Beranda Ulumul Quran Sepuluh Pijakan Ilmu Rasm Utsmani Yang Patut Diketahui

Sepuluh Pijakan Ilmu Rasm Utsmani Yang Patut Diketahui

Lazimnnya setiap awal pembahasan suatu disiplin ilmu, para pengkaji harus mengetahui secara umum dasar pijakannya. Dasar-dasar tersebut oleh para ulama sering disebut dengan mabâdiꞌ ʻasyrah. Al-Shabbân (w. 1206 H/1791 M) dalam Hâsyiyah ʻalâ Syarh al-Sullam li al-Malawî menghimpun sepuluh pokok dasar pijakan ilmu Rasm Utsmani dalam sebuah gubahan syairnya;

إِنَّ مَبَادِئَ كُلِّ فَنٍّ عَشْرَة ** الحَدُّ وَالمَوْضُوْعُ ثُمَّ الثَمْرَة

وَفَضْلُهُ وَنِسْبَةٌ وَالوَاضِعُ ** الاِسْمُ – الاِسْتِمْدَادُ – حُكْمُ الشَّارِعِ

مَسَائِلُ وَالبَعْضُ بِالبَعْضِ اكْتَفَى ** وَمَنْ دَرَى الجَمِيْعَ نَالَ الشَرَفَا

Setiap disiplin ilmu pasti mempunyai sepuluh pijakan, yakni;

Definisi; objek sasaran pembahasan; juga fungsi;

Keutamaan; korelasi; serta penggagas;  

Nama; sumber; juga hukum mempelajari;

dan permasalahan. Semua itu cukup kiranya.

Siapapun yang tahu pasti mulia.

  1. Definisi (Hadd) Ilmu Rasm ʻUtsmânî.

Rasm secara bahasa mempunyai dua arti asal; pertama atsar (bekas) -demikian terang Ibn Manzhûr dalam Lisân al-Arab– dan kedua –menurut Ibn Fâris dalam Maqâyîs al-Lughahdharb min as-sair (cara berjalan). Sebab menulis itu membutuhkan menjalankan yakni menggoreskan pena sehingga meninggalkan bekas berupa tulisan. Sedangkan term ʻUtsmânî merupakan penisbatan kepada khalifah ketiga ʻUtsmân bin ʻAffân ra (w. 35 H/656 M) yang memerintahkan penyalinan dan penulisan mushaf yang sampai pada kita saat ini, demikian keterangan Abû Muhammad Abdullah al-Shanhâjî dalam al-Tibyân fî Syarh Mawrid al-Zhamꞌân

Penggabungan dua term rasm dan ʻutsmânî oleh Abû Syuhbah (w. 1403 H/1983 M) dalam al-Madkhal li Dirâsah al-Qurꞌân al-Karîm didefinisikan dengan tulisan kata-kata dan huruf-huruf Al-Qurꞌan yang disepakati oleh ʻUtsmân bin ʻAffân ra (w. 35 H/656 M) beserta para sahabat lainnya dalam mushaf-mushaf yang dikirim ke berbagai daerah dan mushaf al-imâm (master) yang beliau simpan sendiri. Produk rasm ʻutsmânî ini selanjutnya dijadikan sebagai standar penulisan Al-Qurꞌan.  

Baca juga: Pengaruh Jawa dalam Tradisi Penyalinan Mushaf di Lombok

Sementara pengertian disiplin ilmu rasm ʻutsmânî kurang lebih berarti berkutat pada dua pengertian berikut: 1). mayoritas literatur Rasm Utsmânî mendefinisikannya dengan ilmu untuk mengetahui perbedaan tulisan al-mashâhif al-ʻutsmâniyyah dengan kaidah tulisan Arab pada umumnya (al-rasm al-qiyâsî/al-imlâꞌî). 2). Menurut al-Tanasî (w. 899 H/1494 M) dalam Al-Thirâz Fî Syarh Dlabth al-Kharrâz ilmu rasm ʻutsmânî ialah ilmu yang membahas tentang penambahan, pengurangan dan penggantian huruf serta penyambungan dan pemisan tulisan.

