Beranda Tafsir Tematik 3 Klasifikasi Rezeki dalam Al-Quran

3 Klasifikasi Rezeki dalam Al-Quran

Di era modern sekarang ini, manusia semakin gencar mencari rezeki sebanyak-banyaknya agar mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan hidup. Namun, sangat disayangkan, banyak yang masih cenderung mengartikan rezeki sebagai harta, baik berupa barang maupun jasa yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karenanya, sudah sewajarnya jika ukuran banyak atau sedikitnya rezeki, menurut mereka, adalah dari banyak sedikitnya harta yang dimiliki.

Dilihat dari akar katanya, kata rezeki berasal dari Bahasa Arab, ar-rizqu (الرزق), yang berarti kullu ma yuntafu‘u bihi, yaitu segala sesuatu yang bisa diambil manfaatnya. Menurut Al-Raghib Al-Asfahani, kata rezeki bermakna pemberian yang berlangsung terus-menerus, dan juga mengacu pada makna nashb  (bagian, jatah, perolehan), kehormatan, ilmu pengetahuan, serta bersifat duniawi dan ukhrawi, atau bisa juga merujuk pada apa yang diminum, dimakan dan telah sampai ke dalam perut.

Rezeki dalam Al-Quran memakai kata rizq dengan berbagai macam derivasinya. Ditemukan pada 123 tempat; 61 kali dalam bentuk fi’il (kata kerja), dan 62 kali dalam bentuk isim (kata benda). Semua kata tersebut merujuk pada makna awal dari rezeki yaitu ‘atha, yang berarti suatu anugerah atau pemberian dari Allah swt. dengan berbagai macam bentuknya, baik bersifat lahiriyah maupun maknawiyah.

Baca Juga: Fadhilah Taubat dalam Al-Quran: Menghapus Dosa dan Membuka Pintu Rezeki

Allah swt. sebagai al-razzaq  telah menjamin rezeki semua makhluk-Nya, bahkan Ia menegaskan bahwa tidak ada satu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, seperti disebutkan dalam surat Hud ayat 6:

۞وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ٦

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Pada dasarnya, terdapat banyak pembagian rezeki. Di antara pembagian tersebut, antara lain: berdasarkan halal-haramnya; berdasarkan sumbernya; berdasarkan objeknya; berdasarkan sebab kedatangannya; berdasarkan entitasnya; berdasarkan keadaannya dan berdasarkan kuantitasnya. Namun, dalam tulisan kali ini akan dijelaskan klasifikasi rezeki dalam Al-Quran secara umum, yaitu:

  • Rezeki yang Dinikmati

Rezeki dalam al-Quran yang pertama adalah rezeki yang dinikmati, yang sudah melekat dalam diri makhluk-Nya. Rezeki ini sudah dijamin adanya oleh Allah swt, sehingga bisa dinikmati sampai sekarang.

Di antara contohnya adalah kehidupan, nafas, akal sehat dan lain sebagainya. Termasuk di antaranya juga adalah harta benda yang digunakan atau dimanfaatkan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seperti halnya jika seseorang memiliki uang bermilyar-milyar, lalu ia gunakan uang sepuluh ribu untuk makan, maka hanya uang sepuluh ribu tersebut yang merupakan rezeki yang dinikmati. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 22:

ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٢٢

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui

Allah menciptakan langit, bumi beserrta isinya, air hujan dan buah-buahan. Semuanya itu untuk dinikmati dan dijadikan fasilitas bertahan hidup.  Dengan demikian, fasilitas yang setiap hari dirasakan, sebenarnya adalah rezeki dari Allah yang mungkin banyak manusia lalai dan tidak menyadarinya.

  • Rezeki yang Dimiliki

Jika rezeki yang dinikmati sudah pasti dimiliki, maka pembagian rezeki dalam al-Quran yang kedua adalah rezeki yang dimiliki namun belum tentu dinikmati. Contohnya adalah harta yang setiap hari dicari. Setelah terkumpul, sebagiannya mungkin untuk memenuhi kebutuhan. Namun, sebagian yang lain hanya disimpan. Sebagian harta yang disimpan inilah yang dimiliki namun belum tentu dinikmati.

Baca Juga: Tafsir Surat al-Mulk Ayat 20-24: Perlindungan dan Rezeki Hanya Bersumber dari Allah

Rezeki yang kedua ini sifatnya dibagikan oleh Allah namun juga harus diusahakan untuk mendapatkannya. Artinya, manusia diperintahkan untuk berusaha dalam mendapatkannya di muka bumi ini, demi memperoleh kepuasan hidup serta keberlangsungan hidup yang didambakan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. Al-Mulk ayat 15:

هُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ ذَلُولٗا فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ ١٥

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Juga dalam Qs. Al-Jum’ah ayat 10:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٠

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Selain itu, jenis rezeki yang kedua ini juga diperintahkan oleh Allah untuk diberikan kepada orang lain yang berhak dan membutuhkan. Sehingga, tidak selamanya dinikmati sendiri. Seperti halnya kepala keluarga yang mencari harta yang kemudian dinafkahkan ke istri dan anak-anaknya. Begitu juga orang yang berkecukupan yang kemudian diperintahkan untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Sebagaimana Qs. Ibrahim ayat 31 menjelaskan:

قُل لِّعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُنفِقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٞ لَّا بَيۡعٞ فِيهِ وَلَا خِلَٰلٌ ٣١

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.

  • Rezeki yang Dijanjikan

Selain Allah menjamin rezeki makhluk-Nya ketika hidup di dunia ini, Allah juga menjanjikan rezeki-Nya untuk kelak dinikmati di kehidupan akhirat. Nikmat tersebut dapat berupa ampunan, pahala, surga, dan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya. Di antara hamba-hamba Allah yang telah dijanjikan akan mendapat rezeki ini antara lain; orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang beramal shaleh, orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya, dan orang-orang berjihad di jalan Allah, seperti disebutkan dalam Qs. Ali Imran ayat 169:

وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتَۢاۚ بَلۡ أَحۡيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُونَ ١٦٩

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.

Dengan demikian, rezeki tidak selalu berupa harta seperti yang dipahami kebanyakan orang. Akan tetapi, rezeki adalah semua karunia dan pemberian Allah kepada makhluk-Nya, baik bersifat maknawi maupun indrawi. Selain itu juga bukan hanya diperuntukkan bagi manusia, namun juga untuk seluruh hamba-Nya. Wallahu a’lam.

Azkiyatuttahiyah
Alumni Ma’had Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Indonesia dan Magister Ilmu Al-Qur’an & Tafsir Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Air: Anugerah Ilahi dan Etika Manusia Terhadapnya

0
Air adalah anugerah Ilahi yang diturunkan ke muka bumi, kekayaan yang berharga dan warisan penting bagi generasi mendatang. Maka sejatinya kita harus mensyukuri segala...