Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 12-14: Allah Maha Mengetahui Sesuatu, Sekalipun Isi Hati...

Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 12-14: Allah Maha Mengetahui Sesuatu, Sekalipun Isi Hati Manusia

Termasuk yang harus diimani oleh umat Islam adalah bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, karena memang ini termasuk dari 20 sifat wajib Allah yang harus dipercayai. Tidak hanya itu, kesadaran bahwa Allah mengetahui segala sesuatu membuat muslim yang sedang membersihkan hatinya bisa lebih waspada untuk bertindak, atau dalam bahasa tasawuf dikenal dengan muraqabah (sikap awas). Demikianlah Allah menyampaikan dalam Surat Al-Mulk ayat 12-14 bahwa Ia Maha mengetahui, sekalipun terhadap isi hati manusia. Di samping juga menjanjikan kebaikan bagi yang dapat melaksanakan muraqabah.

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”

“Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.”

Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 8-11: Penyesalan Orang yang Ingkar di Hari Kiamat

Janji Allah bagi yang takut dan selalu sadar terhadap pengawasanNya

Seperti biasa, setelah menjelaskan orang yang tak patuh dan ancaman untuk mereka, Allah kemudian menunjukkan kebalikannya, yakni janji kepada hamba yang patuh, yang dalam konteks ini berupa orang-orang yang takut terhadap Allah. Pendapat demikian sebagaimana yang diutarakan kebanyakan mufassir, yang antara lain Ar-Razi dalam Mafatihul Ghayb, Al-Biqa’i dalam Nudzm ad-Durar, dan Quraish Shihab dalam Al-Mishbah.

Surat Al-Mulk ayat 14 mendeskripsikan perihal orang yang senantiasa takut terhadap Allah sekalipun Ia tidak terjangkau oleh penglihatan manusia. Dalam istilah tasawuf, ini dikenal dengan muraqabah, yang termasuk satu dari enam maqam (tingkatan) untuk membentuk pribadi yang waspada.

Mengutip Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, muraqabah didefinisikan dengan sikap menjaga rahasia dengan senantiasa awas terhadap Allah Yang gaib dengan situasi bagaimana pun (mura’atussirr bi mulahadzatil ghayb ma’a kulli lahdhatin wa lafzatin). Artinya, seseorang selalu merasa diperhatikan gerak-geriknya oleh Allah, sehingga ia selalu menjaga tindakannya.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 5-7: Balasan Bagi yang Tak Patuh Perintah

Muraqabah ini juga termasuk manifestasi dari ihsan, berdasarkan penggalan hadis tentang iman Islam dan ihsan Nabi riwayat Abu Hurairah dalam Shahih Al-Bukhari:

الإحْسَانُ أنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأنَّكَ تَرَاهُ، فإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فإنَّه يَرَاكَ

“Ihsan ialah ketika kamu menyembah Allah seakan kamu melihatNya, atau bila tidak, Allah Yang melihatMu”

Ihsan adalah level tertinggi diantara iman dan Islam, karena untuk memraktikkannya, seorang hamba juga dituntut untuk ikhlas dan senantiasa sadar bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Sehingga, meski ia sedang sendiri, ia tetap takut untuk berbuat keburukan. Hal ini semakna dengan Quraish Shihab saat ia memaknai ayat 12 ini dengan orang yang kagum dan takut terhadap Allah walaupun mereka sedang sendiri atau Allah tidak tampak oleh penglihatannya.

Balasan bagi orang yang takut dan sadar bahwa Allah selalu mengawasinya tak lain ialah ampunan dan ganjaran melimpah. Ada satu rahasia mengapa ampunan (al-maghfirah) disebut lebih dahulu daripada ganjaran (ajrun) di ayat tersebut. Sebagaimana yang disampaikan Ibnu ‘Asyur dalam at-Tahrir wat Tanwir, pendahuluan ampunan karena untuk melegakan hati umat Islam pada waktu itu yang takut akan tertimpa siksa atas perbuatan kufurnya sebelum masuk Islam. Selain juga, lanjut Ibnu ‘Asyur, sebagai wujud daf’ud darr muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (menolak kemudaratan lebih didahulukan dari menarik manfaat).

Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 1-2: Bukti Kuasa Allah dan Barometer Pribadi Berkualitas

Penegasan keluasan ilmu Allah

Ayat 13 dan 14 turun untuk merespons anggapan kaum musyrik Mekah bahwa Allah tidak mengetahui pembicaraan mereka yang samar. Berdasarkan hadis riwayat Ibnu ‘Abbas dalam Asbabun Nuzul anggitan al-Wahidi, suatu ketika mereka (kaum musyrikin Mekah membicarakan Nabi), sementara Jibril memantau pembicaraan mereka itu. Kemudian mereka saling berkata:

أَسِرُّوا قَوْلَكُمْ لِئَلَّا يَسْمَعَ إِلَهُ مُحَمَّدٍ

“lirihkanlah suaramu agar Tuhannya Muhammad tidak dengar”

Lalu, turunlah ayat ini untuk memberi tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, sekalipun isi hati manusia.

Perintah untuk melirihkan (asirru) atau melantangkan suara (ijharu) sejatinya bermakna taswiyyah (menyamaratakan). Dengan mengacu pada sebab turunnya ayat dan frasa setelahnya yang berarti “Allah sungguh mengetahui segala isi hati”. Sehingga, adalah sama saja, mereka, orang-orang musyrik bicara lantang atau lirih, Allah pasti tahu segala detil perkataannya. Hal ini serupa dengan firman Allah dalam surat At-Tur ayat 16:

ٱصۡلَوۡهَا فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Masuklah ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; sesungguhnya kamu hanya diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.

Bidzatis shudur diartikan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan ma khatara fil qulub (sesuatu yang terbersit dalam hati). Pengertian ini kemudian dikembangkan oleh Ibnu ‘Asyur dengan segala yang berlalu-lalang dalam hati manusia, baik itu niat, gertakan hati, dan lain sebagainya.

Meskipun memiliki konteks khusus, ayat ini menyapa seluruh manusia. Sehingga, siapa pun yang main rahasia-rahasiaan baik berupa perkataan atau perbuatan, sesungguhnya Allah telah lebih dulu mengetahui rahasia itu, bahkan sejak dalam rencana.

Allah kemudian menegaskan kemaha-mengetahuiNya atas segala sesuatu pada ayat ke-14 dengan mengungkapkan pertanyaan bernada inkar. “Apakah pantas Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui?”

Pengetahuan Allah terhadap segala sesuatu merupakan keniscayaan, karena Ia Yang Maha menciptakan. Sebagaimana yang disampaikan Ibnu ‘Asyur, sifat ilmu yang dimiliki Allah berhubungan dengan ciptaanNya dan keadaan ciptaanNya itu. Hal ini tak lain sebab proses penciptaan ialah mewujudukan sesuatu dengan bentuk tertentu. Dan untuk itu, Sang Pencipta pasti memiliki kehendak dan pengetahuan terhadap yang akan Ia ciptakan.

Lafadz lathif dan khabir yang menjadi pemungkas ayat 14 mempertegas  ilmu Allah yang meliputi semua hal. Al-Ghazali mengartikan lathif dengan Dzat Yang mengetahui kemaslahatan secara detil dan seluk-beluk rahasianya. Sementara khabir berarti Yang mengetahui sesuatu hingga lini terkecilnya.

Demikianlah tafsir Surat Al-Mulk ayat 12-14 cukup kuat untuk menjadi dalil akan keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Semoga, kita dapat belajar untuk sadar bahwa kita selalu dalam pantauan Allah, sehingga perbuatan baik dilakukan dengan ikhlas, tidak lagi pandang tempat, waktu, atau untuk siapa kita berbuat. Wallahu a’lam[]

 

Halya Millati
Redaktur tafsiralquran.id, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya, pegiat literasi di CRIS Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...