Beranda Khazanah Al-Quran Inilah 4 Doa Taubat Para Nabi dalam Al-Quran

Inilah 4 Doa Taubat Para Nabi dalam Al-Quran

Taubat merupakan suatu keharusan dalam Islam, karena sifat manusia tidak pernah luput dari salah dan lupa. Taubat juga merupakan satu bentuk cara untuk menyucikan jiwa dari kotoran dosa dan maksiat. Allah sendiri bahkan sangat menyukai hamba-Nya yang bertaubat dan menyucikan dirinya seperti yang difirmankan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 222. Al-Quran pun menyediakan beberapa doa taubat dari para Nabi, yang akan diulas dalam tulisan ini.

Sebagai seorang manusia yang mempunyai sifat-sifat basyariyah (manusiawi), para nabi pun juga pernah melakukan suatu kesalahan. Meskipun kesalahan mereka bukan kategori sebuah dosa karena para nabi bersifat maksum. Namun para nabi juga memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang mereka lakukan.

Selain mereka juga adalah seorang hamba, taubat para nabi tersebut secara laten juga ingin memberikan uswah kepada umat-umat mereka agara senantiasa meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat. Karena pastinya dosa dan maksiat yang dilakukan umat sebagai manusia awam pastilah lebih banyak. Doa taubat para nabi tersebut diabadikan Allah dalam Al-Quran agar kita sebagai umat terakhir bisa juga mencontohnya sebagai amalan untuk bertaubat. Adapun ayat-ayatnya sebagai berikut.

Baca juga: Mencontoh Spirit dan Doa Nabi Sulaiman dalam Mensyukuri Nikmat

Doa Taubat Nabi Adam

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Al-A’raf: 23)

Ayat ini sebenarnya adalah lafadz doa yang diucapkan Nabi Adam dan Hawa. Seperti yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-Adhim bahwa hal itu berkenaan dengan kesalahan mereka berdua yang telah memakan buah dari pohon yang dilarang oleh Allah. Adam dan Hawa terjebak rayuan Iblis yang bersumpah atas nama Allah.

Baca juga: Ingin Diberi Kelancaran Urusan? Baca Doa Nabi Musa Ini!

Nabi Adam dan Hawa harus menerima hukuman dikeluarkan dari surga dan turun ke bumi. Namun, bersamaan itu pula Allah mengampuni taubat mereka berdua seperti yang difirmankan Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 36-37. Dalam Tafsir Al-Wajiz, Wahbah Zuhayli menjelaskan bahwa Allah akan senantiasa memberikan petunjuk kapada manusia apabila ia melakukan dosa dan kesalahan ia bertaubat. Manusia tersebut sejatinya mengikuti Nabi Adam. Adapun manusia yang tidak mau bertaubat maka sejatinya ia mengikuti Iblis yang congkak dan semakin menjauhkan diri dari Allah.

Doa Taubat Nabi Nuh

رَبِّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِى بِهِۦ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِى وَتَرْحَمْنِى أَكُن مِّنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi” (Q.S Hud: 47)

Ini adalah doa Nabi Nuh atas sebuah anggapan dan kesalahan yang Ia lakukan. Dalam tafsir Kemenag dijelaskan bahwa Nabi Nuh pernah memohonkan ampun kepada anaknya Kan’an. Padahal Kan’an sendiri adalah seorang kafirul qalbi (orang yang tertutup hatinya) untuk menerima ajaran kebenaran dari ayahnya. Hal tersebut ia lakukan semata-mata karena rasa kasih sayangnya sebagai seorang ayah.

Baca juga: Ingin Punya Keturunan Yang Saleh? Amalkan 3 Doa Nabi Ibrahim Ini

Permohonan ampun Nabi Nuh atas Kan’an pun mendapat teguran dari Allah. Karena seorang kafirul qalbi dari kebenaran Allah tidak pantas didoakan, meskipun dari sanak keluarga sendiri. Lalu Nabi Nuh pun menyesal atas kekhilafannya dan bertaubat dengan doa sebagaimana ayat di atas.

Doa Taubat Nabi Ibrahim

وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (Q.S Al-Baqarah: 128)

Ayat ini sebenarnya berkaitan dengan permohonan Nabi Ibrahim agar diberi petunjuk mengenai tata cara beribadah. Selain itu ayat ini berkaitan dengan permohonan Nabi Ibrahim agar keluarga dan keturunannya tetap teguh memegang ajaran Allah. Adapun salah satu nilai ibadah yang dipinta Nabi Ibrahim dari ayat ini adalah bertaubat. Karena menurut Muhammad bin Shalih As-Syawi dalam an-Nafahat al-Makiyyah, bagaimanapun kondisinya seorang hamba pasti tidak lepas dari pengaruh nafsu yang menjerumuskan pada maksiat dan perlu untuk bertaubat.

Baca juga: Doa Nabi Zakaria dan Tafsir Ali Imran [3]: 38

وَٱغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

“Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S Al-Mumtahanah: 5)

Menurut Wahbah Zuhayli dalam Tafsir al-Wajiz, doa taubat yang dipanjatkan Nabi Ibrahim ini sebenarnya berkaitan dengan kekafiran dan kemusyrikan kaumnya termasuk pula ayahnya. Nabi Ibrahim pernah meminta ampunan Allah atas ayahnya. Namun ketika telah jelas status yang diberikan Allah kepada ayah Nabi Ibrahim beserta kaumnya bahwa mereka adalah orang yang ingkar. Nabi Ibrahim segera menarik diri, mendekatkan kepada Allah agar dilindungi dari mereka dan dari kemusyrikan, seraya memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang ia lakukan.

Doa Taubat Nabi Musa

رَبِّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَٱغْفِرْ لِى فَغَفَرَ لَهُۥٓ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Qashas: 16)

Jika ditilik dari rangkaian ayat sebelumnya, doa Nabi Musa pada ayat ini sebenarnya berkaitan dengan kesalahannya atas satu perbuatannya yang didorong oleh nafsu. Dalam an-Nafahat al-Makiyyah Muhammad bin Shalih al-Syawi menjelaskan bahwa ketika itu Nabi Musa memasuki kota Memphis, sebuah kota di kerajaan Mesir Kuno. Pada waktu itu ia menemukan dua orang lelaki yang saling berkelahi. lelaki pertama dari Qibthi dan lelaki kedua dari Bani Israil.

Lelaki kedua pun meminta pertolongan Nabi Musa untuk mengalahkan musuhnya karena sesama dari Bani Israil. Nabi Musa pun menyetujuinya lalu meninju lelaki pertama tersebut hingga meninggal seperti yang termaktub dalam surah Al-Qashash ayat 15. Namun kemudian Nabi Musa sangat menyesali perbuatannya tersebut karena ia menyadari bahwa kala itu dirinya sedang dikuasai syetan. Lantas, ia pun bertaubat dengan sepenuhnya seraya melantunkan doa sebagaimana ayat di atas. Wallahu a’lam[]

Miftahus Syifa Bahrul Ulumiyah
Peminat Literatur Islam Klasik dan Kontemporer
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Monopoli

Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

0
Dalam mewujudkan perekonomian yang sehat, Islam mengingatkan agar setiap individu tidak mengindahkan prinsip-prinsip fundamental mengenai kemaslahatan orang banyak, diantaranya adalah kehalalan dan tidak mengambil hak...