Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 50-51: Tidak Ada Peluang untuk Menyekutukan Allah

Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 50-51: Tidak Ada Peluang untuk Menyekutukan Allah

Syirik (menyekutukan Allah) sejatinya tidak hanya terbatas pada definisi berpaling dari Allah Swt., menuju hal yang dianggapnya sebagai Tuhan. Melainkan perbuatan menduakan Allah dengan menganggap zat lain memiliki kesamaan dengan Allah pun sudah termasuk dalam perbuatan syirik.

Penjelasan tersebut sejalan dengan yang dijelaskan oleh Syekh Ibnu ‘Asyur dalam Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, bahwa syirik ialah perbuatan menyekutukan Allah dengan perkara lain, baik menyangkut urusan ketuhanan maupun peribadatan. Begitu juga yang dikemukakan Ibn Mandzur dalam kamus Lisanul ‘Arab, bahwa syirik ialah menyekutukan Allah dalam urusan ketuhanan. Atau dengan kata lain, menuhankan perkara lain, selain Allah Swt., padahal sejatinya tidak ada satu pun yang menyamai Allah Swt.

Allah telah memberikan imbauan kepada hamba-Nya supaya tetap beriman kepada-Nya. Juga menyampaikan berbagai argumen agamis maupun logis tentang keesaan dan kuasa-Nya, berikut dengan bukti-buktinya. Akan tetapi manusianya saja yang acap kali tak menghiraukan imbauan Tuhan yang disampaikan melalui utusan-Nya.

Baca juga: Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 79: Manusia Bertanggung Jawab Atas Perbuatan Dosa

Tafsir ayat

Argumen tentang keesaan Allah yang terdapat dalam Al-Quran ada yang disampaikan secara lugas dan langsung tampak bahwa Allah itu Esa dari makna zahirnya, seperti dalam surah Al-Ikhlas. Juga ada yang jika dipahami mendalam, baru kita tahu bahwa itu merupakan argumen keesaan Allah Swt., sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Kahfi [18] ayat 50-51.

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَـٰۤىِٕكَةِ ٱسۡجُدُوا۟ لِـَٔادَمَ فَسَجَدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِبۡلِیسَ كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِۦۤۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّیَّتَهُۥۤ أَوۡلِیَاۤءَ مِن دُونِی وَهُمۡ لَكُمۡ عَدُوُّۢ بِئۡسَ لِلظَّـٰلِمِینَ بَدَلࣰا

مَّاۤ أَشۡهَدتُّهُمۡ خَلۡقَ ٱلسَّمَـٰوَ ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَا خَلۡقَ أَنفُسِهِمۡ وَمَا كُنتُ مُتَّخِذَ ٱلۡمُضِلِّینَ عَضُدࣰا

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (Iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang yang zhalim

Aku tidak menghadirkan mereka (Iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan Aku tidak menjadikan orang yang menyesatkan itu sebagai penolong [Q.S. Al-Kahfi (18): 50-53]

Awalnya diceritakan bahwa tatkala Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam, semuanya taat dan tak ada yang membangkang, kecuali iblis dan anak turunnya. Dalam Tafsir al-Jalalain, Imam Jalaluddin al-Mahalli menafsirkan bahwa sujud yang dimaksud di sini bukanlah sujud dengan meletakkan kepala sebagaimana ketika kita salat. Melainkan sekadar membungkuk (inhina’) sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Adam.

Baca juga: Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 16-17: Kisah Iblis Mengganggu Manusia

Karena kelakuan iblis itulah, selanjutnya ia dilabeli dengan makhluk pembangkang. Jikalau iblis disebut sebagai makhluk pembangkang, lantas apakah pantas jika iblis justru diikuti dan ditaati oleh manusia? Tentu tidak! Sehingga, kemudian ditegaskan bahwa iblis lebih pantas diposisikan sebagai musuh bagi orang-orang mukmin, daripada dijadikan teman, atau bahkan dijadikan sebagai sesembahan.

Sekutu bagi Allah itu mustahil

Apabila membaca ayat Al-Quran surah Al-Kahfi ayat 51, dan memaknainya secara zahir atau yang tampak saja, maka bisa jadi pelajaran yang diperoleh hanyalah mengetahui bahwasanya iblis beserta keturunannya tidak dilibatkan Allah dalam proses penciptaan makhluk. Penjelasan tersebut diketahui dari redaksi ayat “ma asyhadtuhum” hingga akhir ayat.

Tetapi secara khusus, redaksi “ma asdhadtu” ditafsirkan oeh Imam Ahmad ash-Shawi dengan redaksi “lam uhdhir”, yang maksudnya ialah Allah tidak menghadirkan iblis dan keturunanya dalam proses penciptaan alam. Kalau dihadirkan saja tidak, mana mungkin bisa berkontribusi. Argumen ini menunjukkan akan kelemahan iblis, yang sangat tidak patut jika manusia menjadikan iblis sebagai sekutu.

Baca juga: Tafsir Surat al-A’raf Ayat 12: Congkak Bentuk Pembangkangan Iblis terhadap Allah

Melalui ayat tersebut, dapat kita mengerti bahwasanya Allah mengukuhkan posisi-Nya sebagai Tuhan yang Esa dengan menafikan persangkaan orang musyik dalam memposisikan iblis dan anak turunnya. Karena Allah itu Esa, maka semakin jelas bahwa tidak mungkin ada yang setara dengan-Nya dan tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Ketika tidak ada sekutu bagi-Nya, maka sebenarnya sudah hilang peluang bagi makhluk untuk bisa menyekutukan Allah Swt. Wallahu a’lam bish shawab[]

Habib Maulana Maslahul Adi
Lulusan Program Magister UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Nyantri di PP Darul Mubarok Kudus & PP Al-Luqmaniyyah Yogyakarta.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

0
Ketika menjadi pemimpin, seseorang hendaknya memiliki kepribadian yang baik dan mampu memimpin anggotanya dengan baik pula. Selain itu, pemimpin juga seringkali dituntut dapat mengambil...