Beranda Kisah Al Quran Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 68-69: Fakta Menarik di Balik Pembakaran Nabi Ibrahim

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 68-69: Fakta Menarik di Balik Pembakaran Nabi Ibrahim

Salah satu hal yang dianugerahkan Allah SWT kepada para Rasul adalah mukjizat. Sebuah fenomena di luar nalar akal manusia  yang secara eksklusif hanya ditakdirkan kepada para manusia pilihan Allah. Mukjizat sudah ada sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Tujuan dianugerahkannya mukjizat adalah sebagai tanda kekuasaan Allah yang secara langsung dapat dilihat oleh umat Rasul tertentu. Mukjizat bisa menjadi salah satu perantara diterimanya hidayah oleh seseorang. Salah satu mukjizat yang dinilai paling epic adalah mukjizat Nabi Ibrahim yang tak mempan dibakar api. Kejadiaannya adalah selepas nabi Ibrahim dinilai menghancurkan sesembahan Raja Namrud, dan menggunakannya untuk mengacak–acak logika berpikir Namrud dan pengikutnya akan konsep ketuhanan. Hingga akhirnya Raja Namrud memerintahkan pasukannya untuk membakar Nabi Ibrahim. Tak hanya itu, Namrud juga menantang Ibrahim untuk menunjukkan kuasa Tuhannya, setelah sebelumnya mempertanyakan kekuasaan Tuhan mereka pula.  Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Quran Surah Al-Anbiya’ ayat 68:

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

Artinya : Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak” (QS. Al-Anbiya’ ayat 68).

Baca juga: Surah Al-Baqarah Ayat 129: 3 Harapan Nabi Ibrahim Untuk Figur Nabi Muhammad saw

Namun, pembakaran yang dinarasikan dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 68 tersebut tidak berdampak apapun terhadap kondisi fisik Nabi Ibrahim. Hal ini dikarenakan api yang membakar nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menjadi dingin. Sesuatu yang tak lazim, dan diluar nalar manusia. Tapi inilah mukjizat Nabi Ibrahim. Allah memerintahkan langsung sang api untuk memainkan peran panasnya saat menyentuh kulit nabi Ibrahim. Sebagaimana firman Allah di ayat berikutnya :

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Artinya : Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS. Al-Anbiya’ ayat 69).

Peristiwa ajaib di atas ternyata menyimpan beberapa fakta menarik yang disebutkan oleh beberapa mufassir dalam karya tafsirnya, yang akan dijelaskan berikut ini.

Kelengkapan diksi ayat

Di ayat 69, dikisahkan bahwa Allah memerintahkan api untuk melakukan 2 hal. Yakni dingin (Bardan) dan menyelamatkan (salaman). Kedua diksi ini memainkan peran penting dalam kejadian ini. Sebab, apabila diksi Salaman  ditiadakan, maka api hanya menjadi dingin, namun kobarannya yang dingin tetap dapat menyelakai nabi Ibrahim. Sebagaimana tafsiran Ibnu Abbas, yang dikutip dalam Tafsir Ibnu Abi Hatim:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لو لَمْ يقل وسلاماً لقتله البرد

Artinya : “Ibnu Abbas berkata : jika Allah tidak berkata “Wa Salama”, niscaya Nabi Ibrahim akan dibunuh kedinginan”

Baca juga: Kisah Al-Quran: Beberapa Gelar Yang Disandang Nabi Ibrahim a.s.

Didoakan malaikat pengirim hujan

Dalam riwayat Syamir bin Athiyya yang dikutip Ibn Hatim dalam Tafsirnya, disebutkan bahwa sebelum Allah memerintahkan Api untuk menjadi dingin, ada malaikat yang mendoakan agar turun hujan kala itu, sehingga proses pembakaran akan terganggu. Namun rupanya Allah memberikan anugerah yang lebih ajaib lagi.

