Beranda Tafsir Tematik Tuntunan Alquran untuk Hilangkan Insecurity Berlebih

Tuntunan Alquran untuk Hilangkan Insecurity Berlebih

Insecurity atau perasaan tidak aman seringkali muncul pada kebanyakan orang, terutama pada anak muda usia remaja. Berbagai tren dan gaya mereka ikuti hanya ingin memenuhi rasa ketidakpuasan terhadap standar kecantikan dan ketampanan yang banyak diimpikan.

Bahkan ironisnya, ada orang-orang yang sampai melakukan operasi plastik demi memperindah diri dan tidak ingin dianggap jelek oleh orang lain. Rasa insecurity yang berlebihan ini sejatinya memberi dampak buruk terhadap kesehatan mental seseorang hingga berujung pada perbuatan yang tidak dibenarkan seperti merubah bagian tubuh atau menyesali dirinya diciptakan dengan kemampuan yang sudah dimiliki.

Lalu bagaimana kata Alquran ketika menyikapi rasa insecurity berlebihan ini? Allah SWT menjawabnya dalam Q.S. Attin [95]: 4 sebagai berikut.

لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ

 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Attin [95]: 4)

Tafsir Q.S. Attin [95]: 4 manusia adalah ciptaan Allah yang terbaik

Menurut Tafsir Kementerian Agama, dalam Surah Attin ini Allah SWT telah bersumpah dengan buah-buahan yang bermanfaat dan tempat-tempat yang mulia. Kemudian Allah menegaskan dalam ayat keempat surah ini bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan kondisi fisik dan psikis terbaik.

Dari segi fisik, misalnya, hanya manusia yang berdiri tegak sehingga otaknya bebas berpikir, yang menghasilkan ilmu, dan tangannya juga bebas bergerak untuk merealisasikan ilmunya itu, sehingga melahirkan teknologi.

Bentuk manusia adalah yang paling indah dari semua makhluk-Nya. Dari segi psikis, hanya manusia yang memiliki pikiran dan perasaan yang sempurna. Terlebih lagi, hanya manusia yang beragama.

Baca juga: Amalan Untuk Mengatasi Krisis Kepercayaan Diri dalam Al-Quran

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya juga mengatakan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang terbaik secara batin dan zahir. Bentuknya bagus dan susunannya indah; kepala dengan segala isinya, dada dengan segala talentanya, perut dengan segala yang terkandung di dalamnya dan kedua tangan dengan segala apa yang disentuhnya, serta kedua kaki dengan segala beban yang dipikulnya. Oleh karena itu, para ahli filsafat berkata, “Sesungguhnya manusia itu adalah alam semesta yang kecil karena segala sesuatu yang terkandung di dalam seluruh makhluk ada di dalam diri manusia.

Demikian pula M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan bentuk dan sifat yang amat baik dibandingkan makhluk yang lain.

Namun sayangnya, terkadang manusia itu lupa dengan potensi-potensi tersebut dan menelantarkannya. Manusia lebih menuruti hawa nafsu dan syahwatnya. Ketika manusia tidak sadar dengan kelebihan yang dimilikinya, Allah kemudian memposisikan mereka pada tempat yang serendah-rendahnya sebagaimana ditegaskan dalam ayat kelima:

ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ

 “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),” (Q.S. Attin [95]: 5)

Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir mengatakan tempat tersebut adalah neraka. Hal ini disebabkan kekufuran yang dilakukan oleh sebagian manusia. Namun pendapat lain mengatakan manusia akan menyesali segala kesalahannya tersebut ketika mereka telah tua (renta) dan daya pikirnya berkurang.

Meredam insecurity dengan fokus pada kelebihan diri

Ayat di atas menegaskan bahwa manusia tercipta dengan segenap kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk ciptaan Allah yang lain. Manusia diberi fisik yang bagus disertai dengan psikis ataupun daya pikir yang hebat. Semestinya kelebihan-kelebihan ini dijadikan modal dalam menepis rasa tidak aman atas kekurangan diri yang berlebihan.

Tsindisyfa dalam bukunya Insecure No, Bersyukur Yes menjelaskan bahwa rasa tidak aman muncul ketika seseorang terlalu fokus dengan kekurangan diri sendiri. Padahal jika lebih cermat dan menggali potensi dirinya, terdapat banyak kelebihan yang dimiliki dan tidak perlu membanding-bandingkan dengan kelebihan orang lain.

Baca juga: Kunci Ketiga dan Keempat Menggapai Kebahagiaan: Beribadah dan Jujur

Jaminan Allah dalam Surah Attin di atas memberi penegasan bahwa manusia perlu menyadari bahwa diri mereka adalah makhluk versi terbaik yang diciptaan oleh Allah sehingga Dia memberi banyak kelebihan. Kelebihan-kelebihan itu kemudian dituntut untuk digali, dikembangkan, dan dipelihara dengan baik.

Kelebihan fisik misalnya, dipelihara dan ditumbuhkembangkan dengan memberinya gizi yang cukup dan menjaga kesehatannya. Sementara psikis manusia dipelihara dan ditumbuhkembangkan dengan memberinya agama dan pendidikan yang baik. Dengan demikian bahwa pada diri setiap manusia terdapat kelebihan masing-masing yang berbeda dengan segenap versi terbaiknya. Tugas manusia adalah menjaga anugerah-Nya bukan malah merubahnya.

Penutup

Kunci utama dalam menghilangkan rasa tidak aman adalah dengan mensyukuri ciptaan yang telah dianugerahkan kepada kita. Apalagi Q.S. Attin ayat 4 di atas memberi keyakinan bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk ciptaan terbaik. Sehingga, fokus pada diri sendiri dengan potensi dan kelebihan yang dimiliki adalah kunci untuk menepis rasa tidak aman yang berlebihan. Sebab Allah memerintahkan untuk memanfaatkan potensi dan kelebihan tersebut, bukan malah merubah dan menyesali anugerah yang telah diberikan-Nya. Wallahu a’lam.

Saibatul Hamdi
Minat Kajian Studi Islam dan Pendidikan Islam
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Monopoli

Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

0
Dalam mewujudkan perekonomian yang sehat, Islam mengingatkan agar setiap individu tidak mengindahkan prinsip-prinsip fundamental mengenai kemaslahatan orang banyak, diantaranya adalah kehalalan dan tidak mengambil hak...