Beranda Tafsir Tematik Surah Al-Maidah Ayat 100: Tidak Sama Antara Kebaikan dan Keburukan

Surah Al-Maidah Ayat 100: Tidak Sama Antara Kebaikan dan Keburukan

Manusia – sebagai makhluk fana – memiliki dua potensi dalam dirinya, yakni kebaikan dan keburukan. Yang pertama dipengaruhi oleh pancaran cahaya Ketuhanan, sedangkan yang kedua dipengaruhi oleh nafsu hewani yang bersemayam dalam diri. Mereka memiliki wewenang untuk memilih salah satu dari keduanya dan mereka juga akan menanggung konsekuensi dari pilihan tersebut.

Kehidupan manusia – tanpa terkecuali seorang pun – senantiasa dikelilingi oleh nilai keduanya. Oleh sebab itu, mereka harus mengenali dan membedakan mana yang bernilai kebaikan dan mana yang bernilai keburukan. Manusia juga harus mengentahui dampak keduanya, lalu dengan berbekal pengetahuan tersebut, mereka dapat mendekati kebaikan dan menjauhi keburukan. Hal ini mesti dilakukan, sebab kebaikan lebih utama daripada keburukan.

Baik dan buruk adalah dua sisi kutub yang berlawanan. Secara singkat, kebaikan dapat dimaknai sebagai segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah swt melalui agama dan akal sehat, baik itu berkenaan dengan ibadah ritual maupun sosial. Sebaliknya, keburukan adalah segala hal yang bertentangan dengan ajaran agama seperti perbuatan zalim dan aniaya.

Dalam Al-Qur’an, kebaikan maupun keburukan banyak disinggung pada berbagai ayat. Semua ayat itu memerintahkan manusia untuk melaksanakan yang baik dan menjauhi yang buruk. Hal ini menunjukkan bahwa kebaikan lebih utama daripada keburukan. Disebutkan juga bahwa sekecil apa pun kebaikan pasti memiliki nilai positif.

Baca Juga: Termasuk Kebaikan Yaitu Kesalehan Sosial, Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 177

Salah satu ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai kebaikan dan keburukan adalah surah al-Maidah [5] ayat 100. Secara umum, ayat ini menginformasikan bahwa kebaikan lebih utama daripada keburukan. Selain itu, disebutkan juga perbuatan baik akan menghantarkan pelakunya kepada keberuntungan, yakni karunia Allah swt. Firman-Nya:

قُلْ لَّا يَسْتَوِى الْخَبِيْثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ اَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيْثِۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ࣖ ١٠٠

Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah [5] ayat 100).

Menurut Quraish Shihab, surah al-Maidah [5] ayat 100 merupakan penjelasan lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang menceritakan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui dan satu-satunya Pemilik wewenang penetapan hukum, baik perintah maupun larangan. Oleh karena itu, apa yang dilarang-Nya pastilah buruk dan apa yang diperintahkan-Nya pastilah baik.

Surah al-Maidah [5] ayat 100 kemudian menegaskan bahwa kebaikan yang Allah swt perintahkan berbeda – tidak sama – dengan keburukan yang dilarang-Nya. Maksudnya, kebaikan lebih utama daripada keburukan. Sekecil apa pun kebaikan, baik pada diri sendiri apalagi orang lain, jauh lebih bernilai daripada keburukan sekalipun keburukan tersebut terlihat positif atau bermanfaat.

Ayat di atas seakan-akan mengatakan, Katakanlah hai Muhammad, “Tidak sama nilainya di sisi Allah dan dampaknya di hari kemudian hal-hal yang buruk dengan hal-hal yang baik, meskipun kuantitas yang buruk itu menarik hatimu. Oleh karena itu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat dari tipu daya dunia, agar kamu beruntung.” (Tafsir al-Misbah [3]: 214).

Kata khabits pada surah al-Maidah [5] ayat 100 bermakna segala sesuatu yang tidak disenangi karena keburukan atau kehinaannya dari segi material atau immaterial, baik menurut pandangan akal atau syariat. Sedangkan kata thayyib bermakna segala sesuatu yang diperintahkan dan dibolehkan oleh agama dan akal sehat seperti perbuatan baik serta akhlak terpuji (Tafsir Jalalain).

Adapun kata albab adalah jamak dari lubb yakni saripati atau subtansi sesuatu. Kata ini – ulul albab – sering merujuk pada orang-orang yang memiliki akal murni, yakni tidak diselubungi oleh “kulit” atau kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir sehingga tidak mampu memahami dan tidak mau melaksanakan ketetapan serta ketentuan Allah swt bagi seluruh manusia.

Al-Sa’adi menyebutkan dalam tafsirnya, Taisir al-Karim al-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, makna ayat ini adalah katakanlah kepada manusia sebagai peringatan supaya menjauhi keburukan dan melaksanakan kebaikan, “keburukan dan kebaikan tidaklah sama sebagaimana perbedaan antara iman dan kekafiran, ketaatan dan kemaksiatan, ahli surga dan ahli neraka, amal saleh dan amal buruk, serta harta halal dan harta haram.”

Al-Sa’adi juga menambahkan, sesungguhnya kebaikan lebih utama dari pada keburukan. Meskipun suatu kebaikan kuantitasnya kecil hingga sulit diketahui, namun itu jauh lebih bernilai daripada keburukan yang terlihat bermanfaat. Ketahuilah bahwa keburukan – pada hakikatnya – tidak mendatangkan sesuatu apa pun kepada pelakunya selain keburukan pula, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Hal senada disampaikan oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam tafsirnya Marah Labid. Menurutnya, surah al-Maidah [5] ayat 100 merupakan khitab Allah swt kepada nabi Muhammad saw dan umatnya yang menyatakan kebaikan lebih utama daripada keburukan. Meskipun suatu perbuatan baik sangat kecil intensitas dan kemanfaatannya,  namun itu jauh lebih baik daripada perbuatan buruk yang banyak dan terlihat bermanfaat.

Baca Juga: Surah Al-Baqarah Ayat 201: Doa Memohon Kebaikan di Dunia dan di Akhirat

Satu hal yang menarik untuk diperhatikan pada ayat ini adalah adanya korelasi antara ketakwaan dan keberhasilan. Bagian akhir ayat secara implisit mengisyaratkan bahwa ketakwaan kepada Allah swt – kemungkinan besar – akan mengantarkan pelakunya kepada keberhasilan. Karena itu, seluruh manusia, termasuk ulul albab, diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah swt.

Berdasarkan penjelasan singkat di atas, surah al-Maidah [5] ayat 100 berisi tentang informasi keutamaan kebaikan dibandingkan keburukan. Sesuatu yang baik meskipun terlihat kecil intensitas dan dampaknya, namun posisinya sangat mulia. Dengan demikian, semestinya orang-orang yang berakal sehat akan melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, yakni bertakwa kepada Allah swt. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tirakat dalam menuntut ilmu

Tafsir Tarbawi: Perintah Tirakat dalam Menuntut Ilmu

0
Bagi pelajar, tirakat atau riyadhah merupakan suatu keharusan jika ingin ilmunya berkah dan bermanfaaat. Dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya K.H. Hasyim Asy’ari dikatakan...