Beranda Tafsir Tematik Tauhid Sebagai Materi Dasar dalam Pendidikan

Tauhid Sebagai Materi Dasar dalam Pendidikan

Tauhid merupakan materi dasar dalam pendidikan. Hal ini karena tanpa mengetahuinya, peserta didik akan memiliki tingkat spiritualitas rendah. Maka, sejak dini peserta didik harus ditanamkan nilai-nilai ketauhidan kepada Allah swt.

Tauhid bermakna mengesakan Tuhan Allah swt sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Tauhid inilah yang berperan penting sebagai pondasi yang mendasari setiap perkataan dan perbuatan yang dilakukan peserta didik. Pesan untuk mentauhidkan-Nya tersirat dalam QS. An-Nahl [16] ayat 1:

اَتٰىٓ اَمْرُ اللّٰهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوْهُ ۗسُبْحٰنَهُ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

Ketetapan Allah pasti datang. Maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang)nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 1

Menurut hadis riwayat Ibnu Abbas dalam Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, saat ayat ini turun dengan redaksi “Ketetapan Allah pasti datang,” para sahabat terkejut. Barulah setelah turun ayat kelanjutannya, “Maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang) nya”. Lalu, para sahabat tenang kembali.

Dalam Zawaid al-Zuhd juga tertera bahwa Abdullah bin Imam Ahmad mencantumkan sebuah atsar dari Ibnu Jarir, Abi Hatim dari Abu Bakar bin Abi Hafs. Abu Bakar menuturkan tatkala ayat turun dengan redaksi, “Ketetapan Allah pasti datang” lantas membuat kaget para sahabat hingga berdiri. Kemudian turunlah ayat selanjutnya, “Maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (kedatangan) nya.” Barulah para sahabat merasa tenang dan duduk kembali.

Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Muhammad ‘Ali al-Shabuny dalam Shafwah al-Tafasir menjelaskan bahwa Allah swt menceritakan tentang dekatnya masa hari kiamat yang diungkapkan dalam bentuk fi’il madhi (kata kerja lampau). Ini menunjukkan bahwa hal itu pasti terjadi.

Adapun redaksi fala tasta’jiluh dijelaskan bahwa hal yang dianggap jauh seperti halnya hari kiamat waktunya telah dekat. Maka janganlah mereka meminta lagi agar disegerakan datangnya. Dhamir hu (kata ganti) yang terdapat pada tasta’jiluhu merujuk kepada Allah. Dapat juga ditafsirkan bahwa ia kembali kepada azab, keduanya saling menguatkan.

Terkait dengan ayat ini, al-Dhahhak mengemukakan suatu pendapat yang nyeleneh. Ia mengatakan bahwa yang dimaksud dengan amrullah adalah hal-hal yang diwajibkan oleh-Nya dan batasan larangan-Nya. Namun, Ibnu Jarir menyanggahnya.

Ia berujar, “Kami tidak pernah mengetahui ada seorang yang meminta agar hal yang sifatnya fardhu dan syariat disegerakan pelaksanaannya sebelum waktunya. Lain halnya dengan azab. Mereka meminta disegerakan azab sebelum tiba waktunya, sebagai ungkapan rasa ketidakpercayaan dan mustahil akan terjadi.”

Mengetahui ada seorang yang meminta agar hal yang fardu dan syariat disegerakan pelaksanaannya sebelum waktu keberadaannya. Lain halnya dengan azab. Mereka meminta agar azab disegerakan sebelum tiba masa turunnya, sebagai ungkapan rasa tidak percaya dan anggapan mustahil akan terjadi.”

Sejalan dengan itu, At-Thantawi dalam At-Tafsirul Wasith menafsirkan ataa dengan qarbun wa duna bi dalilin (dekat dan tanpa dalil). Artinya, ketetapan Allah swt itu dekat dan tanpa tanda-tanda sebab hanya Allah swt yang mengetahui.

Adapun fala tasta’jiluhu dimaknai larangan untuk menyegerakan suatu perkara sebab apa yang mereka minta untuk disegerakan belum tentu pasti terjadi.

Tauhid Sebagai Materi Dasar dalam Pendidikan

Sekilas ayat di atas tidak secara eksplisit menyuratkan adanya perintah untuk mentauhidkan Allah swt sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Namun, apabila diperhatikan lebih dalam akan terlihat bahwa di dalamnya terdapat perintah untuk mentauhidlkan-Nya. Pada redaksi selanjutnya, subhanahu wa ta’ala ‘amma yusyrikun (Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan).

Satu pesan yang dapat diambil bahwa Allah swt sebagai Tuhan yang patut dan berhak disembah tidaklah sama dengan apa yang dipersekutukan mereka. Materi tauhid merupakan pondasi awal yang harus diajarkan dan ditanamkan sebagai materi dasar untuk pendidikan.

Tanpa ketauhidan, maka semua apa yang kita lakukan bernilai sia-sia atau nihil. Sebab tauhid merupakan puncak dari semua pekerjaan yang kita lakukan tidak lain dan tidak bukan tujuannya hanya Allah semata.

Jika Allah ridha terhadap kita, hidup kita akan mudah dan berkah. Begitu pula dengan peserta didik. Jika semua aktifitas menuntut ilmu diniatkan hanya Allah swt, Insya Allah ilmu yang diperoleh berkah dan manfaat bagi dirinya sendiri maupun masyarakat. karenanyalah, tauhid memang seharusnya menjadi materi dasar dalam pendidikan. Wallahu a’lam.

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...