Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surah Yasin Ayat 32: Pada Akhirnya Semua Akan Menghadap Allah SWT

Tafsir Surah Yasin Ayat 32: Pada Akhirnya Semua Akan Menghadap Allah SWT

Kebanyakan manusia menyia-nyiakan kesempatan baik. Entah itu disengaja atau terpaksa. Begitu banyak umat yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan baik, sebagaimana umat-umat terdahulu yang telah disampaikan dalam artikel sebelumnya.

Penyesalan mereka dinyatakan oleh Allah swt secara langsung. Hal itu menunjukkan betapa kelirunya mereka yang memilih ingkar kepada utusan Allah dan pada akhirnya harus mempertanggung jawabkan perbuatannya kelak di hari Kiamat.

Di hadapan Allah seluruh manusia harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya ketika di dunia. Terkait hal ini akan disampaikan tafsir surah Yasin ayat 32. Ayat ini sekaligus menjadi penutup kisah ashab al-qaryah yang telah dibahas mulai dari ayat 13 hingga ayat ke 32 ini. Adapun redaksi lengkapnya sebagai berikut:

وَاِنْ كُلٌّ لَّمَّا جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ ࣖ

“Dan setiap (umat), semuanya akan dihadapkan kepada Kami.”

Terdapat dua jenis bacaan dalam ayat ke 32 ini. Perbedaannya ditentukan oleh kata In (اِنْ). Apabila kata In (اِنْ) dianggap sebagai In nafiah (نافية اِنْ) yang bermakna tidak, maka lamma (لَّمَّا) dibaca lamma (لَّمَّا) dengan menggunakan tasdid di atas huruf mim. Maknanya seperti kata illa (الا).  Bacaannya seperti yang tertera di atas.

Apabila kata In (اِنْ) ini dianggap sebagai In mukhafafah min al-tsaqilah (مخففة من الثقيلة اِنْ) maka kata lamma (لَّمَّا) dibaca lama (لَّمَا) tanpa tasydid di atas huruf mim. Maka hasilnya dibaca:

وَاِنْ كُلٌّ لًمَا جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ

Hal ini dikemukakan hampir oleh mayoritas mufassir, semisal al-Thabari, al-Zamakhsyari, Ibnu ‘Asyur, maupun Ibnu Katsir. Namun yang terpenting adalah makna dari perbedaan qiraat tersebut sama, sebagaiman ditegaskan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim.

Thabari, meriwayatkan dari Qatadah bahwa maksud dari ayat di atas adalah hari kiamat. Al-Zamakhsyari mengatakan bahwa kelak seluruh makhluk akan dikumpulkan di hadapan Allah swt, baik yang terdahulu maupun yang akan datang.

Kata yang menunjukkan makna pengumpulan tersebut adalah kata kullun (كُلٌّ) dan kata jami’un (جَمِيْعٌ). Wahbah Zuhaili mengatakan bahwa tanda tanwin pada kata kullun (كُلٌّ) menunjukkan adanya pembuangan kata. Kata yang dibuang menurut Wahbah Zuhaili adalah al-qurun (القرون) jika disusun menjadi kullu al-qurun (كل القرون) yang berarti seluruh manusia.

Sedangkan kata jami’un (جَمِيْعٌ) menurut Quraish Shihab bermakna menghimpun. Bukan bermakna seluruhnya. Karena makna seluruhnya sudah tercukupi dalam kata kullun (كُلٌّ). Lebih lanjut, Quraish Shihab mengatakan bahwa kata jami’un (جَمِيْعٌ) ini bermakna bahwa semua generasi itu dihimpun dalam waktu yang sama dan ditempat yang sama. Ayat ini serupa dengan firman Allah dalam surat Hud ayat 103, yaitu:

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّمَنْ خَافَ عَذَابَ الْاٰخِرَةِ ۗذٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوْعٌۙ لَّهُ النَّاسُ وَذٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُوْدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan (untuk dihisab), dan itulah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).”

Al-Zamakhsyari mengatakan bahwa penghimpunan ini dalam konteks penyiksaan. Maka dari itu kiranya kita patut untuk berhati-hati agar kelak pada hari kiamat kita tidak termasuk golongan orang-orang yang akan disiksa oleh Allah swt akibat perbuatan buruk yang dilakukan ketika di dunia. Manfaatkan kesempatan sebaik-baiknya untuk menjadi pribadi terbaik agar kelak pada hari kiamat dikumpulkan bersama orang-orang yang salih.

Kiranya sekian penjelasan singkat tafsir surat Yasin ayat 32. Nantikan penjelasan berikutnya. Wallahu A’lam bi al-Sawab.[]

Maqdis
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pegiat literasi di CRIS Foundation.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...