Beranda Tafsir Tematik Potret Persaudaraan Muhajirin dan Anshar Yang Diabadikan Al-Quran

Potret Persaudaraan Muhajirin dan Anshar Yang Diabadikan Al-Quran

Ketika hijrah ke Madinah, nabi Muhammad saw melakukan beberapa langkah strategis untuk menstabilkan posisi umat Islam di sana. Beliau memulai dakwahnya dengan mendirikan masjid sebagai pusat peradaban (center of activities), membangun persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar (ukhuwah islamiyah), serta menyatukan masyarakat Madinah yang majemuk (Ar-Rahiq Al-Makhtum).

Dalam upayanya tersebut, Rasulullah saw membuat kontrak sosial dengan segenap masyarakat Madinah atau dikenal sebagai Piagam Madinah (Constitution of Medina). Norma inilah yang nanti menjadi aturan yang harus ditaati oleh setiap penduduk Madinah dalam rangka membangun masyarakat madani. Dengannya, Rasulullah berhasil mempersatukan masyarakat Madinah yang selama itu – dianggap – tidak mungkin dipersatukan.

Tiga fondasi dasar di atas bisa dikatakan sukses, sebab pasca kedatangan nabi Muhammad saw kota Madinah berkembang pesat. Sebagai contoh, persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar juga memperkuat solidaritas dan kohesivitas sosial antar sesama umat Islam. Sehingga, mereka tidak mudah bertikai dan berperang sebagaimana watak Arab Jahiliyah (Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah dan Teladan Muhammad SAW).

Selain itu, kedatangan nabi saw ke Madinah juga membawa dampak positif terhadap ekonomi. Umat Islam bisa membangun kekuatan ekonomi melalui pasar yang dikelola oleh Abdurahman bin Auf dan mampu bersaing dengan pasar-pasar yang sudah ada. Praktik dagang umat Islam yang sesuai dengan anjuran nabi saw sedikit-demi sedikit menghapuskan monopoli dan kecurangan perdagangan yang selama ini terjadi.

Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Umat Islam Harus Mengenal Rasulullah SAW

Bagi umat Islam – mungkin – usaha mempersatukan antara Muhajirin dan Anshar adalah langkah signifikan nabi Muhammad saw yang paling dirasakan oleh mereka. Sebab ini adalah langkah yang berpengaruh terhadap setiap perkembangan dan kemajuan umat Islam di Madinah. Dengan itu, umat Islam menjadi satu kelompok masyarakat yang satu padu dan siap bergerak di bawah komando nabi saw.

Umat Islam saat itu bisa dibaratkan sebagai sebuah bangunan yang terdiri dari berbagai komponen. Setiap komponen menutupi dan menguatkan komponen lainnya. Kaum Muhajirin yang tidak membawa harta sama sekali dibantu oleh kaum Anshar. Sebaliknya, kaum Anshar yang baru mengenal Islam dibantu oleh kaum Muhajirin. Persaudaraan bahkan dikatakan lebih dari persaudaraan yang didasarkan pada ikatan darah.

Surah Al-Hasyr [59] Ayat 9: Kuatnya Persaudaraan Muhajirin dan Anshar

Potret Persaudaraan Muhajirin dan Anshar yang begitu romantis ini diabadikan oleh Allah swt dalam surat al-Hasyr [59] ayat 9 yang berbunyi:

وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ ٩

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr [59]: 9).

Menurut Quraish Shihab, surat al-Hasyr [59] ayat 9 merupakan pujian Allah swt terhadap persaudaraan dan perlakukan Anshar terhadap Muhajirin. Mereka senantiasa mencintai  dan membantu kaum Muhajirin dengan setulus hati, tanpa menginginkan balasan apapun.  Tindakan mereka itu murni karena kecintaan terhadap saudara mereka dan semata-mata mengharap rida Allah swt.

