Beranda Tafsir Tematik Tafsir Kebangsaan Tafsir Kontekstual Gus Dur Seputar Moderasi Islam

Tafsir Kontekstual Gus Dur Seputar Moderasi Islam

Abdurrahman Wahid atau lebih akrap disapa Gus Dur adalah tokoh nasional yang mendunia. Ia dikenal luas sebagai sosok pejuang moderasi beragama. Walau pandangan-pandangannya yang ‘terlampau jauh’ seringkali membuat kebanyakan orang gagal paham.

Ada satu buku milik Gus Dur yang cukup menarik berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”. Buku ini mulanya merupakan kumpulan tulisan Gus Dur yang menyimpan gagasan brilian tentang moderasi. Di dalamnya ada banyak penafsiran-penafsiran kontekstual Gus Dur atas ayat-ayat Al-Quran yang mewacanakan Islam moderat. Tulisan ini mencoba mengulik bagaimana Gus Dur mengkontekstualisasikan pesan-pesan Al-Quran dalam kehidupan terutama soal keberagaman dan keberagamaan.

Tafsir Kontekstual Gus Dur

Tafsir kontekstual adalah sebuah strategi menanamkan nilai-nilai Al-Quran dalam setiap aspek kehidupan. Mulai aspek agama, sosial, politik, hingga ekonomi. Secara istilah, tafsir kontekstual adalah menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan menganilisis perspektif kebahasaan, historis, antropologi, dan sosiologi yang berkembang dalam kehidupan sebelum Islam dan perkembangan Islam seiring dengan turunnya wahyu Al-Quran, kemudian menemukan pesan moral dan hal-hal pokok di dalamnya (Saleh, Metodologi Tafsir Kontemporer dalam Pandangan Fazlur Rahman, hlm. 58).

Mengingat teks Al-Quran yang multi-interpretatif dan sering diperdebatkan, maka muncullah penafsiran dengan pendekatan yang kontekstual ini. Untuk itulah, setelah menggali pesan moral yang terkandung dalam ayat, langkah selanjutnya adalah kontekstualisasi dengan mendialogkan ayat sesuai realita sekarang. Ini berarti sebuah upaya menafsirkan ayat dengan melakukan proyeksi dalam situasi kekinian, dengan memperhatikan segi historis dan lafdziyah sehingga fenomena-fenomena yang ada di masyarakat dibawa pada makna Al-Quran yang dinamis (Hasbiyallah, Paradigma Tafsir Kontekstual: Upaya Membumikan Nilai-Nilai Al-Qur’an, hlm. 32).

Qatrun Nada dalam Tafsir Kontekstual KH. Abdurrahman Wahid (Telaah 9 Nilai Utama Pemikiran Gus Dur) menyebutkan bahwa tafsir kontekstual Gus Dur jika dilihat dari sumbernya, tergolong tafsir bi al-ra’y berdasarkan beberapa analisis kebahasaan, kaidah tafsir, dan ushul fiqh akan dalam menafsirkan teks Al-Qur’an. Namun tidak dapat dipastikan konsistensinya karena Gus Dur sendiri belum pernah menyatakan diri sebagai seorang ahli tafsir. Jika dilihat dari segi metode, tafsir kontekstual Gus Dur tergolong tematik, yakni berawal dari problem sosial yang menjadi topik kajian kemudian dikontekstualisasikan makna ayat secara tepat meskipun tidak rinci, baik rasional maupun supra-rasional.

Corak penafsiran Gus Dur adalah ijtima’i (sosial kemasyarakatan) berdasarkan problem kemanusiaan dan kebangsaan. Pada beberapa penafsiran ayat seringkali berupa autokritik terhadap pemahaman teks keislaman yang sering diperdebatkan serta berisi beberapa gagasan sebagai kontemplasi, khususnya untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan dan kebangsaan. Gus Dur seringkali menafsirkan ayat-ayat Al-Quran menggunakan takwil dan dirumuskan sesuai ideologi Sunni moderat yang dijadikan prinsip.