عَنْ شمر بن عطية قَالَ: لما أرادوا إِنَّ يلقوا إبراهيم في النَّار نادى الملك الّذِي يرسل المطر: رب خليلك رجا إِنَّ يؤذن لَهُ فيرسل المطر فقال الله: يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ فلم يبق في الأَرْض يومئذ نار إلا بردت

Artinya : “Dari Syamir bin Athiyya, ia berkata : ketika pasukan Namrudz hendak melemparkan Ibrahim ke dalam Api. Malaikat pengirim hujan berdoa : Wahai Tuhanku ! kekasihMu akan disakiti, kirimkanlah hujan (untuknya). Kemudian Allah berfirman : wahai api, jadilah dingin dan selamatkan Ibrahim. Maka pada hari itu tak satupun ada api kecuali ia mendingin”

Baca juga: Kisah Nabi Yahya dalam Al-Quran: Dapat Hikmah dan Maksum Sejak Kecil

Nabi Ibrahim Berdzikir sebelum masuk api

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim berdzikir sebelum dijebloskan ke dalam bara api, kendati lafadz dzikirnya berbeda  – beda menurut riwayat. Dalam Tafsir Al-Mawardi disebutkan :

وقيل إن إبراهيم حين أوثق ليلقى في النار فقال: لا إله إلا أنت سبحانك رب العالمين , لك الحمد ولك الملك لا شريك لك. وقال عبد الله بن عمر: كانت كلمة إبراهيم حين أُلقي في النار: حسبي الله ونعم الوكيل

Artinya : ”dan dikatakan, bahwa ketika Nabi Ibrahim diikat untuk kemudian dijebloskan ke dalam api, beliau berkata “Laa Ilaha Illa Anta Subhanaka Rabbi Al-‘Alamin, laka al-hamd wa laka al-mulk, la syarika lak. Sedangkan menurut Abdullah bin Umar, kata – kata nabi Ibrahim sebelum dijebloskan kedalam api adala : Hasbiyallah wa ni’mal wakil”

Bahkan di beberapa daerah di Indonesia, ada kepercayaan bahwa bershalwat kepada nabi Ibrahim akan membuat kita kebal api. Inilah yang menjadi tradisi rutin sebelum melakukan kegiatan budaya “sepak bola api”, semua pemain dianjurkan bershalawat kepada Nabi Ibrahim.

Dibakar 7 hari lamanya

Jika kita pernah menyaksikan proses kremasi mayat yang menghabiskan waktu beberapa jam saja, tidak demikiannya dengan Namrudz. Ia merasa tidak puas jika hanya membakar Nabi Ibrahim dalam hitungan jam. Beliau menyalakan api hingga 7 hari lamanya. Dalam Tafsir Al-Mawardi disebutkan :

قال الكلبي: بنواْ له أتوناً ألقوه فيه , وأوقدوا عليه النار سبعة أيام , ثم أطبقوه عليه وفتحوه من الغد , فإذا هو عرق أبيض لم يحترق , وبردت نار الأرض فما أنضجت يومئذ كراعاً

Artinya : “Al-Kalbi berkata : mereka membangun tungku sebagai tempat melemparkan Ibrahim, lalu menyalakan api selama 7 hari lamanya, mengunci Ibrahim di dalam, lalu membukanya esok hari, jika namun beliau bagi kayu putih yang tak mempan dibakar, api bumi mendingin, tak ada daging yang matang hari itu.

Selama proses pembakaran itu, tak ada sedikitpun tubuh nabi Ibrahim yang tergores, hanya tali – tali pengikatnya yang lepas karena terbakar. Selain itu, di atas tungku, ada wazagh (tokek) yang meniup – niup api agar semakin besar, walaupun tak membuahkan hasil apa – apa. Inilah awal disyariatkannya sunnah membunuh cicak.

Demikian fakta menarik dibalik pembakaran nabi Ibrahim. Intinya, kejadian menakjubkan ini adalah kuasa Allah yang tiada bandingnya. Mukjizat ini juga merupakan jawaban langsung dari Allah atas tantangan Namrudz. Selepas kejadian ini, berangsur–angsur penduduk Babilonia menyatakan diri beriman kepada Allah dan nabi Ibrahim.

Wallahu a’lam[]

Muhammad Bachrul Ulum
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, peminat kajian linguistik Al-Quran
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Monopoli

Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

0
Dalam mewujudkan perekonomian yang sehat, Islam mengingatkan agar setiap individu tidak mengindahkan prinsip-prinsip fundamental mengenai kemaslahatan orang banyak, diantaranya adalah kehalalan dan tidak mengambil hak...