Beranda Khazanah Al-Quran Mushaf Al-Quran Peran Penulis dan Penyurat Terengganu di Mushaf Nusantara

Peran Penulis dan Penyurat Terengganu di Mushaf Nusantara

Pertama-tama, penulis hendak menyampaikan disclaimer bahwa setiap naskah kuno, termasuk mushaf Alquran, memiliki keunikan dan keindahan tersendiri yang menjadi ciri khasnya. Oleh karenanya, penilaian terhadap sebuah naskah kuno boleh jadi merupakan subjektivitas peneliti.

Annabel Teh Gallop dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Studio Al-Qur’an PISM Universiti Malaysia Terengganu (UMT) (12/12/22) menyampaikan bahwa di antara mushaf-mushaf Nusantara yang dapat disejajarkan dengan mushaf lain di dunia dalam keindahannya adalah mushaf-mushaf Terengganu.

Keindahan mushaf Terengganu ini terlihat terutama dari gaya (style) yang digunakan, penggunaan warna yang terang, dalam, dan berkilau, serta kerapatan motif yang dituliskan (selengkapnya lihat pada The Art of The Malay Qur’an). Hal ini, menurut Bu Annabel, tidak terlepas dari tingginya tingkat keterampilan penulis dan penyurat asal Terengganu.

Sebagai informasi, ada perbedaan istilah yang digunakan pada literatur mushaf kuno dalam menyebut aktivitas menyalin atau menulis teks dan menggambar atau melukis iluminasi. Menyalin atau menulis teks disebut dengan redaksi menyurat (dengan kata dasar surat). Sedangkan menggambar atau melukis disebut dengan menulis (dengan kata dasar tulis). Warisan penggunaan istilah ini terlihat dari frasa batik tulis yang dalam produknya justru berisi gambar alih-alih teks atau tulisan.

Perbedaan istilah juga digunakan untuk menyebut hiasan dalam iluminasi seperti bingkai halaman, yang dalam salah satu naskah kuno disebut dengan istilah kepala. Namun, dalam penggunaan era modern kini, istilah tersebut tidak digunakan dan berpindah kepada istilah lain. Penjelasan perubahan istilah ini sebagaimana Bu Annabel dalam Dreamsea Collouium 2022 – Session 1 dengan tema Manuskrip & Keragaman Tradisi Nusantara (14/12/2022).

Baca juga: Iluminasi Terengganu dalam Mushaf Kuno Indonesia

Kembali pada mushaf Terengganu. Keterampilan para penulis dan penyurat inilah yang menyebabkan posisi penting mereka di Nusantara. Masih dari Bu Annabel, beliau memberikan “bocoran” jika Pak Ali Akbar saat ini tengah mengumpulkan informasi dan melakukan kajian terhadap penulis dan penyurat mushaf kuno di Nusantara.

Kajian ini sangat penting bagi dunia permushafan Nusantara terutama untuk mengetahui asal sebuah mushaf. Sebagaimana salah satu tujuan utama dari penelitian filologi adalah untuk menemukan asal sebuah naskah. Selain itu, kajian ini juga bermanfaat dalam melakukan pembacaan terhadap gaya atau kesenian yang digunakan mushaf kuno.

Posisi penting para penulis dan penyurat ini, berdasarkan pada bocoran Bu Annabel, dapat dilihat dari mushaf-mushaf cetakan Singapura yang tersebar di beberapa wilayah di Nusantara. Percetakan Singapura sendiri, yang aktif melakukan produksi di tahun 1860-1870, diketahui telah melakukan rekrutmen terhadap beberapa kaligraf Terengganu mengingat reputasi yang mereka miliki.

Berdasarkan informasi ini, penulis kemudian mencoba melakukan penelusuran terhadap mushaf-mushaf kuno, terutama di Indonesia, dan mendapati hasil yang cukup mengesankan. Ditemukan setidaknya ada tiga mushaf cetakan Singapura yang memiliki gaya Terengganu. Penggunaan gaya ini menjadi satu bukti penting adanya pengaruh dari penulis dan penyurat terhadap produk yang dihasilkan.

Ketiga mushaf tersebut adalah mushaf yang kini tersimpan di Masjid Agung Surakarta dan mushaf milik Elang Panji Jaya, yang dalam buku Mushaf Kuno Nusantara edisi Jawa masing-masing bernomor 7 dan 3, serta mushaf Hatuwe, Maluku, yang dalam buku Mushaf Kuno Nusantara edisi Sulawesi & Maluku berkode MA 14. Sayangnya penulis tidak mendapati gambar yang cukup baik pada mushaf milik Elang Panji Jaya untuk ditampilkan.

Mushaf Masjid Agung Surakarta nomor 7 cetakan Singapura.

Baca juga: Para Penulis Alquran di Zaman Nabi Muhammad

Dalam deskripsi yang tertera, ketiganya dijelaskan sebagai cetakan Singapura. Selain itu juga terdapat informasi lain yang memberikan penguatan, seperti penggunaan teknik cetak batu atau litografi (mushaf Hatuwe 4) dan tahun cetakan yang menunjukkan angka 1868 M. atau setara 1285 H. (mushaf Masjid Agung Surakarta).

Dari sisi tampilan, mushaf-mushaf tersebut juga menunjukkan gaya iluminasi Terengganu sebagaimana dijelaskan Bu Annabel, seperti iluminasi yang terdiri dari dua bingkai, yakni bingkai dalam yang mengelilingi teks dan bingkai luar yang merapat pada tepi kertas; kubah pada bingkai dalam yang saling berkesinambungan; serta warna yang cenderung terang.

Dari ketiga mushaf ini serta informasi yang diberikan Bu Annabel, setidaknya dapat diketahui seberapa pentingnya posisi penulis dan penyurat asal Terengganu dalam dunia permushafan Nusantara. Namun, untuk lebih pastinya, mari bersama-sama kita tunggu hasil kajian Pak Ali Akbar yang sebelumnya telah dibocorkan oleh Bu Annabel. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Baca juga: Background Sosial-Budaya Penulisan Tafsir di Nusantara Menurut Islah Gusmian

Nor Lutfi Fais
Santri TBS yang juga alumnus Pondok MUS Sarang dan UIN Walisongo Semarang. Tertarik pada kajian rasm dan manuskrip kuno.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Khaleel Ur Rahman Chishti: Pegiat Nidzam al-Qur’an Era Modern

0
Nidzam al-Qur’an adalah kajian dalam penafsiran Alquran yang memfokuskan pada aspek koherensi susunan atau struktur surah. Kajian nidzam al-Qur’an atau kestrukturan dalam Alquran ini...