Beranda Tafsir Tematik Rahasia Dibalik Perintah Shalat dalam Al-Qur’an (Perspektif Prof. Dr. Nashruddin Baidan)

Rahasia Dibalik Perintah Shalat dalam Al-Qur’an (Perspektif Prof. Dr. Nashruddin Baidan)

Shalat menurut bahasa berarti do’a. Sedangkan menurut istilah fukoha’ shalat adalah perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri salam dengan syarat-syarat tertentu (Asmaji Muchtar: 2015). Ibadah ini disebut dengan “shalat” karena hampir semua bacaan yang terkandung dalam ibadah ini merupakan lafaz do’a, dan merupakan rangkaian aktivitas penghambaan yang berorientasi permohonan kepada Allah (Jefri Noer: 36). Menariknya, tulisan ini akan mengulas tentang rahasia dibalik perintah shalat dalam Al-Qur’an yang diambil dari perspektif Prof. Dr. Nashruddin Baidan.

Kewajiban Shalat lima waktu telah ada sejak peristiwa isra’ mi’raj yang dialami Rasulullah saw. Shalat bertujuan untuk mengingat Allah dan merupakan bentuk manivestasi pentauhidan tertinggi hamba kepada Tuhannya (Abu Anas Karim Abdullah Al-Maqdishy: 2009). Banyaknya pengulangan lafaz “ ٱلصَّلَوٰة  di dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwasanya shalat merupakan ibadah yang paling penting. Sebagaimana dalam rukun islam, shalat disebut pada urutan kedua setelah syahadat. Tentuntya hal ini juga menyimpan makna tentang pentingnya shalat.

Baca juga: Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (4): Surah Maryam Ayat 33

Perintah Shalat dalam QS. Thaha Ayat 14

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ

Artinya : “Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.”

Thaha ayat 14 tersebut, memberikan kita pemahaman bahwasanya yang terlebih dahulu diwahyukan kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul ialah tentang Allah. Bahwa Allah itu satu dan berdiri sendiri. Tiada Dia bersekutu dengan yang lain. setelah mantapnya keyakinan mengenai Allah (Aqidah). Maka datanglah perintah untuk menyembah Allah dan mendirikan shalat guna menjadikan diri selalu ingat kepada Allah. Adanya perintah mengerjakan shalat adalah upaya agar tetap mengingat Allah (Tafsir Al-Azhar:5, 542).

Dari Q.S Thaha Ayat 14 dapat kita lihat bahwasannya yang ditekankan oleh Allah pertama kali adalah masalah aqidah, lalu dilanjutkan dengan kewajiban menyembah Allah SWT yang salah satunya dilakukan dengan shalat. Dalam hadits Nabi Saw juga disebutkan bahwasanya  shalat adalah tiang agama, barangsiapa yang menegakkannya, maka ia telah menegakkan agamanya dan barangsiapa yang merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agamanya. (H.R Baihaqi).

Baca juga: Berikut Empat Macam Pujian Allah Untuk Rasulullah dalam Al-Qur’an

Makna dari redaksi “Mendirikan Shalat” menurut Prof. Nashruddin Baidan

Di dalam Al-Qur’an selalu saja terdapat perintah untuk mendirikan shalat dengan lafaz dari – يقيم أقام dan derivasinya, mengapa demikian? Mengapa Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan kita untuk melakukan ataupun menggunakan lafaz lainnya seperti فعل dan lain sebagainya?. Lafaz “Aqama” dapat diartikan dengan kata “mendirikan”. Pemberian arti mendirikan tersebut dirasa sangat cocok dalam konteks sholat.

Prof. Dr. Nashruddin Baidan, ahli tafsir yang berasal dari Surakarta, sekaligus guru besar Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta menganalogikan peristiwa  tersebut dengan mendirikan dan membangun sebuah rumah. Secara logis, orang yang melakukan proses pembangunan (membangun) rumah adalah developer. Sedangkan orang yang mendirikan rumah adalah si pemilik rumah. Maka dari itu, Al-Qur’an menggunakan kata “dirikanlah”, bukan “lakukanlah, buatlah/ kerjakanlah”. Ketika pekerjaan developer untuk membangun rumah sudah selesai dan developer memberikan kunci kepada pendiri rumah, maka developer sudah tidak turut andil dalam penataan serta penghiasan rumah tersebut. Sedangkan si pendiri rumah masih punya banyak kewajiban yang diantaranya adalah merawat, membersihkan serta menghias rumah tersebut

Dari analogi tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwasanya kita tidak hanya diperintahkan untuk melakukan sholat, tetapi juga istiqomah dalam melakukannya serta terus memperbaiki dan mempertahankan kualitas sholat kita. Hal itu dilakukan agar kita tidak semata-mata melakukan gerakan sholat tanpa memetik buah dari sholat kita. Karena sholat akan memberikan dampak-dampak positif bagi orang yang melaksanakannya.

Baca juga: Tafsir Surah an-Nisa’ Ayat 43: Menguak Makna Lamastum dalam Ulama Mazhab

Pesan yang dapat kita tangkap dari perintah sholat seperti dalam QS. Thaha ayat 14 tersebut dan ayat-ayat sejenisnya yaitu Allah menggunakan redaksi – يقيم أقام dan derivasinya dengan maksud agar manusia menangkap pesan tersirat bahwasanya manusia tidak hanya diperintahkan untuk sekedar melakukan shalat dan menggugurkan kewajiban, namun juga harus menjaga, merawat dan menghiasinya. Hal tersebut dilakukan agar tercapai hal-hal yang positif yang akan kita dapatkan dari proses mendirikan shalat, seperti mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut ayat 45).

Anggit Sutraningsih
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Raden Mas Said Surakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Khalifah Allah

Kedudukan Manusia Sebagai Khalifah Allah Swt di Muka Bumi

0
Kata khalifah secara harfiah diartikan dengan “pengganti, wakil.” Khalifah Allah berarti pengganti Allah, atau wakil Allah. Khalifatullah fil ardh, artinya “pengganti atau wakil Allah...