Beranda Tokoh Tafsir Pionir Penulis Tafsir Tahlili di Media Massa, Bernama KH A. Musta’in Syafi’i

Pionir Penulis Tafsir Tahlili di Media Massa, Bernama KH A. Musta’in Syafi’i

Di era digital sekarang, ada banyak sekali platform yang mewartakan dan memberi ruang tafsir Al Quran hingga pembahasan piranti keilmuannya. Salah satunya adalah tafsiralquran.id, media yang sedang kita baca saat ini.

Dari berbagai kanal rubrik yang ada di tafsiralqura.id, salah satu yang patut dibaca adalah tafsir tahlili. Sebuah rubrik yang secara runtut menyajikan penafsiran ayat per ayat. Tentu tendensi ini bukan berdasarkan tema, karena tafsir berdasarkan tema disebut dengan tafsir maudhu’i.

Namun sebelum ada media tafsiralquran.id, pernahkah kita sadar bahwa ada salah satu Kyai yang sejak tahun 2000 sudah rutin menyajikan tafsir di koran dengan gaya tahlili? Beliau adalah KH. A. Musta’in Syafi’I. Kyai yang merupakan Mudir di Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang ini mengenyam pendidikan di Pesantren Tebuireng, S1 di Universitas Hasyim Asy’ari, S2 UIN Sunan Kalijaga dan S3 di UIN Sunan Ampel.

Kyai Musta’in, begitu sapaan akrabnya sejak tahun 2000 telah menyajikan rubrik khusus bernama Tafsir Al-Qur’an Aktual di Harian Bangsa. Jejak-jejak media pun mengiyakan bahwa rubrik yang diampu Kyai Musta’in ini merupakan buah trobosan yang luar biasa.

Mengapa demikian? Jawaban pastinya karena media-media sebelum itu, hanya menampilkan rubrik tafsir Al Quran secara mingguan, tengah bulanan dan bulanan belaka. Sedangkan Kyai Musta’in menyanggupi rubrik ini saban hari. Meski beliau sesekali tidak mengisi jika terkendala, namun konsistensinya patut diakui karena hingga hari ini Tafsir Aktual masih bisa kita baca.


Baca juga: Qiraat dan Tajwid, Apakah Kita Perlu Belajar Semuanya?


Format dan Gaya Penulisan Kyai Musta’in

Tentu kita bisa membaca karya-kaya KH A. Musta’in Syafi’i di Harian Bangsa, yang saat ini format digitalnya bernama bangsaonline.com. Kita bisa membaca salah satu contoh penafsiran teranyarnya pada Selasa (16/09/2020) yang berjudul Tafsir Al-Kahfi 30-31: Desainer Inggris Menyoal Warna Hijau Dalam al-Qur’an.

Kyai Musta’in mengawali dengan tulisan ayat Al-Qur’an dengan huruf Latin, bukan Arab (baca: penulisan transliterasi), kemudian di bawahnya dicantumkan terjemahan. Setelah penyebutan ayat, Kyai Musta’in langsung membahas tafsir aktual mengenai seorang desainer Inggris yang pernah menyoal warna hijau. Mengapa hijau menjadi warna pakaian favorit penghuni surga menurut Al Quran?

Sang desainer yang tidak disebutkan namanya ini secara kepakaran disebut sebagai ahli colour combining yang handal. Menurutnya, warna hijau bukanlah warna spesial, pun bukan kesukaan orang Eropa. Semula ia hanya iseng saja mempertanyakan keistimewaan warna hijau yang disebut Al Quran dalam Surat Al-Kahfi ayat 31 ini. Namun ternyata, keisengan tersebut berbuah viral dan sang desainer pun dikenal menggugat Al Quran.

Seiring berjalannya waktu, ungkap Kyai Musta’in, keistimewaan warna hijau itu Allah tampakkan dalam dua keputusan penting di Amerika dan Inggris. Pertama, warna hijau berhasil didaulat sebagai warna ruang operasi bedah dan seragam para dokter yang bertugas mengoperasi pasien. Keputusan tersebut hingga saat ini diikuti oleh seluruh rumah sakit dunia. Karena warna hijau dianggap mampu membawa ketenangan, kesejukan dan mampu meminimalisir risiko kegagalan operasi bedah, bahkan hingga nol persen.


Baca juga: Tafsir QS al-Baqarah 208: Makna Islam Kaffah


Kedua, warna hijau juga dijadikan sebagai solusi di salah satu tikungan yang rawan terjadi kecelakaan di suatu pedesaan Inggris. Banyaknya kasus kecelakaan membuat Departemen Perhubungan mengadakan seminar untuk mengatasi problem tersebut. Akhirnya ada salah satu usulan psikiater untuk menghijuakan lokasi tersebut dengan berbagai pepohonan, dan sarana lainnya. Saran itu diterima dan hasilnya angka kecelakaan turun drastis. Dari berbagai jawaban itu, Kyai Musta’in menyebut bahwa sang desainer pun akhirnya masuk Islam.

Format dan gaya penulisan Kyai Musta’in cenderung ringan dan tidak menyebut beberapa pendapat Mufassir akan hal itu. Melainkan mengambil substansi tafsir dan mengelaborasi sesuai konteks sosial yang aktual. Hal ini sejalan dengan itikad awal penulisan rubrik tafsir ini. Dalam buku kumpulan tulisan Kyai Musta’in di awal rubrik yang berjudul Tafsir Al Quran Bahasa Koran, beliau memang menggunakan sudut pandang tertentu yang anti mainstream, serta mengedapankan keaktualan dan tren sosial.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 62: Benarkah Semua Agama Setara?


Karya-karya Kyai yang aktif di organisasi Jam’iyatul Qurro’ wal Huffadz ini juga banyak dijadikan objek penelitian oleh para pengkaji tafsir Al Quran. Kepakaran Kyai Musta’in sebagai ahli Al Quran, mufassir dan kepiawaian dalam menulis membuat karya-karyanya renyah dibaca oleh siapapun.

Kita beruntung hingga saat ini bisa terus belajar dari KH A. Musta’in Syafi’i, sang pionir tafsir tahlili berbahasa koran yang alim. Semoga berkah.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Zainal Abidin
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aktif di kajian Islam Nusantara Center dan Forum Lingkar Pena. Minat pada kajian manuskrip mushaf al-Quran.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...