Dua definisi di atas sebenarnya saling melengkapi satu di antara yang lainnya. Tidak ada perbedaan yang bertentangan antara keduanya. Hanya saja definisi al-Tanasî (w. 899 H/1494 M) lebih cenderung sebagai penjelas perbedaan tulisan rasm ʻutsmânî dengan kaidah rasm al-imlâꞌî. Sehingga definisi ilmu rasm ʻutsmânî yang komprehensif adalah dengan menggabungkan dua pengertian di atas. Ilmu rasm ʻutsmânî adalah ilmu untuk mengetahui perbedaan tulisan mushaf-mushaf ʻUtsmân dengan kaidah penulisan Arab pada umumnya (rasm al-imlâꞌî) seperti penambahan (al-ziyâdah), pengurangan (al-hadzf) dan penggantian huruf (al-ibdâl) serta penyambungan dan pemisan tulisan (al-washl dan al-fashl).

  1. Objek Pembahasan (Maudhû) Ilmu Rasm ʻUtsmânî

Sasaran dari pembahasan ilmu rasm ʻutsmânî –menurut Ibrâhîm bin Ahmad al-Marghani al-Tûnisî dalam Dalîl al-Hayrân ʻAlâ Mawrid al-Zhamꞌân– berkutat pada huruf-huruf al-mashâhif baik yang dibuang, ditetapkan, ditambah, dikurangi, dipisah, disambung dan seterusnya.

Baca juga: Pesan Gus Awis: “Galilah Khazanah Tafsir dengan Manhaj Ulama Kita!”

  1. Fungsi (Tsamrah) Ilmu Rasm ʻUtsmânî

Salah satu fungsi utamanya sebagai barometer validitas varian qirâꞌât yang bisa diterima, demikian jelas Dalîl al-Hayrân.

  1. Keutamaan dan Keistimewaan (Fadhl) Ilmu Rasm ʻUtsmânî

Merujuk pada Miftâh al-Amân Fî Rasm Al-Qurꞌan karya Ahmad Mâlik Hammâd al-Fûtî, ilmu rasm ʻutsmânî mempunyai keutamaan yang tidak dimiliki disiplin ilmu lainnya sebagaimana keutamaan Al-Qurꞌan (kalâm Allah) dibanding kalam yang lain.

  1. Hubungannya (Nisbah) dengan Ilmu Ke-Al-Quran-an Lainnya

Relasi kuat ilmu rasm ʻutsmânî dengan ilmu qirâat terwujud dalam salah satu syarat kesahihan qirâat harus sesuai dengan rasm ʻutsmânî. Mengingat satu bentuk tulisan bisa mengakomodir berbagai ragam qirâꞌât. Sementara relasinya dengan tafsir bisa mengindikasikan makna yang tersembunyi dibalik sebuah kata. Selain itu keterhubungannya dengan bahasa Arab adalah memberikan contoh sebagian dialek bahasa Arab yang fasih dan menunjukkan asal harakat dan huruf suatu kata.

Baca juga: Tafsir Ibnu Abbas: Mengenal Dua Kitab yang Menghimpun Penafsiran Ibnu Abbas

  1. Pencetus (Wâdhi’) Ilmu Rasm ʻUtsmani

Ditemukan silang pendapat mengenai pencetus ilmu rasm utsmânî. Menurut pendapat yang kuat, sebagaimana disebutkan oleh Ahmad Muhammad Abû Ziethâr dalam Lathâꞌif al-Bayân fî Rasm al-Qurꞌân pencetus disiplin ilmu adalah para sahabat ra dengan segala hikmah dan rahasia di balik kemulian dan keutamaan mereka. Namun pendapat lain yang disebutkan Ahmad Mâlik Hammâd al-Fûtî dalam Miftâh al-Amân Fî Rasm Al-Qurꞌan menyatakan bahwa pencetusnya adalah para ulama amshâr (Beberapa wilayah yang dikirimi al-mashâhif al-ʻutsmâniyyah). Bahkan ada juga yang berpendapat, pencetusnya adalah Nabi saw sendiri karena melihat status ke-tawqîfî-an rasm ʻutsmânî, demikian jelas Abdurrahmân Yûsuf al-jamal dalam tulisannya Atsar Ikhilâf al-Qirâꞌât al-Qurꞌâniyyah fî al-rasm al-ʻutsmânî.

