Beranda Khazanah Al-Quran Mushaf Al-Quran Signifikansi Manuskrip Sana'a bagi Ulumul Qur'an (Bagian 3)

Signifikansi Manuskrip Sana’a bagi Ulumul Qur’an (Bagian 3)

Salah satu diskusi paling penting dalam manuskrip Sana’a adalah temuan teks bawah yang berbeda dari mushaf Utsmani yang kini digunakan oleh semua muslim sedunia. Penting untuk dicatat bahwa manuskrip model palimpsest sangat jarang ditemukan dalam dunia Islam, apalagi dengan teks bawah yang berupa Alquran juga.

Selain dari temuan teks bawahnya, teks atasnya pun tidak kalah menarik karena mengembalikan diskusi tentang huruf alif dalam Alquran yang selama ini dipahami oleh para orientalis bahwa Alquran sebelum masa Hajjaj tidak mengandung huruf alif.

Temuan dalam Scriptio Superior

Hasil penanggalan manuskrip Sana’a memang sangat menarik. Selain hasil penanggalan Sadeghi-Bergmann, Michael Josef Marx dan Tobias J. Jocham (2019: 216) juga melakukan penanggalan radiokarbon atas manuskrip DAM 01-27.1 di Sana’a dengan hasil kemungkinan 95.4% berasal dari 606–649 M/16 SH–29 H.

Hasil penelitian Marx-Jocham memperkuat tesis Sadeghi bahwa manuskrip ini berasal dari masa Sahabat atau pasca wafatnya Nabi Muhammad, bahkan mungkin bisa jadi lebih awal lagi.

Mengikuti metode yang digunakan oleh Yasin Dutton yang membandingkan bacaan manuskrip dengan sumber-sumber awal tentang bacaan-bacaan tiap kota, Sadeghi menemukan bahwa scriptio superior konsisten dengan Mekkah, Madinah, Yaman maupun Mesir.

Bagaimana kita bisa melihatnya? Tradisi Islam mengatakan bahwa Utsman menyimpan satu mushaf di Madinah, dan mengirim mushaf kopiannya ke Kufah, Basrah, Syam, Mekkah, Yaman, dan Bahrain. Sumber-sumber awal mencantumkan bahwa masing-masing mushaf memiliki karakter penulisan atau rasm yang khas dan unik.

Dari beberapa karakter tersebut, Sadeghi menggunakan dua tipe varian yang membantu untuk menemukan sumber geografis manuskrip ini, yakni (1) perbedaan rasm dalam mushaf dan (2) penanda pemisah ayat yang berbeda-beda. Kedua tipe ini dianggap paling berguna lantaran adanya keterbatasan yang sulit ditemukan di dalam fragmen.

Misalnya, manuskrip tidak memberikan perbedaan كتب dengan كاتب, karena penggunaan hamzah dalam rasm sebelum masa Utsmani belum semasif sekarang. Penelitian Marijn van Putten tentang hal ini sangat baik untuk dibaca bagi yang ingin mendalami topik tersebut. Dalam kasus seperti ini, sulit untuk menjadi indikator geografis dan perlu beberapa contoh lain yang mampu membantu kita menentukan letak asal manuskrip.

Salah satu contoh yang eksis di manuskrip Sana’a ini adalah kata انحيتنا (anjaytanā) dalam Q.S. al-An’am [6]: 63 yang berbeda dengan mushaf Kufah yang menulis انجٮنا (anjānā). Contoh lain adalah bacaan ان تاتيهم (an ta’tiyahum) yang hanya ada di mushaf Mekkah dan Kufah, sementara mushaf lainnya menulis ان تاتهم (in ta’tihim).

Untuk penanda pemisah ayat, hal ini juga nampak beberapa kali dalam manuskrip Sana’a. Kitab karangan Abu ‘Amru al-Dani berjudul al-Bayan fi ‘Add Ayy al-Qur’an sangat penting sebagai pembanding. Dua contoh, misalnya, nampak pada Q.S. al-Waqi’ah [56]: 18 di mana manuskrip Sana’a waqaf pada وَأَبَارِيقَ serta ayat 25 yang tidak waqaf pada penggalan وَلَا تَأْثِيمًا sebagaimana mushaf Mekkah dan Madinah.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Manuskrip Sana’a (Bagian 1)

Temuan dalam Scriptio Inferior

Untuk sekian lama, scriptio inferior manuskrip Sana’a merupakan objek penelitian yang menarik. Yang paling signifikan, ialah bagaimana ia berbeda dengan mushaf Utsmani yang saat ini digunakan secara universal oleh umat muslim.

Namun ia tidak benar-benar berbeda dengan mushaf Utsmani; masing-masing perbedaannya sebenarnya serupa dengan yang biasa kita temui dalam perbedaan susunan surah para sahabat, perbedaan bacaan, ataupun tanda berhenti ayat yang sering kita temui dalam Ulumul Quran.