Baca juga: Penafsiran Kontekstual Gus Dur Terhadap Surat Al-Nisa Ayat 34

Pluralisme, Toleransi, dan Perdamaian

Gus Dur kerap berpesan khususnya bagi para cendekiawan dan intelektual muslim bahwa kitab-kitab tafsir klasik tidaklah dogmatis (anti pembaruan). Maka sah-sah saja, bahkan penting untuk mengembangkan serta mengkontekstualisasikan wacana, pemahaman, dan penafsiran para ulama terdahulu (NU Online, Gus Dur: Perlu Kontekstualisasi Tafsir). Pemikiran-pemikiran Gus Dur tentang moderasi beragama sejatinya berpulang pada tiga prinsip utama, yaitu pluralisme, toleransi, dan perdamaian.

Pertama, prinsip pluralisme. Ketika menjelaskan arti penting pluralisme, Gus Dur menyitir QS. Al-Hujurat [49]: 13:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ  ١٣

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Gus Dur dalam bukunya, Islamku, Islam Anda, Islam Kita memaknai ayat ini sebagai dasar prinsip pluralisme; bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan segenap perbedaan, baik laki-laki dan perempuan, suku, adat, etnis, bahasa, dan bangsa. Perbedaan di antara umat manusia telah memberikan warna dalam kehidupan dan menjadi sarana untuk saling mengenal—tentu juga saling memahami—satu sama lain. Ayat ini ditutup dengan jaminan persamaan hak semua manusia. Bahwa yang menjadi pembeda di sisi Tuhan adalah tingkat dan kualitas ketakwaannya, bukan yang lain.

Prinsip pluralisme ini akan melahirkan prinsip kedua, toleransi. Harus diakui, cara terbaik menghadapi perdebatan terutama masalah keagamaan adalah dengan mengakui bahwa Islam menghargai perbedaan dan keragaman. Bagi Gus Dur, QS. Ali Imran [3]: 103 sudah cukup terang benderang. Islam tidak mempermasalahkan perbedaan pendapat atau pandangan. Silang pendapat itu sudah wajar. Sebab, apa yang diwanti-wanti oleh Islam justru adalah pertentangan dan perpecahan (Gus Dur, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, hlm. 154).

Dalam kehidupan beragama dan berbangsa, prinsip toleransi sangatlah penting untuk menghapus segala bentuk diskriminasi, otoriter, tindak kekerasan dan menganggap rendah orang lain. Gus Dur meyakini Islam adalah agama yang sempurna dan komplit. Islam sudah menetapkan pokok-pokok dan prinsip ajarannya. Sementara hal-hal yang sifatnya rinci dan detal (cabang) mesti dipahami sesuai dengan situasi serta kondisi yang sedang berkembang. Bagaimanapun juga, perbedan pendapat hanya terjadi pada perincian (cabang) ajaran Islam, tidak pada pokok dan prinsipnya.

Prinsip ketiga adalah perdamaian. Prinsip perdamaian ini bermuara pada QS. Al Baqarah [2]: 208:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ  ٢٠٨

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Menurut Gus Dur dalam bukunya, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, kata al-silmi pada ayat ini lebih bermakna perdamaian. Karena itu, mayoritas kaum muslimin sepakat bahwa Islam adalah agama pengayom dan pelindung tanpa pandang bulu. Lebih jauh Gus Dur mengaitkan (memunasabahkan) ayat ini dengan QS. Al Anbiya’ [21]: 107; bahwa Nabi saw diutus tidak lain adalah sebagai rahmat untuk semesta alam. Dengan mengutip beberapa mufasir yang memaknai kata al-‘alamin terbatas pada manusia, Gus Dur lalu membuat kesimpulan bahwa kehadiran Nabi saw untuk menguatkan rasa persaudaraan dan menabur perdamaian antar sesama manusia. Wallahu a’lam []

Baca juga: Mengulik Kembali Nilai Pluralisme dalam Surah Al-Hujurat Ayat 13

Fawaidur Ramdhani
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan Dosen Ma’had Ali UIN Sunan Ampel Surabaya. Minat pada kajian tafsir Al-Quran Nusantara, manuskrip keagamaan kuno Nusantara, dan kajian keislaman Nusantara
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

0
Pemahaman Alquran berawal dari susunan kalimat yang ditampilkannya. Alquran berbahasa Arab, di dalamnya memuat rangkaian fungsi kalimat dengan ragam bentuk kalimat. Setiap fungsi kalimat...