Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surat Hud Ayat 3: Raih Kebahagiaan dengan Beristighfar

Tafsir Surat Hud Ayat 3: Raih Kebahagiaan dengan Beristighfar

Diantara kunci kebahagiaan hidup adalah dengan beristighfar (memohon ampun) serta bertaubat kepada Allah swt. Sudah menjadi fitrah, bahwa manusia tidak dapat mengelak dari melakukan dosa dan kesalahan sepanjang hidupnya. Namun demikian, sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah yang beristighfar dan taubat. Peluang ampunan ini merupakan anugerah rahmat yang terbesar bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Allah swt memberi janji kebahagiaan bagi siapapun yang beristighfar. Disebutkan dalam firman-Nya,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Huud [11]: 3)

Baca juga: Tafsir Surah An Nahl Ayat 97: Tips Meraih Hidup Bahagia

Alquran ketika menyebutkan perintah beristighfar selalu beriringan dengan perintah taubat. Menurut az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, bahwa cara mendapatkan ampunan dari Allah hanyalah dengan bertaubat. Istighfar adalah memohon ampunan, dan taubat adalah penyesalan akan kesalahan masa lalu, melepas ikatan-ikatan (jaringan) kemaksiatan dalam segala bentuk, serta tekad yang tulus tidak mengulangi kembali perbuatan-perbuatan dosa di masa yang akan datang. Berbeda dengan pendapat al-Farra’, bahwa makna istighfar dan taubat adalah sama. (Al-Baghawi, juz 12, hlm. 438)

Kedua pendapat di atas tidak saling bertentangan. Karena esensi dari istighfar dan taubat adalah pengakuan diri sebagai hamba dan beribadah semata-mata karena-Nya. Keduanya sama-sama merupakan perintah dan kewajiaban bagi seseorang untuk memohon ampunan dari kesyirikan dan dosa-dosa, begitu juga bertaubat dengan kembali taat dan beribadah kepada-Nya. (Az-Zuhaili, juz 12, hlm. 14)

Baca juga: Belajar Menyembunyikan Nikmat dari Pendengki, Hikmah Kisah Nabi Yusuf dan Nabi Yaqub

Ketika menafsiri ayat di atas, az-Zuhaili menyebutkan juga dalam tafsirnya tentang  agungnya keutamaan beristighfar dan bertaubat.

إن ثمرة الاستغفار والتوبة أمر عظيم واسع شامل الدنيا والآخرة، ففي الدنيا تمتيع إلى نهاية العمر المقدر بالمنافع من سعة الرزق ورغد العيش، وعدم الاستئصال بالعذاب كما فعل بمن أهلك من الأمم السابقة وفي الآخرة إيتاء كل ذي عمل من الأعمال الصالحة جزاء عمله

“Sesunguhnya buah dari istighfar dan taubat adalah suatu karunia yang agung, meliputi kebaikan dunia dan akhirat. Di dunia seseorang akan mendapatkan kebahagiaan sampai akhir hayatnya, berupa lapangnya rizki, hidup yang indah, dan aman dari adzab sebagaimana yang telah membinasakan umat-umat terdahulu. Dan di akhirat dia akan diberi balasan-balasan dari amal shaleh yang telah dikerjakan.”

Secara aplikatif, sebenarnya kebiasaan beristighfar sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw, padahal beliau insan yang terjaga dari maksiat. Tercatat dalam sebuat riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah (memberi pelajaran kepada umatnya) senantiasa beristighfar setiap hari tidak kurang dari 70 kali. Bahkan diriwayat Imam Bukhari beliau beristighfar setiap hari lebih dari 100 kali.

Pelajaran yang dapat diambil dari perilaku Rasulullah ini adalah bahwa beristighfar tidak harus menunggu setelah melakukan kesalahan. Tetapi bagaimana hendaknya aktifitas ini senantiasa menghiasi kehidupan sehari-hari kita tanpa terkecuali. Tidak hanya ketika merasa melakukan kesalahan, karena semakin seseorang dekat dengan Allah, maka akan selalu merasa belum memenuhi hak-hak-Nya. Melalui istighfar pula, kebahagiaan juga akan diraih.

Baca juga: Hikmah Membaca Istigfar Menurut Imam al-Ghazaly

Dalam konteks ini, Ibnu katsir menafsirkan surat Hud ayat 52 dengan menukil hadits Rasulullah saw,

من لزم الاستغفار جعل الله له من كل هم فرجا ومن كل ضيق مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب

“Barangsiapa yang mampu mulazamah atau kontinyu dalam beristighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka”. (HR. Ibnu Majah)

Wallahu A’lam.

M. Ali Mustaan
Alumnus STAI Imam Syafii Cianjur, mahasiswa pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pecinta kajian-kajian keislaman dan kebahasaaraban, penerjemah lepas kitab-kitab kontemporer
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

0
Ketika menjadi pemimpin, seseorang hendaknya memiliki kepribadian yang baik dan mampu memimpin anggotanya dengan baik pula. Selain itu, pemimpin juga seringkali dituntut dapat mengambil...