaran Alquran. Andaikata Alquran disampaikan di wilayah Romawi atau Persia, ajaran Alquran akan ditolak masyarakat setempat karena bertentangan dangan keyakinan mereka.

Secara geografis, Arab pada saat itu juga berada di tengah-tengah wilayah Romawi dan Persia. Masyarakat Makkah (pusat Arab) pada saat itu juga terbiasa bepergian pada musim dingin dan musim panas ke wilayah Romawi dan Persia. Berbagai potensi ini membuat mereka dapat dengan mudah menyebarkan ajaran Alquran ke belahan dunia timur maupun barat sekaligus membuat Alquran terus terpelihara bahkan berkembang ke seluruh dunia.

Akhirnya, pemilihan Arab yang mencakup bahasa dan masyarakat Arab sebagai titik awal penyebaran Alquran benar-benar merupakan sebuah pilihan dan rancangan dahsyat dari Allah swt. Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa Alquran senantiasa terpelihara sejak kemunculan hingga hari kemudian.

Wallahu a’lam

Ibnu Hajar
Ibnu Hajar
Dosen ilmu tafsir, Ma’had Aly Babussalam al-Hanafiyyah, Aceh Utara, Indonesia.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Konsep Kepemimpinan Berdasarkan Sila Kelima Pancasila

0
Dalam Pancasila terdapat nilai-nilai yang dapat menginspirasi terkait konsep kepemimpinan yang sesuai dengan semestinya, yakni sila yang kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat  Indonesia”....