Beranda Tafsir Tematik Tinggalkan Rebahan, Mari Produktif di Tengah Pandemi: Tafsir Surat Al-Asr Ayat 1-3

Tinggalkan Rebahan, Mari Produktif di Tengah Pandemi: Tafsir Surat Al-Asr Ayat 1-3

Dampak dari Pandemi Covid-19 membuat sebagian besar masyarakat bingung dengan ruang gerak yang terbatas sehingga banyak waktu terbuang percuma karena sering digunakan untuk rebahan dirumah saja. Melihat kondisi yang sepert ini, penulis mengajak para pembaca untuk merenungi dan menata kembali waktunya agar digunakan untuk hal-hal yang positif juga produktif.

Dalam Al-Quran Allah swt bersumpah atas nama “waktu” yang dimana kebanyakan manusia benar-benar mengalami kerugian kecuali bagi mereka yang senantiasa produktif, seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Quran berikut ini.

وَالْعَصْرِۙ ١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ ٣

“Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Al-‘Asr/103:1-3)

Kata khusr menurut Quraish Shihab memiliki arti antara lain, rugi, sesat, celaka, lemah, tipuan dan sebagainya yang kesemuanya mengarah kepada makna yang negatif atau tidak disenangi oleh siapapun. Sementara kata la fi adalah gabungan dari huruf lam yang menyiratkan makna sumpah dan fi yang mengandung makna wadah atau tempat.

Dengan kata tersebut tergambar bahwa seluruh totalitas manusia berada di dalam satu wadah kerugian. Kerugian seakan-akan menjadi satu tempat atau wadah dan manusia berada serta diliputi oleh wadah tersebut. Apabila wadah tersebut tidak diisi maka kita merugi, bahkan kalau pun diisi tetapi dengan hal-hal yang negatif maka manusia pun diliputi oleh kerugian. Itulah mengapa dalam beberapa hadits nabi menekankan pentingnya manajemen waktu sehingga tetap produktif di tengah suasana sulit sekalipun.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 18:  Intropeksi Diri, Manajemen Waktu, dan Tabungan Kebaikan dalam Al Quran

Seperti dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari, Tirmidzi,dan Ibnu Majah. Ibnu Abbas berkata, bahwa Rasulullah saw, bersabda;

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”

Begitu banyak waktu luang yang kita punya saat ini, jika tidak dimanajemen dengan baik dan digunakan untuk aktivitas yang bermanfaat, otomatis kita akan tergolong sebagai manusia yang merugi seperti yang diungkapkan dalam Surah Al-Asr diatas. Rasulullah saw mengingatkan dalam sabda-Nya,

“Yang berakal selama akalnya belum terkalahkan oleh nafsunya, berkewajiban mengatur waktu-waktunya. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat (berdialog) dengan Tuhannya, ada juga untuk melakukan introspeksi. Kemudian ada juga untuk memikirkan ciptaan Allah (belajar), dan ada pula yang dikhususkan untuk diri (dan keluarganya) guna memenuhi kebutuhan makan dan minum (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim melalui Abu Dzar al-Ghifari)”

Semua orang diberikan waktu 24 Jam sehari, tetapi hasil yang didapatkan berbeda-beda. Hal ini berarti ada perbedaan dalam cara menggunakan waktu. Tentu saja bagi mereka yang bisa melakukan perubahan hasil yang maksimal pasti menggunakan waktu dengan baik. Sehingga tidak ada waktu yang berlalu dengan sia-sia. Seperti yang diungkapkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib, ia berkata;

“ Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak dihari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok”.

Berlalunya waktu sama halnya dengan melewatkan kesempatan yang seharusnya kita gunakan. Itulah kenapa dalam Al-Quran Allah memerintahkan kepada hambanya untuk selalu menyibukkan diri dengan cara tetap melanjutkan pekerjaan yang lain setelah menyelesaikan pekerjaan sebelumnya.

Allah swt berfirman,

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),” (Q.S. al-Insyirah:7)

Baca juga: Covid-19 dan Kisah Ketakutan Kepada Selain Allah dalam Al Quran

Pada ayat sebelum ayat ini Allah menjelaskan bahwa segala kesulitan pasti disertai dengan kemudahan. Ini merupakan motivasi dari Allah kepada Nabi Muhammad beserta umatnya, bahwa Allah akan merubah keadaan sulit pada keadaan yang membahagiakan, kelemahan menjadi kekuatan, kefakiran menjadi kekayaan.

Ayat ini diturunkan sebagai jawaban atas orang-orang kafir yang mengejek Nabi dengan kefakiran. Sehingga, untuk mengatasi kefakiran tersebut, manusia dimotivasi untuk tidak mengenal lelah dan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Setelah menyelesaikan suatu pekerjaan, hendaknya disusul dengan melakukan pekerjaan yang lain, sehingga tidak ada waktu yang kosong yang menyebabkan seseorang menjadi pengangguran.

Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran menjelaskan bahwa seseorang yang telah memenuhi waktunya dengan sebuah pekerjaan, kemudian ia menyelesaikan pekerjaan tersebut, maka jarak waktu antara selesainya pekerjaan pertama dan dimulainya pekerjaan selanjutnya dinamai firặgh. ayat ini tidak memberi peluang kepada anda  untuk menganggur sepanjang masih ada masa, karena begitu anda selesai dalam satu kesibukan, anda dituntut melakukan kesibukan lain yang meletihkan atau menghasilkan karya nyata, guna mengukit nasib anda.

Singkatnya, ditengah pandemi yang melelahkan ini, kiranya penting bagi kita agar dapat mengatur waktu dengan sebaik mungkin dan kalau perlu mengisinya dengan kegiatan positif serta produktif sehingga tidak tergolong kedalam orang-orang yang rugi karena menggunakan waktu sepanjang hari hanya dengan rebahan atau tidur-tiduran saja tanpa melakukan aktivitas lain. Wallahu A’lam.

Harfin
Mahasiswa Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto, aktif di CRIS Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Manuskrip Sana'a

Jalan Panjang Penelitian Manuskrip Sana’a (Bagian 2)

0
Kali ini penulis hendak meringkas alur penelitian manuskrip Sana’a sejak dekade 1980-an dan perkembangannya hingga hari ini. Pada awal penemuannya di tahun 1972, penelitian...