Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surah Al-Isra Ayat 36 dan Kematian Pakar di Media Sosial

Tafsir Surah Al-Isra Ayat 36 dan Kematian Pakar di Media Sosial

Dalam dunia media sosial, latar belakang pendidikan suatu akun seringkali tidak diperhatikan, terutama bila jumlah follower sudah ribuan. Pada kasus influencer yang sering bicara soal agama misalnya, para pengakses media sosial tidak akan susah-susah cari tahu asal  pemilik akun tersebut belajar agama, tempat dia belajar dan profil gurunya.

Bila sudah dikenal sebagai influencer dalam ilmu agama yang kemudian dipanggil ustad, apa pun yang ditulis atau dikemukakan dalam linimasanya, sudah dianggap sebagai bagian dari ilmu agama. Padahal, dalam ilmu agama, terdapat standar kompetensi bagi seseorang yang berhak berbicara tentangnya, bukan didasari oleh berapa jumlah followernya di media sosial.

Praktik tersebut membuat fenomena lain yang menggelisahkan, yakni tenggelam mereka yang benar-benar kompeten dalam ilmu agama, utamanya bagi para tokoh agama yang followernya sedikit, atau bahkan tidak punya akun media sosial. Lebih jauh lagi, praktik tersebut bisa menimbulkan kesan bahwa cukup belajar di media sosial untuk belajar ilmu agama, dan setelah itu, siapapun bisa dengan bebas berbicara tentang agama. Sehingga yang terjadi adalah apa yang disebut Tom Nichols sebagai The Death of Expertise (matinya kepakaran).

Baca Juga: Nadirsyah Hosen dan Penafsiran Al-Qur’an di Media Sosial

Kematian pakar di media sosial

Kematian pakar merupakan sebuah kondisi ketika semua orang bisa merasa mengetahui semua hal, walaupun sejatinya mereka tak memiliki keahlian dan kompetensi dalam bidang tersebut (Nichols, 2017). Tanpa memiliki latar belakang keilmuan tertentu sebelumnya, seseorang merasa berhak berbicara atau menulis tentang sesuatu. Biasanya hal ini didorong oleh rasa agar secepat mungkin bisa menanggapi isu-isu yang sedang viral dibicarakan.

Kemajuan teknologi komunikasi tidak bisa dipungkiri menjadi faktor besar matinya kepakaran terjadi. Kemajuan teknologi itu menjadikan seseorang mudah untuk mencari tahu tentang sesuatu di internet, misalnya dengan bertanya pada mbah Google. Namun, hal tersebut biasanya tidak dibarengi dengan cek dan crosscheck terhadap jawaban yang diantarkan mesin pencari. Tidak ada usaha untuk mendalami ilmu secara sistematis dengan melalui tahap pengujian. Ditambah lagi, apa yang diberitakan di internet dijadikan satu-satunya sumber dan dianggap cukup.

Di media sosial, siapa saja dengan bebas bisa membuat konten tentang topik tertentu. Ini berbeda dengan ekosistem dalam jurnal ilmiah, penulisan artikel atau opini di media kredibel (koran atau situs online misalnya) yang melewati seleksi dari pihak lain yang kompeten di bidangnya. Panjang dan lama proses pengujian tersebut, menjadikan karakteristik orang-orang yang kompeten di suatu bidang terkesan untuk lebih berbicara hati-hati dan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.

Kehatian-hatian itu menimbulkan ruang kosong bagi netizen yang mengagungkan kecepatan dan kemudahan alias instan. Kekosongan itu kemudian diisi oleh pihak-pihak yang kurang kompeten melaui akun-akun mereka, dan bahkan, banyak diisi oleh kepalsuan dan kebohongan demi mengejar traffic di media sosial. Sementara itu, media sosial membuka peluang kaburnya posisi antara para ahli dan orang awam (Winarno, 2020). Bagaimana pandangan Alquran mengenai persoalan ini?

Baca Juga: Etika Bermedia Sosial dalam Pandangan Alquran

Tafsir surah al-Isra ayat 36

Dalam surah al-Isra ayat 36, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isrā’ [17]:36).

Ayat ini melarang kita untuk mengikuti atau larut dalam persoalan yang tidak kita ketahui dan persoalan yang tidak berguna bagi kita, sekaligus perintah untuk memeriksa hal tersebut. Mengenai ayat ini, Qotadah (seorang tabiin) berkomentar: “Jangan mengatakan ‘aku melihat’, padahal kamu tidak melihat, mengatakan ‘aku mendengar’, padahal kamu tidak dengar, dan mengatakan ‘aku tahu’, padahal kamu tidak mengetahui. Karena sesungguhnya Allah ta’ala menanyaimu tentang ucapanmu itu seluruhnya” (Muhammad Ali Ash-Shobuny, Shofwah at-Tafasir, Juz 2, hal. 147).

Syaikh Ahmad Ash-Showy menambahkan, termasuk yang dilarang dalam ayat ini yaitu berfatwa tanpa punya ilmu, kesaksian palsu, berburuk sangka pada manusia, dan sebagainya (Ahmad bin Muhammad Ash-Showy, Hasyiyah Ash-Showy ‘ala Tafsir Al-Jalalain, Juz 2, hal. 358).

Melalui penggalan ayat selanjutnya, dapat dipahami bahwa ‘ilmu’ dalam ayat ini, dibagi menjadi dua. Pertama, ilmu yang berasal dari inderawi, sebagaimana disebutkanya lafadz as-sam’ (pendengaran) dan al-bashor (penglihatan). Kedua, ilmu yang berasal dari akal (‘aqliy), sebagaimana disebutkanya lafadz al-fuad (hati/pikiran) (Fakhr ad-Din Ar-Razy, Mafatih al-Ghaib, Juz. 20, hal. 341). Semuanya merupakan alat atau peranti seseorang dalam mengelola pengetahuan, sehingga penggunaanya akan dimintai pertanggung jawaban di hari hisab kelak.

Adanya pertanggungjawaban pada indera-indera tersebut, membuat sahabat Nabi, Syakal bin Humaid Ra. meminta Rasulullah SAW. untuk mengajarkan doa sebagai perlindungan dari keburukan indera tersebut. Kemudian Rasulullah SAW. meraih tangan Syakal dan mengajarkanya untuk mengucapkan doa berikut yang dicatat oleh Nawawi al-Bantani dalam Muroh Labid Tafsir An-Nawawiy, Juz. 1, hal. 478:

أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِيْ وَ شَرِّ بَصَرِيْ وَ شَرِّ لِسَانِيْ وَ شَرِّ قَلْبِيْ وَ شَرّرِ مَنِيِيْ

Dari berbagai penjelasan ini, dapat dipahami bahwa surah al-Isra ayat 36 melarang kita untuk berkomentar tanpa ilmu; tabayyun (konfirmasi) terhadap suatu informasi; bersikap hati-hati dalam menggunakan semua indera, karena ia akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat kelak. Untuk itu, kita mesti senantiasa minta perlindungan kepada Allah dari keburukan indera kita sendiri dengan doa yang sudah diajarkan Rasulullah saw. termasuk saat jari-jari kita berselancar di media sosial. Wallahu a’lam bish showab.

Nuzula Nailul Faiz
Santri PP Nurul Ummah Yogyakarta dan mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis berbagai situs keislaman.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

0
Ketika menjadi pemimpin, seseorang hendaknya memiliki kepribadian yang baik dan mampu memimpin anggotanya dengan baik pula. Selain itu, pemimpin juga seringkali dituntut dapat mengambil...