Beranda Tafsir Tematik Fadhilah Taubat dalam Al-Quran: Menghapus Dosa dan Membuka Pintu Rezeki

Fadhilah Taubat dalam Al-Quran: Menghapus Dosa dan Membuka Pintu Rezeki

Jumlah istighfar yang dianjurkan Rasulullah kepada umatnya dalam sehari tak kurang dari 70 kali, karena itu dapat menghapuskan dosa sebanyak 700 jenis sebagaimana hadis riwayat Anas bin Malik. Ini menandakan bahwa manusia memang gudangnya salah dan dosa. Namun, ampunan Allah akan selalu terbuka kepada manusia dengan syarat jika ia mau bertaubat. Bertaubat bahkan sangat dianjurkan oleh Allah sebagaimana firman-Nya dalam surah Az-Zumar ayat 53. Selain dalam surah Az-Zumar ayat 53 sebenarnya Allah juga banyak menyinggung masalah taubat tersebut bahkan memberikan isyarat mengenai fadhilah taubat seperti dalam surah Nuh ayat 10-12, dan surah Hud ayat 3 dan 52.

Taubat dapat menghapus dosa sebanyak apapun

Anjuran Allah mengenai taubat banyak sekali disebutkan dalam Al-Quran, seperti dalam surah As-Syu’ara ayat 25:

وَهُوَ الَّذِي يقْبَلُ التوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيعْلَمُ مَا تفْعَلُونَ

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Baca juga: Tuntunan Al-Quran dalam Melaksanakan Tahapan Taubat dari Dosa-Dosa

Kemudian dalam surah Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-‘Adhim menyampaikan bahwa ayat tersebut mengabarkan seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat seperti kekafiran dan lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah. Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa setiap dosa akan diampuni Allah, dan jangan pernah sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah, karena pintu rahmat dan taubat Allah terbuka lebar.

Baca juga: Inilah 4 Doa Taubat Para Nabi dalam Al-Quran

Dalil-dalil taubat sebagaimana ayat-ayat di atas dan banyak tersebar di ayat-ayat lain dalam Al-Quran mengindikasikan betapa pentingnya perilaku taubat bagi manusia. Dosa yang dilakukan manusia seburuk apapun dan sebesar apapun akan diampuni dengan taubat sebagaimana yang disampaikan Ibnu Katsir, “meskipun dosa-dosa tersebut sangatlah banyak bagaikan buih di lautan”. Rasulullah juga menjelaskan fadhilah taubat dalam sebuah hadis “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR At-Tirmidzi)

Taubat membuka jalan rezeki

Fadhilah taubat yang lain ternyata tidak hanya dapat menghapuskan dosa-dosa dan kehilafan, melainkan juga mengundang rahmah Allah yaitu berupa nikmat rezeki. Ayat-ayat yang menyandingkan kaitan taubat dan rezeki salah satunya dalam surah Hud ayat 3:

وَأَنِ ٱسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَٰعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِى فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْا فَإِنِّى أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يوْمٍ كَبِيرٍ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.”

Baca juga: Ibrah Kisah Nabi Daud: dari Taubat hingga Manajemen Ibadah

Ayat tersebut sebagaimana diterangkan oleh Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Quran adalah janji Allah kepada makhluknya yang mau beristighfar dan bertaubat. Allah akan memberikan kenikmatan kepada siapa saja dengan berbagai manfaat kelapangan rezeki dan kemakmuran hidup. Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-‘Adhim menerangkan bahwa perintah Allah kepada manusia untuk beristighfar agar menghapuskan dosa-dosa yang lalu. kemudian Allah juga memerintahkan manusia bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi nanti. Ketika seseorang telah memiliki sifat dan terbiasa seperti ini maka menurut Ibnu Katsir Allah akan memudahkan rezekinya, melancarkan urusannya, dan menjaga keadaannya.

Al-Khazin dalam Tafsir Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil menuturkan satu cerita mengenai Hasan Al-Basri yang selalu dimintai solusi oleh orang-orang. Setdaknya, terdapat 4 masalah yang solusinya diberikan sama oleh Hasan Al-Basri, yaitu dengan beristighfar dan bertaubat. Dalam kitab yang juga akrab disebut Tafsir Al-Khazin ini menyebutkan pengaduan pertama mengaai kegersangan bumi, maka Hasan Al-Basri mengatakan “Beristighfarlah kepada Allah!”. Orang kedua mengadu akan kemiskinan yang ia hadapi, Hasan Al-Basri pun berkata “Beristighfarlah kepada Allah!”.

Pengaduan ketiga meminta didoakan agar mendapatkan anak, maka Hasan Basri pun mengatakan “Beristighfarlah kepada Allah!”. Kemudian pengaduan keempat adalah perihal kekeringan yang terjadi di kebunnya, lantas Hasan Al-Basri pun kembali mengatakan “Beristighfarlah kepada Allah!”. Dalam Tafsir Al-Khazin Hasan Basri juga menjelaskan bahwa solusi sama yang ia berikan atas perkara-perkara tersebut bukanlah atas dasar perkataanya semata, melainkan merujuk dalil surah Hud ayat 3 dan 52 serta sunnah sahabat yang dilakukan Umar bin Khattab.

Baca juga: Tafsir Surat Hud Ayat 3: Raih Kebahagiaan dengan Beristighfar

Fadhilah taubat dan istighfar memanglah besar. Selain dapat merontokkan dosa sebagaimana fungsi aslinya, buah istighfar dan taubat adalah limpahan rezeki dari Allah. Salah satu hijab yang menghalangi turunnya rahmah dari Allah adalah diri yang kotor yang penuh dosa dan maksiat. Sedangkan ketika seseorang bertaubat dengan taubat nasuha, maka dirinya akan kembali bersih dan kembali mendapatkan kasih sayang Allah. Dan ketika Allah telah memberikan kasih sayang-Nya, maka tidak akan ada yang bisa menghalangi turunnya rahmah-Nya yang luar biasa berupa rezeki dan kenikmatan, baik lahiriyah maupun bathiniyah. Wallahu a’lam[]

Miftahus Syifa Bahrul Ulumiyah
Peminat Literatur Islam Klasik dan Kontemporer
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Khaleel Ur Rahman Chishti: Pegiat Nidzam al-Qur’an Era Modern

0
Nidzam al-Qur’an adalah kajian dalam penafsiran Alquran yang memfokuskan pada aspek koherensi susunan atau struktur surah. Kajian nidzam al-Qur’an atau kestrukturan dalam Alquran ini...