Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 222: Ikhtiar Menyucikan Diri Lahir dan Batin

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 222: Ikhtiar Menyucikan Diri Lahir dan Batin

Manusia sedari awal penciptaanya terdiri dari dua hal, fisik, pisikis, lahir dan batin. Khusus untuk dua unsur yang terakhir, lahir atau zahir biasanya diarahkan kepada jasad (anggota tubuh) karena dapat dilihat oleh panca indera, sementara batin biasanya diarahkan pada ruh karena tidak dapat dilihat oleh panca indera. Mengingat dua unsur tersebut selalu ada pada manusia, maka berlaku pula pada sifat atau predikat yang diterima oleh manusia, mutatahhirin (orang-orang yang menyucikan diri) misalnnya.

Predikat mutatahhirin (orang-orang yang menyucikan diri) sendiri dalam surah Al-Baqarah ayat 222 disebut sebagai orang yang disenangi oleh Allah. Jika memang dua unsur manusia di awal tadi selalu ada pada predikat manusia, maka yang dikatakan mutatahhirin adalah bukan hanya orang yang suci lahir (fisiknya) saja, tetapi juga suci batinnya.

Namun sayang sekali, masih sangat banyak orang yang lupa perihal ‘menyucikan batin’. Ini dapat dilihat salah satunya pada anjuran pencegahan di masa pandemi. Banyak sekali yang hanya peduli pada kesucian lahiriyah saja, suci badan dan tempat dari hal-hal najis dan melewatkan dan penyucian batin. Ada banyak pencegahan-pencegahan yang dianjurkan hanya bersifat lahiriyah, seperti memakai masker, cuci tangan, menjaga jarak dan lain sebagainya. Ini tentu tidak salah, namun akan lebih bagus jika anjuran tadi itu disempurnakan dengan anjuran ‘batiniyah’.

Baca Juga: Tafsir Surah Ali Imran Ayat 42: Meneladani Kebersihan dan Kesucian Diri Siti Maryam

Mutatahhirin: orang-orang yang menyucikan diri lahir dan batin

Menyucikan diri lahir dan batin ini salah satu yang coba diingatkan oleh Al-Quran dalam surah Al-Baqarah ayat 222. Di situ dikatakan bahwa Allah swt suka kepada hamba-Nya yang mutatahhirin (orang-orang yang tidak hanya memperhatikan kesucian lahiriyahnya, melainkan pula kesucian batin). Berikut bunyi ayatnya,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ…….

“……Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri” (QS. Al-Baqarah [2]: 222).

Menurut Rasyid Ridha dalam tafsirnyaو al-Manar” menyucikan diri di sini dibagi menjadi dua opsi. Pertama, mensucikan diri secara hissiyah atau lahiriyah (sesuatu yang dapat dicapai dengan panca indera). Kedua, mensucikan diri secara maknawiyah atau batiniyah (sesuatu yang tidak dapat dicapai panca indera). (Rasyid Ridha, 1990: 215)

Adapun yang dimaksud dengan mensucikan diri secara hissiyah yaitu seperti mensucikan badan dari segala kotoran, hadast (besar maupun kecil) serta dari kejelekan-kejelekan dan kemungkaran. Sedangkan yang dimaksud dengan mensucikan diri secara maknawiyah yaitu mensucikan hati dari segala penyakit misalnya riya’, takabur, hasud dan lain-lain dengan cara bertaubat kepada Allah swt.

Senada dengan Rasyid Ridha, dalam “Taysir al-Karim al-Rahman”, al-Sa’di juga menyatakan maksud dari “Wa Yuhibbul Mutathahhirin” yaitu mencakup orang-orang yang membersihkan diri dari berhala-berhala dan juga orang-orang yang membersihkan anggota badan dari najis dan hadast (kecil maupun besar).

Lanjutnya, thaharah atau bersuci di dalam Islam disyari’atkan secara mutlak karena Allah swt mencintai orang-orang yang disifati dengan demikian. Ia juga menegaskan bahwa mensucikan di sini juga dapat diterapkan pada hal yang sifatnya maknawi misal mensucikan diri dari akhlak yang hina, sifat-sifat serta perbuatan-perbuatan yang tercela. (Al-Sa’di, 2000: 100)

Baca Juga: Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 180: Anjuran Berdoa dan Berdzikir dengan Asmaul Husna

Seseorang yang senantiasa menyucikan diri yang sifatnya batin maka ia akan senantiasa berzikir, mengingat Allah. Dengan demikian ia juga akan mendapatkan kegembiraan dan ketentraman hati dalam menjalani kehidupannya. Allah berfirman dalam QS. Taha [20]: 130.

فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى

Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang. (Q.S al-Taha [20]: 130)

Dalam kitab Tafsir al-Maraghi dijelaskan bahwa pada ayat ini Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw agar bersabar menghadapi cemoohan orang-orang kafir terhadap ajarannya dan juga diperintah untuk bertasbih. Tentu saja hal ini bertujuan agar Nabi Muhammad ridha (rela, tenang dan menerima dengan lapang dada atas apa yang menimpa dirinya), sebagaimana tersirat dalam akhir ayat, la‘allaka tarda. (Al-Maraghi, hal. 162). Dengan ridha tentu hati akan menjadi tenang dan tidak panik dalam menghadapi segala yang terjadi.

Berzikir untuk menenangkan hati

Ayat lain yang juga memperkuat peran zikir dalam menenangkan hati yaitu surah al-Ra‘d [13]: 28.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.

Baca Juga: Surah Ar-Ra’d [13] Ayat 28: Zikir Dapat Menenangkan Hati

Menurut al-Sa’di kata zikir memiliki dua tafsiran. Pertama, zikir seperti membaca tasbih, tahlil dan takbir kepada Allah, sehingga seorang hamba tidak akan tentram hatinya kecuali dengan berzikir kepada Allah, tidak ada sesuatu yang lebih lezat ataupun manis selain cinta kepada Allah, mendekatkan diri serta bermakrifat kepada-Nya. Ukuran kecintaan dan makrifat kepada Allah ialah sesuai dengan zikir yang dilakukan.

Kedua, ketentraman hati didapat ketika mengetahui makna-makna dan hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an karena akan menunjukkan kepada seorang hamba kenenaran yang terang disertai dengan dalil-dalil di dalamnya. Pada bagian ini, ketentraman tidak akan didapat kecuali dengan keyakinan dan pengetahuan.

Patutlah kita perhatikan juga kesucian batin ini, terlebih dalam kondisi seperti sekarang, di masa pandemi. Beruntung, kita bangsa Indonesia di Indonesia masih punya beberapa guru yang selalu mengingatkan untuk senantiasa berzikir, ajakan istighotsah, doa bersama mengetuk pintu langit meski melalui virtual, tidak lain untuk memohon ketenangan hati, perlindungan dan keselamatan kita semua. Wallahu a’lam

Lukman el-Hakim
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Fithrah Surabaya
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

kedudukan guru menurut tafsir surah Hud ayat 88

Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Seorang guru dengan kapasitasnya sebagai pengajar dan pendidik merupakan salah satu nilai inti (core value) dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, memahami definisi, kedudukan,...