Yang mencolok adalah bagaimana ia berbeda dengan tradisi yang sudah ada, atau dengan kata lain, scriptio inferior manuskrip Sana’a lebih asing dan tidak dikenal dari apa yang selama ini kita ketahui.

Sebagai contoh, susunan surah yang berbeda. Scriptio inferior menuliskan Q.S al-Nahl (19) setelah Q.S. al-Taubah (9). Hal ini berbeda dengan mushaf Ibn Mas’ud maupun Ubayy b. Ka’b sebagaimana yang dicatat oleh Fihrist karangan Ibn Nadim dan al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an karangan Imam al-Suyuthi.

Karenanya, scriptio inferior ini dikenal dengan istilah codex C-1, lantaran karakter yang dimiliki berbeda dengan mushaf Utsmani atau mushaf sahabat lain yang terekam dalam sumber-sumber tradisional Islam.

Salah satu penelitian yang signifikan dalam diskusi ini ialah penggunaan metode stemmatik untuk menemukan teks yang lebih tua antara mushaf yang tersedia. Sadeghi (2010)  membandingkan perbedaan-perbedaan antara C-1, mushaf Utsmani, dengan mushaf Ibn Mas’ud (di bawah asumsi bahwa riwayat-riwayatnya bisa dipercayai semua).

Ia menemukan bahwa ketika terdapat perbedaan antara ketiganya, Utsmani selalu sama dengan salah satu dari keduanya; antara Utsmani dan C-1 berbeda dengan Ibn Mas’ud, atau Utsmani dan Ibn Mas’ud berbeda dengan C-1. Utsmani tidak pernah terasing dari yang lainnya; amat jarang ditemukan Ibn Mas’ud dan C-1 berbeda dengan Utsmani. Hal ini membuat mushaf Utsmani menempati posisi sentral di antara tiga mushaf ini.

Berdasarkan temuan ini, ia membangun beberapa skenario stemmata dengan dua skenario yang paling memungkinkan terjadi berdasarkan bukti-bukti lain yang ada, yakni (a) masing-masing mushaf sama-sama memiliki sumber yang sama yaitu dari dikte Nabi namun ditulis dan disusun oleh orang-orang yang berbeda, atau (b) mushaf Utsmani merupakan gabungan hibrida dari mushaf-mushaf sahabat sebelumnya yang bersumber dari dikte Nabi.

Posisi mushaf Utsmani yang selalu sama dengan salah satu di antara kedua mushaf lain yang dijadikan objek penelitian membuat, setidaknya ada dua kesimpulan: antara (a) mushaf Utsmani merupakan satu mushaf yang paling menyerupai dari dikte Nabi, atau (b) mushaf Utsmani menggabungkan berbagai macam mushaf yang tersedia pada saat itu.

Figure 1. Dua stemmata Sadeghi-Bergmann
Figure 1. Dua stemmata Sadeghi-Bergmann

Baca Juga: Jalan Panjang Penelitian Manuskrip Sana’a (Bagian 2)

Signifikansinya bagi Ulumul Qur’an

Hal paling menonjol dalam penemuan manuskrip Sana’a adalah bantahan keras terhadap pendapat orientalis dan revisionis seperti John Wansborough yang mengatakan bahwa Alquran baru terkodifikasi di akhir abad delapan masehi. Bahkan jika kita berasumsi scriptio superior ditulis lebih belakangan, tetap saja sulit untuk mengatakan ia ditulis pada abad kedelapan.

Eksistensi manuskrip lain (seperti Codex Parisino-Petropolitanus) yang berasal dari abad ketujuh masehi yang memiliki rasm dan khat yang serupa memperkuat argumen tradisional bahwa Alquran sudah terkodifikasi dan stabil mulai masa Utsman.

Selain itu, penelitian tentang scriptio inferior membantu kita memikirkan ulang perihal proses kodifikasi masa Utsman dan eksistensi mushaf-mushaf para sahabat. Sementara Sadeghi menolak untuk membuat asumsi tentang sebab maupun bagaimana scriptio inferior berbeda dari mushaf Utsmani, Hilali cenderung membangun hipotesis bahwa penulis scriptio inferior menjadikan tulisannya untuk kebutuhan personalnya, dan scriptio superior-nya tidak menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut sudah selesai.

Bukti yang paling mencolok adalah bagaimana scriptio inferior menuliskan basmalah dalam surah al-Tawbah dengan catatan لا ٮٯل ٮسم ا لله yang kemungkinan berarti larangan untuk membacanya. Hilali meyakini bahwa catatan tersebut tidak akan muncul dalam satu manuskrip Alquran yang diniatkan sebagai penulisan akhir. Allahu a’lam.

Muhamad Raa
Alumnus Universitas Muhammadiyah Jakarta. Peminat kajian Alquran, Hadis, Syiah, dan Ushul Fikih.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Kesenjangan sosial

Kritik Alquran Terhadap Kesenjangan Sosial

0
Sejak awal penurunan, Alquran melontarkan kritik terhadap kesenjangan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat Mekah. Kritik tersebut merupakan langkah untuk menciptakan tatanan masyarakat yang...