Beranda Kisah Al Quran Tafsir Surah Ali Imran Ayat 42: Meneladani Kebersihan dan Kesucian Diri Siti...

Tafsir Surah Ali Imran Ayat 42: Meneladani Kebersihan dan Kesucian Diri Siti Maryam

Siti Maryam adalah sosok wanita hebat dalam lintasan sejarah pra-Islam. Bahkan, nama dari ibunda Nabi Isa a.s. tersebut diabadikan oleh al-Qur’an menjadi satu-satunya wanita yang namanya menjadi nama suatu surah dalam al-Qur’an. Kemudian, apa saja hikmah yang dapat diambil dari sosok Siti Maryam? Mari simak penjelasan tafsir surah Ali Imran ayat 42 berikut ini.

Tafsir Surah Ali Imran Ayat 42

وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ – ٤٢

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu)”. Q.S Ali Imran: 42.

Tafsir al-Jalalain menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “tahharaki” (طهّرك) atau yang berarti “(Allah) telah menyucikanmu (Maryam)” yakni “min masis al-rijal” (مِن مَسِيْس الِرجَال) yang berarti “dari sentuhan laki-laki”. Hal tersebut menunjukkan bahwa Siti Maryam merupakan perempuan bersih telah disucikan oleh Allah Swt dari sentuhan laki-laki.

Dalam Tafsir Ibn Kasir, pada penjelasan Ali Imran ayat 42 di atas dijelaskan bahwa Allah Swt memilih Siti Maryam karena ibadahnya yang banyak kepada Allah Swt, kezuhudannya, kemuliaannya, dan juga kesuciannya dari kotoran serta bisikan-bisikan setan.

Berbeda dengan Tafsir al-Mishbah, di dalamnya dijelaskan bahwa Siti Maryam memiliki kesucian berganda. Pertama, ialah kesucian yang berasal dari diri pribadinya yakni rutinitas dan juga kecintaan beliau perihal menjaga kebersihan dan kesucian diri. Kedua, kesucian khusus yang memang diberikan oleh Allah Swt.

Baca juga: Masa Mengandung Hingga Persalinan Siti Maryam dalam Al-Quran Surat Maryam Ayat 22-25

Perhatian Islam terhadap Masalah Kesucian

Dari penjabaran beberapa tafsir atas Ali Imran ayat 42 di atas mengenai kesucian Siti Maryam, dapat diambil pelajaran penting mengenai menjaga kebersihan fisik dan kesucian diri. Hal tersebut juga telah diatur sedemikian rupa oleh syari’at Islam bahkan thaharah atau bersuci menjadi bab awal pembahasan di berbagai kitab-kitab fikih baik klasik maupun kontemporer.

Dalam kitab Mukhtar al-Ahadis pada hadis nomor 739 disebutkan:

طهّرُوا هَذِهِ الأَجْسَادَ, طَهَّرَكُمُ الله فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَبِيْتُ طَاهِرًا إِلاَّ بَاتَ مَعَهُ فِيْ شِعَارِهِ مَلَكٌ، لاَ يَنْقَلِبُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

Artinya: “Hendaknya kalian menyucikan badan, maka Allah Swt akan menyucikan kalian. Sesungguhnya tidak ada hamba yang bermalam (tidur) dalam keadaan bersuci melainkan malaikat bersamanya pada pakaiannya Dia tidak bergerak-gerak dalam tidurnya, kecuali malaikat mendoakan: “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu (ini) karena sesungguhnya ia bermalam dalam keadaan suci”. HR. at-Thabrani dari Ibn ‘Umar.

Hadis di atas secara umum memerintahkan umat Islam untuk senantiasa berlaku bersih dan juga menjaga kesucian dalam kesehariaannya. Bukan hanya secara fisik saja, tetapi perlu juga menjaga kebersihan bathin, seperti tidak mudah menyerah, tidak mudah marah, tidak berpikir negatif, dan sebagainya.

Secara khusus, hadis tersebut mengajarkan umat Islam untuk tidur dalam keadaan bersuci terlebih dahulu. Selain malaikat akan memohonkan ampun, hal tersebut juga merupakan salah satu ikhtiar agar seseorang dapat tertidur dengan nyaman dan juga terhindar dari mimpi buruk. Dengan begitu, kualitas tidurnya menjadi baik untuk kesehatan setelah beraktivitas seharian dan nantinya akan bangun dalam keadaan lebih bugar.

Baca juga: Siapa Orang-Orang Suci yang Boleh Menyentuh Mushaf Al-Quran?

Melihat uraian al-Qur’an dan hadis di atas tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesucian diri, penulis dapat menyimpulkan bahwa bisa jadi salah satu alasan nama Siti Maryam dijadikan sebagai nama salah satu surah dalam al-Qur’an yakni surah Maryam adalah karena dari kepribadian Siti Maryam sendiri yang menyukai kebersihan dan menjaga kesucian dirinya.

Allah Swt mengangkat derajat Siti Maryam salah satunya dengan cara menjadikan namanya menjadi nama suatu surah dalam al-Qur’an. Selain disucikan oleh Allah Swt, beliau juga dianugerahi beberapa karamah, berupa hamil tanpa adanya suami dan dari rahimnya lahir seorang bayi agung yang mampu berbicara sebagai saksi atas kesuciannya.

Sebagai umat Islam, hendaklah kita berusaha meneladani kebiasaan baik para tokoh besar, termasuk dari Siti Maryam dalam hal menjaga kebersihan. Beliau senang akan menjaga kesucian diri dan juga kebersihan badan, karena pada dasarnya Allah Swt juga menyukai hamba-Nya yang membersihkan serta menyucikan diri. Wallahhu a’lam.

Baca juga: Surah Maryam [19] Ayat 26: Kisah Maryam Berpuasa Bicara

 

 

Faridah
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa disapa di @idahzara
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 29-30

0
Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 29-30 menjelaskan mengenai hari kemenangan kaum muslimin adalah hari kiamat. Di hari kiamat itu orang kafir tidak diberi kesempatan bertobat...