Beranda Tafsir Tematik Teladan Maulana Habib Luthfi: Belajar Tak Mudah Mengeluh dari Tafsir Ali Imran...

Teladan Maulana Habib Luthfi: Belajar Tak Mudah Mengeluh dari Tafsir Ali Imran Ayat 139

Peliknya kehidupan kerap membuat seseorang merasa lelah dan tidak menerima keadaan yang sedang dihadapinya. Pada kondisi ini, tak jarang manusia berkeluh kesah di antara perasaan kesal atas kesulitan, kesibukan, kesakitan, kegagalan dan penderitaan. Padahal, berkeluh kesah tidak pernah menyelesaikan masalah dan kesulitan, justru hanya akan memperburuk keadaan karena memancarkan energi negatif, rasa sedih, putus asa, bahkan meluapkan emosi sebagai bentuk pelampiasan. Dari sini, sangat menarik jika ada sosok tercinta yang mampu memberi teladan kita dalam belajar untuk tidak mudah mengeluh, yaitu dari sang teladan Maulana Habib Luthfi.

Pada dasarnya, dinamika kehidupan manusia adalah keniscayaan, tidak ada rasa senang dan susah yang tetap. Hambatan dan tantangan hidup tidak disajikan agar manusia mengeluh terhadap keadaan. Melainkan bagian dari kasih sayang Allah bagi hamba-hamba yang beriman. Menurut sebagian Sufi,  penderitaan hanyalah jalan menuju pembersihan diri dan kebahagiaan sejati, dan sudah sepatutnya manusia mengadapi ujian Allah dengan jiwa yang tegar. Mari mencoba mengingat kembali firman Allah yang diabadikan dalam surah Ali ‘Imran ayat 139:

 وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang beriman.

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 139

Mayoritas Ulama memiliki warna penafsiran yang sama dalam menjelaskan ayat ini. Misalnya dalam tafsir ath-Tabari dan al-Misbah, kedua kitab ini sama-sama menerangkan bahwa ayat ini berbicara tentang kekalahan umat Islam pada perang uhud, sebagian dari mereka menderita luka dan terbunuh. Kemudian turunlah ayat ini sebagai penghibur agar mereka tidak bersedih hati, berkeluh kesah apalagi berputus asa. Karena sesungguhnya, setelah mengalami kekalahan dalam perang uhud, Allah menyiapkan kemenangan yang gemilang dalam perang badar.

Baca juga: Surah Adz-Dzariyat Ayat 20-21, Melejitkan Nilai Tambah dan Potensi Kita

Pelajaran yang dapat dipetik dari ayat di atas adalah selama keimanan masih bersemai dalam dada, kegagalan atau rintangan dalam perjuangan tidak boleh mengundang kesedihan yang berlarut. Setiap muslim hendaknya menguatkan iman agar tidak patah semangat dan tidak berkeluh kesah dalam perjuangannya, tidak pula mudah menyalahkan orang lain, serta senantiasa introspeksi diri dan mendekatkan diri kepada Allah.

Teladan Maulana Habib Luthfi: Belajar Tak Mudah Mengeluh

Berbicara tentang keluh kesah, Maulana Habib Lutfi bin Yahya merupakan seorang tokoh dan sosok ulama Indonesia yang memiliki banyak muhibbin, bukan sekedar karena seorang Habaib, namun juga ketundukan perilaku yang sangat meneladani Rasulullah. Dikisahkan oleh salah satu santri beliau, Muhdhor Ahmad Assegaf, bahwa Habib Luthfi hampir tidak pernah mengeluh dalam hidupnya. apapun kondisi yang sedang dihadapinya; hambatan, ujian, rintangan selalu diterimanya dengan sabar, syukur, ikhlas dan senantiasa tersenyum bahagia.

Di antara satu hal yang patut di dikagumi dari guru kita Maulana Habib Luthfi adalah sosoknya yang periang, selalu terlihat ceria, elok dipandang. Kapan pun, di mana pun, dan pada kondisi apapun. Keceriaan wajahnya laksana pancaran dari cahanya hatinya yang selalu terisi rasa syukur dan kedekatan kepada Allah.

Padahal, aktivitas dan agenda Habib Luthfi sangatlah padat, disamping kesibukannya sebagai Mustasyar PBNU, Ra’is amm, Pimpinan Umum Jam’iyyah Alith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyyin di Pekalongan. Pimpinan Ulama Sufi Sedunia, Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Ketua MUI Jawa Tengah, serta menjadi pendiri Majlis Ta’lim Kanzus Shalawat, tidak pernah membuatnya lelah, apalagi mengeluh.

Baca juga: Hikmah Penggunaan Huruf-Huruf Hijaiyah Pada Fawatihus Suwar

Selain itu, hampir di semua tempat selalu dikerumuni santri dan para pencintanya, di tempat pengajian, di instansi pemerintahan, di bandara, di makam dan di tempat-tempat umum lainnya. Baik yang bertujuan meminta doa, mengkonsultasikan berbagai masalah, atau sekedar memandang wajah beliau yang teduh dan selalu tersenyum. Bahkan, rumah beliau yang tak pernah sepi dari tamu, tidak menjadikan beliau keberatan untuk selalu ngopeni umat, mengayomi berbagai kalangan.

Betapapun sibuknya dan banyaknya hal yang dipikirkan, kurangnya istirahat, kurangnya tidur, letih, lapar, semua dihadapi dengan rasa ikhlas dan syukur, tidak pernah bosan atau jenuh. Di Usia yang sudah cukup sepuh, Habib Luthfi pun tetap telihat penuh semangat, energik, tanpa keluh kesah.

Demikian gambaran dari Guru kita Maulana Habib Luthfi, yang selalu tulus menjiwai peran dan tugas kemanusiaannya tanpa keluh kesah. Utamanya, dalam menyandarkan perilakunya sebagaimana tuntunan Al-Quran dan ajaran Rosulullah. Wallahu a’lam

 

 

Mufidatul Bariyah
Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir Institut Kiai Haji Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto, aktif di CRIS (Center for Research and Islamic Studies) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

kedudukan guru menurut tafsir surah Hud ayat 88

Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Seorang guru dengan kapasitasnya sebagai pengajar dan pendidik merupakan salah satu nilai inti (core value) dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, memahami definisi, kedudukan,...