Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6-7: Kepada Siapa Nikmat Itu Diberikan?

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6-7: Kepada Siapa Nikmat Itu Diberikan?

Surat Al-Fatihah yang berisikan tujuh ayat, surat yang mengandung pujian kepada Allah SWT dan menyebutkan asma-asmaNya yang terbaik. Selain itu, pada surat Al-Fatihah telah terangkum tujuan dari Al Quran, serta mengantarkan umat muslim sampai pada surga yang penuh kenikmatan.

Hal tersebut tertera pada ayat keenam dan ketujuh, Allah memberikan kenikmatan kepada hambanya. Lantas, kepada siapa Allah akan memberikan kenikmatan tersebut? Berikut penjelasannya.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ 

 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tunjukkan jalan yang lurus, jalan orang yang Kauberi nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurka, dan bukan (jalan) mereka yang sesat (QS. Al-Fatihah ayat 7).

Tafsir Ayat

Dua ayat di atas menjelaskan bahwa, ada golongan yang dimurkai. Mereka merupakan orang yang berilmu, akan tetapi tidak mengamalkan ilmunya. Ada pula golongan orang yang sesat. Mereka adalah ahli ibadah, akan tetapi tidak mempunyai ilmu. Maksudnya kehidupan mereka hanya terfokus dengan ibadah dan sangat mengabaikan keilmuan, dan bahkan menganggap dengan belajar ilmu akan mengurangi waktu ibadah.

Selain itu, Allah juga menyebut golongan yang mendapatkan nikmat. Mereka adalah yang mempuyai karakter berilmu dan beribadah, hal ini selaras dengan pendapat Ibnu Katsir pada kitab tafsirnya. Bahwa golongan yang mendapatkan nikmat, dijelaskan pada surat An-Nisa’ ayat 69-70.

Menurut tafsir Ibnu Katsir kedudukan menafsirkan makna siratal mustaqim mempunyai makna bahwa orang-orang yang memperoleh anugrah nikmat adalah yang disebutkan dalam surat An-Nisa ayat 69-70:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

  ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا 

“Dan barang siapa taat kepada Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para siddiqin, para syuhada, dan orangorang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yanh demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui” (QS. An-Nisa’ ayat 69-70).

Kemudian, mengupas makna “para nabi” juga ada beberapa pendapat, bahwa yang dianugrahi nikmat oleh Allah yaitu para Nabi. Ibnu Juraij meriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud “para nabi” ialah mereka orang-orang yang beriman. Sedangkan Pendapat dari Waki’, ia mengatakan bahwa “para Nabi” yang dimaksud pada ayat tersebut ialah orang-orang muslim. Selanjutnya, dari pendapat Abdur rahman bin Zaid bin Aslam, bahwa orang yang mendapatkan nikmat adalah orang yang mengikuti para Nabi.

Pendapat dari Az-Zamakhasyari mengatkan bahwa makna ayat “tunjukkanlah kami jalan yang lurus” yaitu jalan orang-orang yang telah Allah berikan nikmat kepada mereka yang telah disebutkan ciri-cirinya. Mereka ialah orang-orang yang ahli hidayah, dalam artian taat kepada Allah, istiqomah dalam mengerjakan ibadah, menjahi segenap larangan Allah.

Selanjutnya pendapat Az-Zamakhasyari dikuatkan lagi pada ayat wa lad dhaalliin., Di situ ada kata wa yang menunjukkan ada dua jalan yang tidak baik, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Dan menurut ulama Nahwu ada sebuah pengecualian pada kalimat ghairil karena berkedudukan menjadi munqati’. Oleh Karena itu maksudnya dikecualikan dari orang-orang yang menapatkan nikmat.

Kenapa ada pengecualian pada dua golongan tersebut?, sebab, orang-orang Yahudi telah hilang pengamalan ibadahnya, sedang orang-orang Nasrani telah kehilangan ilmunya. Karena sesungguhnya orang-orang Yahudi yang mengetahui ilmu, akan tetapi tidak mengamalkannya, maka mereka termasuk durhaka. Sedangkan orang-orang Nasrani mengarah pada tujuan, akan tetapi tidak mengetahui jalan.

Dua Bentuk Nikmat dari Allah

Nikmat terbagi menjadi dua, yaitu nikmat wahbi (nikmat atau anugrah yang diberikan Allah begitu saja) hal ini berupa nikmat rohani dan jasmani. kategori rohani ialah berupa roh, akal pikiran, proses daya berfikir dan lain sebagainya. Dan kategori jasmani ialah berupa kesehatan fisik dan kesempurnaan anggota badan.

kemudian yang kedua ialah nikmat kasbi (sebuah nikmat yang diupayakan). Maksudnya ialah dengan cara berusaha membersihkan atau menghindari batin dari sifat-sifat tercela, memperhias batin dengan menjalankan segala perintahNya serta menjauhi laranganNya.

Maka dari itu setelah ada yang melantumkan lafadz Shiraatal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil magdhuubi alaihim wa lad dhaalliin, dianjurkan untuk mengucapkan amin. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang mengamini sama halnya seperti berdoa untuk dirinya sendiri. Seperti yang dilakukan pada saat sholat berjama’ah, sebenarnya makmun hanya mengatakan amin sudah seperti membaca Al-Fatihah.

Semoga kita semua salah satu bagian yang mendapatkan nikmat Allah SWT. Amin.  Wallahu’alam.

 

Norma Azmi Farida
aktif di Cris Foundation (Center For Research of Islamic Studies) Redaktur Tafsiralquran.id
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Kiat-kiat pencegahan kemiskinan dalam Al-Quran

Al-Quran dan Upaya Pengentasan Kemiskinan

0
Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk memperhatikan segala aspek sosial kepada saudara Muslim lainya atau manusia pada umumnya. Salah satu yang ditekankan oleh Islam dalam...