BerandaTafsir TematikTafsir Surah Al-Qasas Ayat 77: Ingat Akhirat Harus, Tapi Dunia Jangan Dilupakan

Tafsir Surah Al-Qasas Ayat 77: Ingat Akhirat Harus, Tapi Dunia Jangan Dilupakan

Bagi setiap muslim, doa sapu jagad (lihat QS. Al-Baqarah [2]: 201) bukanlah hal asing. Pasalnya, setiap hari, selepas shalat lima waktu, kita selalu membacanya. Doa yang di dalamnya berisi tentang permohonan agar selalu diberikan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta memohon lindungan dari azab neraka

Kebaikan di akhirat tentulah dambaan setiap insan, pun dengan kebaikan di dunia. Sebab, dunia adalah tempat transit untuk kehidupan akhirat. Di dunia kita berniaga mencari berbagai penghidupan. Sayangnya, terkadang kita sering mendengar ucapan “Buat apa sih ngejar-ngejar dunia, ndak guna karena tidak bisa dibawa mati”. Tunggu dulu, ucapan itu jangan ditelan mentah-mentah agar kita tidak salah memahami. Padahal untuk hidup dunia kita butuh makan, minum, pakaian dan lai-lain. Lalu bagaimana al-Qur’an bicara tentang bagian seseorang dari kenikmatan duniawi?

Baca Juga: Tafsir Al-Baqarah Ayat 28: Alasan dan Cara Mensyukuri Kehidupan Dunia

Sejalan dengan hal di atas, Al-Quran memberi kita rambu-rambu agar tidak melupakan bagian kita di dunia sebagai seorang hamba. Pesan tersebut terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Qasas Ayat 77.

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Terjemah Kemenag 2019)

Tafsir Surah Al-Qasas Ayat 77

Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim menafsirkan ayat di atas agar kita selalu menggunakan harta dan nikmat sebagai bekal bentuk ketaatan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan berbagai macam kebaikan agar mendapat pahala di dunia dan kebaikan diakhirat. Diperbolehkan kepadamu oleh Allah untuk makan, minum, pakaian, rumah dan nikah. Sebab engkau punya kewajiban terhadap Tuhanmu, dirimu, dan keluargamu. Maka penuhilah kewajiban tersebut. Serta berbuat baiklah kepada sesama makhluk sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Janganlah engkau berkeinginan untuk berbuat kerusakan dimuka bumi dan jangan pula berbuat jahat kepada ciptaan-Nya. (Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, juz 10, hlm. 482)

Menurut M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah (vol.9, hlm. 665) frasa wala tansa nashibaka min ad-dunya merupakan larangan melupakan atau mengabaikan bagian seseorang dari kenikmatan duniawi. Larangan itu dipahami oleh sementara ulama bukan dalam arti haram mengabaikannya, tetapi dalam arti mubah (boleh untuk mengambilnya).

Sedangkan menurut Ibn ‘Asyur, lanjut Shihab, memahami frasa di atas dalam arti bahwa Allah tidak mengecammu jika engkau mengambil bagianmu dari kenikmatan duniawi selama bagian itu tidak atas resiko kehilangan bagian kenikmatan ukhrawi. Adapun Thabathaba’i memahami penggalan ayat di atas dalam arti jangan sampai kita mengabaikan apa yang dibagi dan dianugrahkan Allah kepadamu dari kenikmatan duniawi dan gunakanlah hal itu untuk kepentingan akhiratmu sebagai bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal.

Ayat di atas dalam tafsir Kementerian Agama dibagi ke dalam beberapa point, pertama, orang yang dianugerahi oleh Allah kekayaan yang berlimpah ruah, perbendaharaan harta yang bertumpuk-tumpuk, serta nikmat yang banyak, hendaklah ia memanfaatkan di jalan Allah, patuh dan taat pada perintah-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya untuk memperoleh pahala sebanyak-banyaknya di dunia dan akhirat.

Kedua, setiap orang dipersilakan untuk tidak meninggalkan sama sekali kesenangan dunia baik berupa makanan, minuman, pakaian, serta kesenangan-kesenangan yang lain sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran yang telah digariskan oleh Allah. Baik Allah, diri sendiri, maupun keluarga, mempunyai hak atas seseorang yang harus dilaksanakannya. Ketiga, setiap orang harus berbuat baik sebagaimana Allah berbuat baik kepadanya, misalnya membantu orang-orang yang memerlukan, menyambung tali silaturrahim, dan lain sebagainya. Dan, keempat, setiap orang dilarang berbuat kerusakan di atas bumi, dan berbuat jahat kepada sesama makhluk, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Baca Juga: Tafsir Surah At-Taubah Ayat 24, Isyarat Larangan Cinta Dunia yang Berlebihan

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Asakir dalam Mukhtar al-Hadist al-Nawawi (hlm. 25) disebutkan bahwa “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok”.

Dari berbagai pandangan dan hadits di atas, menjadi jelas bahwa siapapun kita boleh ibtigha (mencari) serta menggunakan harta untuk tujuan kenikmatan duniawi. Dengan syarat tidak berlebih-lebihan hingga melupakan kewajiban kepada Allah, keluarga, dan diri sendiri. Semoga kita selau dalam lindungan-Nya serta mendapatkan kebaikan-kebaikan yang kita perbuat baik di dunia ataupun di akhirat. Ihdina ash-Shirat al-Mustaqim. Wallahu a’lam.

Abdus Salam
Abdus Salam
Alumni STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta. Penikmat kopi dan kisah nabi-nabi.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Manuscript Culture Naskah Jalalain MAJT

Manuscript Culture Naskah Jalalain MAJT 

0
Studi parateks pada naskah kuno terinspirasi dari karya Gerard Genette berjudul Seuils. Alih-alih menyajikan teks yang siap ‘dikonsumsi’ pembaca khas kajian filologi, parateks lebih...