Beranda Ulumul Quran Riwayat Israiliyyat Batil dalam Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

Riwayat Israiliyyat Batil dalam Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

Dalam Ilmu Al-Quran, dikenal istilah riwayat israiliyyat. Pengertiannya yang paling sederhana, riwayat israiliyyat adalah riwayat-riwayat yang bersumber dari para ahli kitab Yahudi atau Nasrani.  Tapi salah satu ulama pemerhati tafsir, Husein al-Dzahabi, memperluas cakupan sumbernya menjadi semua hal di luar Islam dan tidak hanya terbatas pada Yahudi atau Nasrani saja. (ad-Dakhil fit-Tafsir, Ulinnuha, 132)

Riwayat israiliyyat dapat dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, sahih dan sesuai ajaran Islam. Tipe ini boleh diterima dan diriwayatkan. Kedua, tawaqquf. Dalam kajian israiliyyat, ini berarti tidak ditemukan penjelasan/alasan untuk membenarkan atau menentang riwayat tersebut. Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang kebolehan periwayatannya. Kategori terakhir, adalah batil/bohong dan bertentangan dengan ajaran agama. Jenis ini tidak boleh dinukil kecuali dengan menyebut status riwayat tersebut.

Baca juga: Kisah Al-Quran: Ratu Balqis, Pemimpin Perempuan nan Demokratis dan Diplomatis

Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran, penyebutan kisah masyhur ini menempati porsi khusus di surah al-Naml. Tokoh kunci yang mempertemukan keduanya adalah burung Hud-Hud.  Alkisah, nabi Sulaiman memeriksa rombongan bala tentaranya dan tidak menemukan Hud-Hud. Burung itu tiba kemudian dengan membawa kabar  tentang negara Saba` yang rakyatnya tidak menyembah Allah.

Menguji kebenaran berita itu, Nabi Sulaiman berinisiatif mengirim surat berisi ajakan ketauhidan dengan mengutus Hud-Hud. Kejadian ini diabadikan dalam Surat An-Naml ayat 27-28:

قَالَ سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ
ٱذْهَب بِّكِتَٰبِى هَٰذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَٱنظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ

“Dia (Sulaiman) berkata, “ Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta””

“Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”

Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman Dalam Al-Quran: Kepribadiannya Sebelum Menjadi Raja

Sebagai balasan atas surat itu, ratu Balqis terlebih dahulu mengutus orang-orangnya dengan membawa hadiah untuk mempertimbangkan keputusan selanjutnya. Tapi hadiah itu ditolak oleh nabi Sulaiman sembari berpesan pada para utusan itu bahwa dia akan datang ke negeri Saba` bersama pasukannya.

Ayat-ayat Al-Quran yang memuat kisah ini selanjutnya menceritakan tentang nabi Sulaiman yang berusaha memindahkan singgasana ratu sebelum Balqis datang. Dari sekian rakyatnya, yang berhasil melakukannya  dengan cepat adalah seorang ‘alim. Nabi Sulaiman kemudian meminta singgasana itu dimodifikasi sedemikian rupa untuk menguji Balqis.

Saat Balqis tiba, nabi Sulaiman menanyakannya tentang singgasana itu, apakah Balqis mengenalinya atau tidak. Yang dijawab dengan kalimat, seakan-akan itulah dia. Selain itu, Balqis juga diajak memasuki istana berlantai kaca bening beralaskan air. Mengira itu adalah kolam, Balqis melangkah masuk dengan menyingkap penutup kedua betisnya.

Nabi Sulaiman justru berkata, sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca. Lantas, menyadari betapa agung ilmu dan kekayaan nabi Sulaiman, ratu Balqis akhirnya berujar, Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam. (QS. al-Naml [27]: 44)

Riwayat Israiliyyat Batil Berkenaan dengan Kisah Nabi Sulaiman dan Balqis

Riwayat ini menjelaskan ayat-ayat kisah tentang singgasana dan istana berlantai kaca. Salah satu tafsir yang memuat riwayat israiliyyat ini adalah Tafsir al-Khazin.

“Dikatakan bahwa penyebab Nabi Sulaiman ingin memindahkan singgasana Ratu ke kerajaannya—sebagaimana diriwayatkan dari Wahb dari Muhammad ibn Ka’b dan dari selain keduanya—, bahwa setan khawatir nabi Sulaiman menikahi Balqis. Karena ibu Balqis adalah keturunan jin, dan mereka takut saat Balqis melahirkan anak, mereka akan mengabdi dan menjadi budak nabi Sulaiman selamanya. Maka mereka mengatakan hal-hal yang buruk (tentang Balqis) kepada nabi: “Sesungguhnya pada akalnya (Balqis) terdapat sesuatu dan kakinya serupa himar (keledai). Demi mendengar hal tersebut, nabi Sulaiman ingin menguji kecerdasan Balqis dengan memindahkan singgasananya dan membangun istana untuk membuktikan ucapan setan dengan melihat kedua betisnya” (Tafsir al-Khazin [3]: 348)

Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis Dalam Al-Quran

Muhammad Abu Syahbah, pengajar Ilmu Al-Quran dan Hadis di al-Azhar Kairo, sekaligus penulis Israiliyyat dan Hadis-Hadis Palsu Tafsir Al-Quran, mengkritisi riwayat di atas di dalam bukunya. Syahbah mengomentari, bahwa yang diinginkan nabi Sulaiman dengan pemindahan singgasana dan pembangunan istana tidak lain adalah untuk memperlihatkan kebesaran kekuasaan serta kemajuan peradaban yang dianugerahkan kepadanya, yang tidak dimiliki Balqis.

Lebih lanjut Syahbah mengatakan, bahwa dengan segala nikmat dan kekuasaan yang luar biasa, mustahil bagi nabi Sulaiman untuk membangun istana hanya demi tujuan duniawi. Dia lebih mulia dan agung dari semua itu. Wallahu a’lam[]

Fauziah
Alumni Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

dari pencatatan manual ke pengelola keuangan digital

Surah Al-Baqarah Ayat 282: dari Pencatatan Manual ke Aplikasi Pengelola Keuangan

0
Melihat begitu kompleksnya kebutuhan manusia, dan beberapa keahlian yang berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lain, mendorong manusia untuk saling berinteraksi sosial yang...