Beranda Kisah Al Quran Belajar Menyembunyikan Nikmat dari Pendengki, Hikmah Kisah Nabi Yusuf dan Nabi Yaqub

Belajar Menyembunyikan Nikmat dari Pendengki, Hikmah Kisah Nabi Yusuf dan Nabi Yaqub

Salah satu hal yang dapat kita ambil hikmahnya dari kisah Nabi Yusuf dan Nabi Yaqub dalam Surat Yusuf adalah senantiasa ada pendengki di sekitar apa yang kita miliki. Inilah yang mendorong Nabi Yaqub menyarankan putranya yang masih kecil; Nabi Yusuf, untuk menyembunyikan nikmat, yaitu mimpi adanya sebelas bintang bersama matahari dan rembulan bersujud padanya yang artinya kelak Nabi Yusuf akan memperoleh kemuliaan di atas saudara-saudaranya.

Sayangnya, mimpi tersebut akhirnya diketahui saudara-saudara Nabi Yusuf. Maka terjadilah kisah pembuangan Yusuf kecil ke sumur, dijual sebagai budak, dirayu istri seorang pejabat, sampai kemudian menjadi menteri di Mesir. Perjalanan Nabi Yusuf meski akhirnya menjadi jalan terbuktinya mimpinya, tapi telah membuktikan bahaya para pendengki.

Komentar Para Ahli Tafsir Tentang Rasa Iri pada Kisah Nabi Yusuf

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya berkata, saat Nabi Yusuf menceritakan mimpinya kepada sang ayah, sang ayah lalu menasihatinya: ““Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu (QS: Yusuf [12] 6). Nasihat ini muncul disebabkan Nabi Ya’qub khawatir, apabila saudara-saudara Yusuf tahu dan kemudian merasa iri, mereka kemudian bisa berbuat jahat pada Yusuf. (Tafsir Ibn Katsir/4/371)

Imam Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan, memang diantara anak-anak Nabi Ya’qub, Yusuf lah yang paling disayang oleh ayahnya. Ini menimbulkan rasa iri dan dengki dari saudara-saudara Yusuf. Nabi Ya’qub sendiri tahu akan keberadaan rasa iri tersebut lewat berbagai tanda-tanda. Hal itulah yang mendorongnya memerintahkan Nabi Yusuf untuk menyembunyikan kabar tentang mimpinya. (Tafsir Mafatihul Ghaib/8/496)

Lalu bagaimana saudara-saudara Yusuf kemudian bisa tahu tentang mimpi tersebut? Tidak ada riwayat yang jelas tentang hal ini. Yang jelas, sebagaimana diungkapkan Imam As-Sya’rawi, sepertinya Nabi Yaqub mengetahui bahwa saudara-saudara Nabi Yusuf bisa mengetahu tafsir dari mimpi itu. Sehingga Yusuf dilarang menceritakan mimpi itu pada saudara-saudaranya. (Tafsir Asy-Sya’rawi/11/6850)

Baca juga: Kisah Teladan Nabi di Bulan Muharram; Nabi Yunus Keluar dari Perut Ikan Paus

Dari berbagai uraian di atas dapat diambil kesimpulan, Nabi Yaqub sebagai sang ayah tahu betul watak anak-anaknya. Dan Nabi Yaqub tahu betul bahaya rasa iri tersebut. Karena itu ia berusaha menjaga diri anaknya; Nabi Yusuf, dari bahaya rasa iri dan dengki tersebut. Dari sini para ahli tafsir kemudian mengambil pemahaman anjuran menyembunyikan kabar tentang nikmat yang hendak didapat.

Pentingnya Menjaga Diri dari Para Pendngki

Saran Nabi Yaqub kepada Nabi Yusuf untuk menyembunyikan mimpinya tersebut, adalah upaya menghindari rasa iri dari orang lain. Melindungi diri dari rasa rasa iri orang lain dengan cara menyembunyikan nikmat yang dimiliki, adalah satu ajaran Islam. Ibn Katsir menyatakan, sebaiknya menyembunyikan suatu nikmat yang sedang akan didapat sampai nikmat tersebut benar-benar didapatkan. (Tafsir Ibn Katsir/4/371)

Baca juga: Inilah Alasan Kenapa Kisah Al Quran adalah Kisah Terbaik

Ibn Katsir dan beberapa ahli tafsir juga mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibn Abbas serta Mu’adz ibn Jabal:

اِسْتَعِيْنُوْا عَلَى قَضَاءِ الْحَوَائِجِ بِكِتْمَانِهَا، فَإِنَّ كُلَّ ذِيْ نِعْمَةٍ مَحْسُوْدٌ

Berusahalah memperoleh kebutuhanmu dengan cara menyembunyikannya. Sesungguhnya setiap nikmat memiliki pendengkinya tersendiri (H.R. At Thabrani dan At-Tirmidzi)

Imam al-Munawi berkomentar, hadis ini mendorong kita agar dalam memperoleh apa yang kita cita-citakan, entah itu memperoleh sesuatu yang bermanfaat atau terhindar dari suatu bahaya, kita menyertainya dengan menyembunyikan hal itu dari telinga orang lain. Hal ini bermanfaat antara lain: 1) Menjaga hati dari bergantung kepada selain Allah; 2) Menjaga diri dari bahaya yang ditimbulkan orang yang iri; 3) Menjaga orang lain agar tidak bersikap iri dan dengki.

Namun, bukankah ada anjuran untuk menceritakan suatu nikmat sebagai rasa syukur kepada Allah (tahaddus bin nikmah)? Ya, benar, tapi hal itu berlaku saat nikmat tersebut sudah didapat bukan hendak didapat sebagaimana kisah Nabi Yusuf yang masih hendak memperoleh kemuliaan. Selain itu, dalam menceritakan suatu nikmat sebagai rasa syukur, juga disyaratkan aman dari rasa iri orang lain. (Faidul Qadir/1491)

Baca juga: Nasihat-Nasihat Luqman al-Hakim Kepada Anaknya dalam Al Quran

Imam Ibn Hajar berkomentar, tentang anjuran saat mengalami mimpi yang indah untuk menceritakan kepada orang lain, bahwa orang lain yang dimaksud adalah orang yang memiliki kecendrungan menyukai kita. Bukan yang sebaliknya. Sehingga apabila orang lain itu orang berpotensi besar merasa iri dan dengki serta membahayakan kita, maka justru jangan sampai ia tahu tentang mimpi indah tersebut. (Fathul Bari/19/454)

Kesimpulannya, dari Kisah Nabi Yaqub dan Nabi Yusuf dalam Surah Yusuf, kita bisa belajar banyak hal diantaranya adalah bahaya rasa iri dan sebisa mungkin mengatasi menjaga diri dari bahaya rasa iri dan dengki salah satunya dengan menyembunyikan hal-hal yang bisa menimbulkan rasa iri dan dengki. Selain itu, apabila kita terlanjur masuk dalam bahaya rasa iri sebagaimana dalam kisah Nabi Yusuf, maka jalan terbaik adalah bersabar. Kesabaran akan berbuah kebahagiaan.

Muhammad Nasif
Alumnus Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 29-30

0
Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 29-30 menjelaskan mengenai hari kemenangan kaum muslimin adalah hari kiamat. Di hari kiamat itu orang kafir tidak diberi kesempatan bertobat...