Beranda Tafsir Al Quran Tiga Tabiin Utama Jebolan Madrasah Tafsir Ibn Abbas (Edisi Mujahid Ibn Jabir)

Tiga Tabiin Utama Jebolan Madrasah Tafsir Ibn Abbas (Edisi Mujahid Ibn Jabir)

Mengenal Mujahid Ibn Jabir

Setelah mengenal Said Ibn Jubair, kali ini  kita akan melanjutkan perkenalan kepada tokoh kedua dari tiga Tabi’in utama jebolan madrasah tafsir Ibn Abbas. Mujahid memiliki nama lengkap Mujahid Ibn Jabir al-Makki. Kunyah-nya Abul Hajjah al-Makhzumi. Lahir pada tahun 21 Hijriyyah di era kekhalifahan Umar Ibn Khattab. Seorang muqri dan mufassir ternama di era Tabi’in.

Berbeda dengan Said Ibn Jubair, Mujahid adalah murid Ibn Abbas yang paling sedikit membawa riwayat. Namun dikatakan bahwa dari semua murid Ibn Abbas, Mujahid adalah yang paling tsiqqah. Hal ini dibuktikan dengan bersandarnya ulama besar di era setelahnya seperti Imam al-Syafi’i dan Imam al-Bukhari pada riwayat yang dibawanya—khususnya dalam riwayat penafsiran.

Dalam sebuah riwayat yang dibawa oleh al-Fadhl ibn Maimun dikisahkan bahwa Ibn Abbas telah menyetorkan bacaan ِِAl-Qurannya sebanyak 30 kali pada Ibn Abbas. Selama menghadap, Mujahid menyempurnakan bacaannya. Setelah menyempurnakan bacaannya, Mujahid kemudian menghadap 3 kali lagi untuk menanyakan tafsir dan penjelasan mengenai dimensi konteks yang terdapat dalam setiap ayat secara keseluruhan.

Banyak komentar para ulama yang menyatakan betapa tingginya derajat keilmuan Mujahid ibn Jabir. Abdussalam ibn Harb, Qatadah, Ibn Hibban serta Ibn Jarir bersepakat bahwa Mujahid Ibn Jabir ialah seorang yang paling memahami tafsir, tsiqah, faqih, serta banyak meriwayatkan hadis. Sufyan al-Tsauri bahkan mengatakan, “seandainya datang padamu tafsir yang berasal dari Mujahid maka cukuplah itu bagimu”.

Mujahid Ibn Jabir wafat di Makkah pada tahun 104 Hijriyyah dan dikatakan ruhnya dijemput saat dalam keadaan sujud. Kala itu umurnya telah memasuki usia 83 tahun.

Hal Menarik Seputar Mujahid Ibn Jabir

Mujahid ibn Jabir ternyata memiliki sisi yang menarik dalam aktivitasnya dalam menafsirkan al-Qur’an. Adz-Dzahabi mengatakan bahwa Mujahid memberikan kebebasan bagi akalnya dalam memahami sebagian redaksi al-Qur’an. Terkadang ia justru memalingkan redaksi yang sharih (jelas secara makna) kepada makna yang sifatnya perumpamaan atau permisalan.

Ternyata pola atau metode penafsiran yang dibuat oleh Mujahid ini, dikatakan menjadi inspirasi bagi kelompok Muktazilah dalam menafsirkan al-Qur’an. Sebab memberikan kebebasan bagi akal untuk menafsirkan.

Salah satu contoh penafsiran Mujahid ibn Jabir ialah pada Q.S. al-Baqarah [2]: 65 dan riwayat ini dikutip oleh Ibn Jarir. Lafaz “كُوْنُوا قِرَدَةً خَاسِئِيْن” ditafsirkan oleh Mujahid dengan mengatakan bahwa yang berubah itu hati mereka dan bukan rupa serta bentuknya. Hal ini didasarkan pada perumpamaan yang Allah berikan kepada orang-orang Yahudi yang tidak mau mengamalkan ajaran Taurat, “bagaikan keledai yang memikul bertumpuk-tumpuk kitab”.

Baca Juga: Ibn Jarir At-Thabari: Sang Bapak Tafsir

Maka yang dimaksud oleh Mujahid berdasarkan riwayat tersebut ialah bahwa orang-orang Yahudi yang melanggar larangan Tuhan diumpamakan seperti kera namun mereka tidaklah bertranformasi menjadi kera sebagaimana jelas pada dzahir ayat.

Contoh lainnya pada Q.S. al-Qiyamah [75]: 22-23. Mujahid menyatakan bahwa “saat yaum al-thalaq manusia akan menantikan balasan dari Tuhannya, namun tidaklah melihat sedikitpun dari Tuhannya”. Penafsiran inilah yang dikatakan menjadi sandaran yang kuat bagi kelompok Muktazilah dalam menjawab persoalan ru’yatullah.

Gaya penafsiran Mujahid sebagaimana beberapa contoh di atas menjadi alasan beberapa ulama menolak menggunakan penafsirannya. Bahkan mereka juga mencela Mujahid karena terlalu membebaskan akalnya dalam menafsirkan al-Quran. Dalam suatu riwayat Ibn Mujahid (anak dari Mujahid) menceritakan bahwa ada seseorang yang datang kepada ayahnya lalu berkata, “kamukah yang menafsirkan al-Quran dengan akal? Lalu Mujahid menjawab sambil menangis, “sungguh aku berani, sebab aku telah membawa penafsiranku kepada sepuluh sahabat dan mereka meridhai”.

Bagaimanapun Mujahid tetaplah seorang mufassir rujukan yang lahir dari rahim sebuah madrasah tafsir ternama yang diasuh oleh Sahabat yang mumpuni. Gaya penafsiran yang ia lakukan merupakan hasil dari pembelajarannya yang panjang sehingga tidak berhak untuk dihujat melainkan ditelaah dan kemudian diambil faidah yang terdapat di dalamnya. Wallahu a’alam.

Alif Jabal Kurdi
Alumni Prodi Ilmu al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alumni PP LSQ Ar-Rohmah Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Kiat-kiat pencegahan kemiskinan dalam Al-Quran

Al-Quran dan Upaya Pengentasan Kemiskinan

0
Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk memperhatikan segala aspek sosial kepada saudara Muslim lainya atau manusia pada umumnya. Salah satu yang ditekankan oleh Islam dalam...