Beranda Tafsir Tematik Refleksi Surah Ghafir ayat 61: Anjuran Istirahat dan Bekerja

Refleksi Surah Ghafir ayat 61: Anjuran Istirahat dan Bekerja

Selain bekerja tubuh manusia membutuhkan waktu istirahat untuk menstimulasi dan meregenerasi energi yang sudah dipakai untuk bekerja. Setiap manusia membutuhkan istirahat. Istirahat dan bekerja adalah bentuk work life balance yang harus termanajemen dengan baik oleh manusia sehingga terwujud kehidupan yang seimbang dan berkualitas.

Bentuk istirahat tentunya bermacam-macam, namun para pakar kesehatan sepakat bahwa tidur merupakan cara istirahat yang paling manjur bagi tubuh. Dalam konteks ini, Islam sebagai agama yang memerhatikan segala sesuatu bagi manusia juga membahas perihal bekerja dan istirahat. Karenanya Allah SWT menciptakan siang dan malam pasti bukan tanpa tujuan, di dalamnya terkandung makna dan rahasia yang bermanfaat bagi manusia.

Memaknai Waktu Siang dan Malam

Sebagai bahan refleksi, mari kita perhatikan firman Allah Swt dalam Surah Ghafir [40] ayat 61 sebagai berikut:

 اَللّٰهُ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ لِتَسْكُنُوْا فِيْهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ ٦١

“Allah-lah yang menjadikan malam untukmu agar kamu beristirahat padanya; (dan menjadikan) siang terang benderang. Sungguh, Allah benar-benar memiliki karunia yang dilimpahkan kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”

Allah SWT menciptakan siang yang benderang juga malam yang dingin dan tenang pasti bukan tanpa tujuan, di dalamnya terkandung makna dan rahasia yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Misalnya sebagaimana firman Allah SWT di atas, Surah Ghafir [40] ayat 61 tersebut dalam Tafsir Al-Munir karya Wahbah Al-Zuhaili masuk kepada kelompok ayat yang membahas mengenai keberadaan dan kekuasaan Allah SWT, yakni mulai dari ayat 57 sampai ayat 65.

Adapun mengenai ayat 61, Al-Zuhaili memberikan penafsiran bahwa ayat tersebut menjelaskan salah-satu wujud kekuasaan Allah Swt, yakni menciptakan pergantian siang dan malam. Selanjutnya dalam ayat tersebut, ‘Aidh Al-Qarni dalam Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa malam Allah Swt jadikan gelap dan sejuk yang berfungsi untuk “litaskunu” atau menenangkan diri, istirahat, dan revitalitas setelah banting tulang di waktu siang.

Sementara frasa “wa an-nahara mubshira” menurut Al-Zuhaili bermakna bahwa Allah SWT menjadikan siang terang benderang agar manusia dapat melihat dengan jelas kebutuhannya, bekerja banting tulang, mencari okupasi, melakukan mobilisasi, dan beberapa kemaslahatan lainnya. Hal ini menegaskan bahwa nikmat tersebut sebaiknya dimanfaatkan secara maksimal oleh manusia untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera.

Istirahat dan Bekerja sebagai Wujud Syukur

Kita sama-sama sepakat bahwa manusia memerlukan waktu untuk bekerja dan beristirahat. Kedua hal tersebut sama pentingnya untuk kemaslahatan manusia. Dalam ayat di atas, Allah SWT secara eksplisit memberikan tuntunan dan anjuran kepada manusia untuk memanfaatkan waktu siang dan malam dengan sebaik-baiknya. Siang diciptakan terang untuk banting tulang, sedangkan malam diciptakan sejuk untuk istirahat.

Menurut Al-Zuhaili, setelah memberikan tuntunan dan anjuran tersebut Allah Swt menjelaskan bahwa adanya siang dan malam merupakan wujud kekuasaan (fadhl) dan nikmat untuk manusia. Sementara manusia seringkali lupa dan kufur terhadap nikmat tersebut (QS. 22: 66; 34: 13). Banyak di antara manusia yang tidak memanfaatkan adanya siang untuk bekerja, atau adanya malam untuk beristirahat dan tidur. Manusia lupa bahwa sesungguhnya dibalik penciptaan siang dan malam beserta fungsinya mengandung kemaslahatan dan rahasia yang agung. Syahdan, hal tersebut merupakan salah satu wujud dari kufur nikmat.

Oleh karena itu, seyogianya kita sebagai manusia benar-benar memanfaatkan anugerah dan karunia Allah SWT tersebut. Tentunya kita sendiri dapat sadari betul bagaimana Allah Swt menciptakan siang begitu terang dan wujud syukur kita adalah dengan bekerja di waktu itu, begitu pun malam yang telah Allah Swt ciptakan begitu sejuk dan tenang maka wujud syukur kita adalah dengan memanfaatkannya untuk beristirahat. Sehingga kemudian kita dapat menemukan esok hari yang kembali segar dan lebih bersemangat. Wallahu a’lam.

Ayi Yusri Ahmad Tirmidzi
Mahasiswa Magister PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bisa disapa di FB: Ayi Yusri Ahmad Tirmidzi dan IG: @ayiyusrilisme
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

0
Ketika menjadi pemimpin, seseorang hendaknya memiliki kepribadian yang baik dan mampu memimpin anggotanya dengan baik pula. Selain itu, pemimpin juga seringkali dituntut dapat mengambil...