Pada hampir setiap situasi dan kondisi, mereka mengutamakan kepentingan saudara kaum Muhajirin dibandingkan kepentingan mereka sendiri sekalipun mereka memiliki keperluan mendesak. Mereka itulah mukmin sejati dan terpelihara dari kekikiran dirinya dan kekikiran yang melekat pada naluri setiap Insan. Pada akhir ayat ini Allah swt menegaskan bahwa mereka itulah orang-orang beruntung yang akan memperoleh segala yang didambakan (Tafsir Al-Misbah [14]: 115).

Pendapat serupa disampaikan oleh al-Sa’adi. Menurutnya, ayat ini berbicara mengenai kaum Anshar yang mencintai dan senantiasa menolong kaum Muhajirin sebagai bentuk cinta terhadap Allah dan rasul-Nya. Mereka tidak pernah iri dengan apa yang diberikan Allah swt kepada kaum Muhajirin. Mereka juga selalu mendahulukan kepentingan Muhajirin dibandingkan kepentingan mereka. Karena cinta Allah swt – bagi mereka – lebih utama dari keinginan diri (syahwat).

Menurut syekh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid, surat al-Hasyr [59] ayat 9 turun berkenaan dengan seorang sahabat nabi saw. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa pada suatu malam ada seorang laki-laki yang sedang menerima tamu dan ia ingin menjamunya. Namun ia sama sekali tidak memiliki makanan untuk menjamu tamu tersebut kecuali beberapa makanan yang diperuntukkan bagi anaknya.

Melihat kondisi tersebut, si laki-laki kemudian berkata kepada istrinya, “Tidurkanlah anak kita! lalu ketika hendak menyantap makanan, maka matikanlah lampu dan temanilah tamu kita seraya berpura-pura ikut menikmati hidangan.” Allah swt kemudian menurunkan ayat ini sebagai pujian bagi orang yang mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirinya. Dia menyifati orang tersebut sebagai orang yang berhasil atau sukses.

Tingginya solidaritas dan rasa persaudaraan kaum Anshar terhadap Muhajirin membuat mereka tidak segan-segan untuk berbagi, sampai-sampai ada di antara mereka yang bersedia membagi hartanya kepada kaum Muhajirin atau memberi makanan yang semestinya disiapkan untuk anak-anak mereka demi menjamu kaum Muhajirin yang kekurangan dan membutuhkan bahan pangan.

Baca Juga: Pemeliharaan Al-Quran Pada Masa Nabi Muhammad Saw

Sikap kaum Anshar ini Allah swt gambarkan dengan frasa walau kana bihim khashasah, yakni meskipun mereka juga memerlukan. Pada mulanya, Khashasah berarti khashasah al-bayt yakni lubang yang terapat pada satu rumah atau bangunan. Kata ini kemudian juga diartikan sebagai kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi, persis seperti lubang yang tidak berhasil ditutup (kekurangan) (Tafsir Al-Misbah [14]: 118).

Dalam konteks surat al-Hasyr [59] ayat 9, Allah swt memberitahukan kepada kita tentang begitu mulianya tindakan kaum Anshar yang siap sedia memberikan pertolongan kepada Muhajirin berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal meskipun pada saat yang bersamaan mereka kekurangan dan membutuhkan itu semua. Mereka memberi bukan karena memiliki kelebihan, tetapi semata-mata karena mereka mencintai Allah swt dan rasul-Nya.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa Allah swt memuji mereka – tidak hanya kaum Anshar – yang mau membantu sesama dengan tulus dan ikhlas, tidak mengharapkan apapun kecuali rida Allah swt semata. Ini adalah sikap yang harus dimiliki setiap mukmin, yakni sikap berani berkorban demi kepentingan orang lain secara proporsional. Mereka yang memiliki sikap ini, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Zikir bagi pelajar

Tafsir Tarbawi: Tiga Zikir yang Harus Diamalkan oleh Pelajar

0
“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati,” demikianlah sabda...