Beranda Berita Tafsiralquran.id bersama CRIS Sukses Menggelar Webinar Bertajuk Tafsir Al-Quran Aktual Kemasyarakatan di...

Tafsiralquran.id bersama CRIS Sukses Menggelar Webinar Bertajuk Tafsir Al-Quran Aktual Kemasyarakatan di Media Massa

Tafsiralquran.id – Minggu (4/10), tafsiralquran.id bersama Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation kembali menggelar serial diskusi tafsir ke-2 bertajuk “Tafsir Al-Quran Aktual Kemasyarakatan di Media Massa” bersama Dr. KH. Mustain Syafi’i, M.Ag. sebagai narasumber utama, di mana beliau adalah salah satu pionir penulis tafsir di media massa. Webinar yang dihadiri lebih dari seratus partisipan ini membawa insight baru dalam jagat dunia penafsiran.

Yang menarik pada pembahasan kali ini, Kiai Mustain berhasil memberikan peneguhan kepada para peserta yang bergabung agar senantiasa luwes dalam mengaktualkan tafsir Al-Quran. “Tafsir merupakan anak zaman, maka dalam konteks ini, siapa saja yang bergelut dengan Al-Quran harus senantiasa hidup, baik pikirannya dan pandangannya. Al-Quran secara turunnya nuzul memang telah terhenti, namun secara ruh, Al-Quran senantiasa dapat diunduh hingga kapanpun”. Tutur Mudir Pesantren Madrasatul Quran, Tebuireng Jombang.

Beliau juga menuturkan bahwa tidak ada tafsir yang bersifat objektif, segalanya bersifat subjektif berdasarkan latar belakangnnya masing-masing. Kendati demikian terdapat yang objektif, dialah Allah swt, ini sebabnya setiap tafsir tidak bisa menyampaikan pesan Tuhan secara universal, namun dalam variannya, tafsir akan terus-menerus lahir berdasarkan pola-pola penafsir.

Makna Al-Quran sendiri selalu mempunyai pesan-pesan tersirat, tidak ada sedikitpun yang mulghoh (tidak bermanfaat atau terlepas begitu saja), akan ada isyarat-isyarat yang perlu dikaji mendalam agar dapat meraih pesan-pesan yang ingin Allah sampaikan.

Baca juga: Pionir Penulis Tafsir Tahlili di Media Massa, Bernama KH A. Musta’in Syafi’i

Melalui penjelasanya yang mendamaikan dan menyejukkan, terdapat beberapa poin yang menjadi garis besar pada diskusi ini, hal ini pula yang menjadi rambu-rambu untuk merespons tafsir Al-Quran aktual dengan keluwesannya, di antaranya,

  1. Teks / lughoh

Selagi makna Al-Quran dapat ter-cover dengan baik dan mampu dipahami secara teks dan konteks, maka pemaknaan tersebut sah-sah saja yang penting matching, dalam artian, sesuai antara lafadz dan pemaknaanya. Beliau mencontohkan dalam Surat Al-Ghasyiyah ayat 12 pada redaksi عين جارية, berdasarkan makna teks, ayat ini memuat makna mata mengalir, namun yang dimaksud bukanlah mata secara jasad yang digunakan untuk melihat, melainkan makna konteks secara luas yang berarti mata air yang mengalir.

  1. Siyaqul Kalam (Makna yang dikehendaki)

Adalah makna sebenarnya dari suatu ayat, beliau memberi contoh ketika Al-Quran berbicara tentang seseorang yang tidak mampu melaksanakan puasa ramadhan sehingga ia memiliki kewajiban untuk membayar fidyah, ini terekam dalam Q.S. Al-Baqarah: 184, Imam Syafi’i berpendapat, bahwa seorang perempuan yang sedang dibebani tanggung jawab menyusui anaknya sehingga tidak sanggup berpuasa maka ia wajib mengganti atau meng-qodho’ puasanya dan membayar fidyah.

Selain itu, Kiai Mustain memaknai ayat tersebut bahwa membayar fidyah pada era saat ini tidak perlu membayar dengan ukuran mud atau sho’ sebagaimana yang termaktub dalam fiqh klasik, sehingga fenomena sekarang ini cukup menggantinya dengan memberi makanan pokok sebagaimana yang dikonsumsi orang tersebut atau memberi harga sebanyak makanan yang dikonsumsi.

Baca juga: Follow Up Pengembangan Website, CRIS bersama tafsiralquran.id Menggelar Webinar Tafsir Al-Quran di Medsos

  1. Nash-Nash Kontradiktif (nasih-mansukh)

Masyarakat pada umumnya, menanggapi nas-nash kontradiktif ini dengan pendekatan yang diistilahkan nasikh mansukh atau Kiai Mustain membahasannya dengan disfungsi. Namun rupanya beliau tidak sependapat dengan hal ini, menurutnya “nasikh mansukh itu tidak ada. Kalaupun ada, itu merupakan perubahan suatu hukum setelah ayat sebelumnya yang Allah turunkan”. Ujar doktor alumni UIN Sunan Ampel.

Pada konteks ini, beliau mencontohkan tentang ayat yang menjelaskan saudara sepersusuan rodo’. Di mana dalam Al-Quran disebutkan bahwa dapat dikatakan saudara sepersusuan ketika mendapat 10 kali susuan, akan tetapi di ayat lain yang turun menjelaskan bahwa cukup dengan 5 kali susu-an.

Menurutnya, makna ini terikat dengan masalah asupan gizinya, jika kondisi ibu baik, kualitas air asi pun baik dan lancar, maka boleh menggunakan ayat pertama, yakni dengan 5 kali susuan. Namun jika sebaliknya, maka dapat dilakukan dengan 10 kali susuan.

Baca juga: Pentingnya Memahami Esensi Islam Sebagai Agama dan Pengaruhnya Bagi Penafsiran Menurut Prof. Quraish Shihab

Demikianlah penjelasan Kiai Mustain dalam webinar tersebut tatkala memaparkan panjang lebar terkait upaya pemaknaan Al-Quran yang selalu aktual beserta zamannya, kita dianjurkan untuk memaknai ayat-ayat Al-Quran dengan keluwesan-keluwesannya. “Karena semua ayat bahkan huruf Al-Quran sekalipun selalu memiliki pengertian dan manfaat, meski pada huruf و isti’naf  dan huruf muqatha’ah sekalipun, pasti ada makna tersirat di dalamya.” Tandas Kiai Mustain.

Usai penjelasan yang mendalam dari Kiai Mustain dilanjutkan dengan diskusi hangat beserta para peserta, lalu ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh beliau, semoga beliau selalu sehat dan berkah usia. Amin. Wallahu A’lam.

Mufidatul Bariyah
Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir Institut Kiai Haji Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto, aktif di CRIS (Center for Research and Islamic Studies) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Surah An-Nur ayat 26

Surah An-Nur Ayat 26: Penjelasan Ayat dan Konsep Jodoh

0
Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan begitu pula sebaliknya. Kita tentu familiar dengan kaidah ini. Kaidah ini diambil dari ayat Alquran Surah...