  1. Sebutan Nama (Ism)

Ahmad bin Muʻammar Syirsyâl menjelaskan dalam Mukhtashar al-Tabyîn li Hijâꞌ al-Tanzîl li Abû Dâwûd Sulaimân bin Najâh; Dirâsah wa Tahqîq. Dalam bahasa Arab, para Ulama menggunakan istilah ‘tulisan’ selain term rasm. Beberapa istilah tersebut di antaranya; al-Kitâb, al-Hijâꞌ, al-Khath, dan rasm sendiri. Penggunaan term-term tersebut berkembang seiring berjalannya waktu. Dari beberapa istilah ini, bisa disimpulkan bahwa sebutan untuk ilm rasm ʻustmânî tidak hanya satu nama saja. Perlu diketahui bahwa term al-Kitâb dan al-Hijâꞌ merupakan istilah penulisan yang banyak digunakan oleh ulama mutaqaddimîn (terdahulu). Kemudian istilah itu berubah menjadi al-khath dan al-rasm saat memasuki era ulama mutaꞌakhkhirîn.

Akhirnya istilah ilm rasm ʻustmânî oleh para ulama disebut menjadi beberapa sebutan nama, yakni; hijâꞌ al-mushhaf, khathth al-mushhaf, khathth ʻutsmânî, rasm al-mushhaf, rasm ʻustmânî, ʻilm al-rasm, al-khathth al-ishthilâhî dan rasm ishthilâhî. Disebut ishthilâhî karena rasm dinisbatkan pada istilah para sahabat. Dari beberapa sebutan nama di atas, nama rasm ʻustmânî merupakan sebutan yang paling masyhur dan sering digunakan hingga dewasa ini.

  1. Sumber (Istimdâd) Ilmu Rasm ʻUtsmânî

Lathâꞌif al-Bayân menerangkan disiplin ilmu ini bersumber dari konsensus para sahabat dalam penulisan al-mashâhif. Namun Sâlim Muhaisin dalam al-Fath al-Rabbânî menyebutkan, sumbernya adalah karya para ulama pakar rasm ʻutsmânî yang dirumuskan berdasarkan al-mashâhif. Bahkan dalam Miftâh al-Amân disebutkan ilmu ini bersumber dari ilham Allah swt bagi Nabi saw berupa petunjuk bagi para penulis wahyu, al-mashâhif al-ʻutsmâniyyah, dan mushaf-mushaf salinan selanjutnya. Sumber yang lain juga berasal dari kaidah sharf dan nahwu, imbuh Handâwî Jâmiʻ al-Bayân fî ma’rifah rasm al-Qurân.

Baca juga: Berkat Kegigihan Muslimah Memperjuangkan Keadilan, Firman Allah Turun dalam Surat Mujadilah

  1. Hukum (Hukm asy-Syâri’) Ilmu Rasm ʻUtsmânî

Mempelajari ilmu rasm ʻutsmânî –menurut Ahmad Muhammad Abû Ziethâr dalam Lathâꞌif al-Bayân dan Ahmad Mâlik Hammâd al-Fûtî dalam Miftâh al-Amân– hukumnya adalah fardlu kifâyah. Sehingga semua penduduk suatu wilayah berdosa jika tidak ada satu pun di antara mereka yang menguasainya.

  1. Pembahasan Materi (Masâ’il) Ilmu Rasm ʻUtsmânî

Dalam kitab Samîr al-Thâlibîn fî Rasm wa Dlabth al-Kitâb al-Mubîn karya Ali Muhammad al-Dlabbâʻ, pembahasan materi ilmu rasm ʻutsmânî seperti pembuangan huruf alif setelah nûn dlamîr al-rafʻ al-muttashil untuk kata ganti nahnu yang bersambung langsung dengan dlamîr al-mafʻûl seperti ﴿زِدْنٰهُمْ﴾ dan ﴿عَلَّمْنٰهُ﴾. Wallâhu A’lam[]

Ali Fitriana Rahmat
Guru Ngaji dan Dosen di STKQ Al-Hikam Depok
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tirakat dalam menuntut ilmu

Tafsir Tarbawi: Perintah Tirakat dalam Menuntut Ilmu

0
Bagi pelajar, tirakat atau riyadhah merupakan suatu keharusan jika ingin ilmunya berkah dan bermanfaaat. Dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya K.H. Hasyim Asy’ari dikatakan...