Beranda Tafsir Tematik Surat Al-Mu’awwidzatain Dan Memahami Kisah Disihirnya Nabi Muhammad

Surat Al-Mu’awwidzatain Dan Memahami Kisah Disihirnya Nabi Muhammad

Keberadaan Surah An-Nas dan Al-Falaq atau disebut juga dengan surat Al-Muawwidzatain (2 surat yang dibuat perlindungan), sebuah surat yang erat kaitannya dengan peristiwa disihirnya Nabi Muhammad. Ya, karena peristiwa tersebut ditengarai sebagai asbabun nuzul atau sebab diturunkannya Surah Al-Falaq dan An-Nas. Hal ini sebagaimana yang disinggung Imam As-Suyuthi dalam kitab Lubabun Nuqul Fi Asbabin Nuzul.

Kisah disihirnya Nabi Muhammad adalah kisah yang cukup menyedot perhatian para ulama’. Hal ini berkaitan banyaknya anggapan bahwa kesempurnaan dan keterjagaan Nabi Muhammad seharusnya membuat dirinya tidak mempan disihir. Namun nampaknya riwayat-riwayat tentang turunnya Surat Al-Mu’awwidzatain seperti mementahkan anggapan tersebut.


Baca juga: Rambu-Rambu Ketaatan Terhadap Pemimpin: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 59


Lalu apakah riwayat disihirnya Nabi Muhammad benar adanya? Apabila benar, apakah kejadian tersebut tidak menciderai keterjagaan Nabi Muhammad? Tulisan ini tidak hendak memaparkan secara lengkap riwayat tentang disihirnya Nabi, tapi akan mengulas tentang  kisah disihirnya Nabi Muhammad berdasar keterangan para ulama’. Sehingga memperlengkap referensi tentang sebab turunnya Surat Al-Mu’awwidzatain.

Disihirnya Nabi Sebagai Sebab Turunnya Surat Al-Muawwidzatain

Riwayat disihirnya Nabi sebagai sebab turunnya Surat Al-Muawwidzatain disebutkan salah satunya oleh Imam As-Suyuthi dalam Lubabun Nuqul. Imam as-Suyuthi menyodorkan dua riwayat yang memiliki cerita agak berbeda. Pertama, riwayat Ibn Abbas yang mengkisahkan dua malaikat yang berbincang-bincang kemudian menyinggung bahwa Nabi disihir, serta sihir itu hancur dengan bacaan Surat Al-Muawwidzatain. Kemudian yang kedua, riwayat Anas ibn Malik yang menceritakan Nabi sakit keras dan Malaikat Jibril turun membawa Surat Al-Mu’awwidzatain.

Namun Imam As-Suyuthi menjelaskan di tengah-tengah memaparkan dua riwayat tersebut, bahwa hadis disihirnya Nabi dapat ditemukan rujukannya dalam kitab sahih. Hanya saja, tanpa menyinggung tentang Surat Al-Muawwidzatain. Mengenai sebab turunnya Surat Al-Mu’awwidzatain, disebutkan dalam riwayat yang berbeda. Oleh karena itu, secara tidak langsung Imam As-Suyuthi mengakui, sebenarnya masih ada masalah terkait benar tidaknya kisah disihirnya Nabi merupakan sebab turunnya Surat Al-Mu’awwidzatain (Lubabun Nuqul/148).


Baca juga: Benarkah Nabi Adam AS Penghuni Pertama di Bumi?


Disihirnya Nabi Tidak Menciderai Keterjagaan Nabi Muhammad

Sayyid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki dalam kitab Muhammad Rasulullah Al-Insan Al-Kamil menjelaskan, riwayat tentang disihirnya Nabi Muhammad adalah riwayat yang sahih dan disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim. Sehingga tidak perlu ada kajian lagi mengenai keabsahan hadis disihirnya Nabi. Hanya saja, meski riwayat disihirnya Nabi Muhammad adalah riwayat yang sahih, akan tetapi tidak lantas riwayat tersebut menunjukkan terciderainya keterjagaan Nabi dengan sebab Nabi mempan terkena sihir (Muhammad Rasulullah/122).

Batasan terciderainya keterjagaan Nabi adalah, apabila pengaruh sihir tersebut sampai mempengaruhi kejujuran Nabi atau sifat-sifat Nabi yang lain. Maka apabila sihir tersebut tidak sampai mempengaruhi kejujuran Nabi, atau hanya sekedar membuat Nabi seperti kebingungan, tapi beliau tetap tahu mana yang sebenarnya terjadi dan mana yang tidak, maka sihir tersebut tidak sampai menciderai keterjagaan Nabi.

Sayyid Muhammad mengajukan bukti bahwa sihir tersebut tidak sampai mempengaruhi sifat-sifat Nabi, dan bahwa akal serta hati Nabi tetap terjaga, dengan tidak adanya riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad tatkala disihir mengucapkan atau melakukan sesuatu di luar hal-hal yang biasa beliau lakukan. Padahal andai kata ada, pasti akan tersebar luas disebabkan banyaknya musuh-musuh Nabi Muhammad yang menunggu munculnya suatu kesalahan dari Nabi Muhammad, untuk dijadikan bahan mengejek maupun menyakiti beliau (Muhammad Rasulullah/123).


Baca juga: Ibn Katsir: Sosok di Balik Lahirnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim


Justru keberadaan Nabi yang terkena sihir sehingga sempat membuat beliau kebingungan, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad benar-benar terjaga hati, akal, aqidah dan ucapannya. Hal itu juga menunjukkan bahwa hal-hal ringan yang biasa menimpa lumrahnya manusia, yang juga menimpa Nabi Muhammad, sekuat apapun tidak akan sampai menciderai sifat-sifat kenabian beliau (Muhammad Rasulullah/123).

Anggapan Keliru Tentang Keterjagaan Nabi

Ishamah atau keterjagaan nabi kadang difahami secara keliru oleh sebagian orang. Mereka menganggap bahwa Nabi Muhammad terjaga berarti beliau, yang dianggap sebagai kekasih Allah yang mengetahui banyak tentang hal-hal ghaib, berarti tidak mempan terkena hal-hal semacam sihir para dukun yang notabene menyembah selain Allah. Maka saat mendengar riwayat bahwa Nabi pernah terkena sihir, mereka pun kaget atau bahkan tidak mempercayai riwayat tersebut.

Pemahaman yang tepat atas keterjagaan Nabi adalah, segala sesuau yang menimpa Nabi tidak sampai mengurangi derajad beliau. Seperti membuat akal beliau terganggu. Maka Nabi Muhammad bisa saja mengalami hal-hal yang bisa dialami manusia biasa, semacam sakit demam, lupa, disakiti orang lain, selama hal itu tidak sampai menciderai derajad kenabian beliau. Wallahu a’lam.

Muhammad Nasif
Alumnus Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...