Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surat Yasin Ayat 28-29: Akibat Mendustakan Rasul

Tafsir Surat Yasin Ayat 28-29: Akibat Mendustakan Rasul

Habib an-Najjar yang membela para utusan dibunuh oleh penduduk Antokiah. Diterangkan sebelumnya bahwa Habib terpilih sebagai penghuni surga dan sampai menjelang ajalnya, ia tetap menyampaikan pesan damai kepada kaumnya. Lantas bagaimana nasib orang-orang yang mendustakan Habib dan para rasul tersebut? Untuk mengetahuinya, mari kita bahas tafsir surat Yasin ayat 28-29 berikut:

وَمَا أَنزَلْنَا عَلَىٰ قَوْمِهِ مِن بَعْدِهِ مِن جُندٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ.

إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ.

(28) Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.

(29) Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.

Dua ayat di atas secara umum membicarakan nasib kaum yang telah mendustakan ajaran rasul mereka dan membunuh seorang lelaki mukmin. Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa kaum tersebut adalah penduduk desa Antokiah, sementara lelaki mukmin tersebut bernama Habib an-Najjar. Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Qatadah dan selainnya.

Baca Juga: Ibn Katsir: Sosok di Balik Lahirnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim

Sebagai akibat perbuatan itu, mereka ditimpa azab berupa suatu teriakan yang seketika membinasakan mereka. Allah Swt tidak hendak mengazab mereka dengan mengirimkan pasukan dari langit. Demikian penjelasannya menurut Wahbah az-Zuhaili.

Menurunkan pasukan dari langit hanya untuk membinasakan mereka memang tidak perlu dan tidak layak dilakukan oleh Allah Swt. Penurunan pasukan dari langit merupakan perkara besar, sementara manusia-manusia durhaka tersebut sangatlah hina dan kecil di hadapan Allah Swt.

Begitu pula kata jundun (pasukan) di sini yang diutarakan dalam bentuk mufrad (tunggal), bukan junud (pasukan-pasukan) sebagaimana biasanya. Ibn Katsir menjelaskan hal tersebut berdasarkan riwayat dari Ibn Mas’ud, bahwa gaya bahasa ini bermaksud menyepelekan kaum Antokiah, bahwa perkara mereka sangatlah remeh bagi Allah Swt.

Mengenai penafsiran kata jundun sendiri setidaknya ada dua pendapat. Pendapat pertama, jundun bermakna utusan lain yang membawa risalah baru. Ini pandangan dari Mujahid dan Qatadah sebagaimana yang dikutip dalam Tafsir Ibn Kasir. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa jundun adalah pasukan yang terdiri dari para malaikat yang dikirim dari langit.

At-Thabari dan mayoritas ulama lebih condong pada makna kedua ini. Sebab menurutnya utusan atau risalah tidak pernah disebut sebagai pasukan langit. Para nabi dan rasul adalah manusia pada umumnya yang berasal dari bumi, sementara yang berasal dari langit adalah malaikat dan sejenisnya.

Mengenai hal ini, Nawawi al-Bantani mengaitkannya dengan pengutusan rombongan tentara malaikat dalam peperangan Nabi Saw. Bahwa dalam membinasakan kaum-kaum durhaka terdahulu, Allah Swt tidak menurunkan malaikat, melainkan cukup dengan bencana alam seperti banjir, gempa, angin topan dan teriakan keras. Adapun mengirimkan rombongan tentara malaikat demi kemenangan Nabi Muhammad Saw merupakan sebuah penghormatan pada beliau.

Adapun kata saihah wahidah pada ayat kedua menurut Ibn ‘Asyur menegaskan bahwa hanya perlu sekali teriakan saja bagi Allah Swt untuk membinasakan mereka, tidak lebih. Sedangkan kata iza di kalimat selanjutnya bermakna fujaiyyah, yakni mengisyaratkan mereka akan segera binasa seketika itu juga setelah mendengar teriakan tersebut.

Satu teriakan yang berasal dari malaikat Jibril tersebut seketika membuat mereka tak mampu bersuara dan bergerak lagi, laksana api yang telah padam. Dalam bahasa Arab, api yang padam disebut khamid. Maka diksi ini dipilih untuk menggambarkan kematian mereka yang seketika itu.

Teriakan tersebut menurut Hamka bisa jadi bukan seperti teriakan manusia atau makhluk hidup lainnya, melainkan teriakan alam. Semisal suara keras dari letusan gunung berapi yang menumpahkan laharnya. Bisa pula berupa bunyi gelombang air bah atau banjir besar akibat tsunami dan sebagainya.

Baca Juga: Buya Hamka, Mufasir Reformis Indonesia Asal Minangkabau

Pada ayat ini At-Thabari juga menyebutkan qiraat (ragam bacaan) lain, yakni dari Abu Ja’far al-Madani. Al-Madani membaca, “in kanat illa saihatun wahidatun”. Akan tetapi menurut at-Tabari, qiraat yang lebih populer dan sahih ialah sebagaimana yang tertulis di awal, “in kanat illa saihatan wahidatan.” Wallahu a’lam bis sawab.

Demikian penjelasan ringkas dari tafsir surat Yasin ayat 28-29. Nantikan tulisan selanjutnya dari serial tafsir surat Yasin di portal tafsiralquran.id. Semoga bermanfaat.

Lukman Hakim
Pegiat literasi di CRIS Foundation; mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Air: Anugerah Ilahi dan Etika Manusia Terhadapnya

0
Air adalah anugerah Ilahi yang diturunkan ke muka bumi, kekayaan yang berharga dan warisan penting bagi generasi mendatang. Maka sejatinya kita harus mensyukuri segala...