Beranda Kisah Al Quran Doa Nabi Zakaria dan Tafsir Ali Imran : 38

Doa Nabi Zakaria dan Tafsir Ali Imran [3]: 38

Dalam redaksi ayat Al-Quran terdapat doa-doa Nabi terdahulu. Selain untuk diamalkan, penting untuk ditelusuri mengenai konteks kejadian dan pesan yang ada di dalamnya. Salah satu doa Nabi yang dikaji dalam tulisan kali ini ialah doa Nabi Zakaria yang terdapat di Q.S. Ali Imran [3]: 38. Doa Nabi Zakaria ini berisi permohonannya untuk mendapatkan keturunan yang akan meneruskan estafet perjuangan dakwahnya kepada Bani Israil.

Berikut redaksi doanya yang termaktub dalam Q.S. Ali Imran [3]: 38:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗ ۚ قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ

Artinya: “Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.

Ada dua hal yang akan dikaji dalam redaksi doa ini sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya yakni sisi konteksnya dan pesan yang ada di dalamnya. Untuk mendapatkan kedua informasi tersebut maka perlu menyimak bagaimana para mufasir mengkaji masing-masing kalimat dalam redaksi ayat.

Lafaz (هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗ) jika ditelaah melalui penafsiran Ath-Thabari, maka akan didapati informasi konteks dari doa yang akan dilantunkan pada redaksi selanjutnya. Ath-Thabari menguraikan bahwa pada suatu saat Zakaria masuk ke dalam mihrab (tempat beribadah) yang biasa ditempati oleh Maryam, seorang anak perempuan yang dititipkan oleh istri Imran kepada Zakaria.

Di dalam mihrab itu, Zakaria melihat di sisi Maryam telah ada makanan yang mustahil didapati di rumahnya yakni sebagaimana penjelesan ulama berupa buah-buahan musim panas di musim dingin dan buahan-buahan musim dingin di musim panas. Maka Zakaria kemudian menanyakannya pada Maryam mengenai asal-muasal makanan itu ia dapatkan, lalu Maryam menjawab bahwa makanan itu merupakan rizki yang Allah berikan kepadanya.

Baca Juga: Maryam Binti ‘Imran, Perempuan yang Menjadi Wali Allah

Setelah mendengar jawaban Maryam, Zakaria pun mengingat kondisinya yang memiliki istri yang dalam keadaan manusia pada umumnya sudah mustahil memiliki keturunan. Maka harapannya yang hampir pupus pun kembali membara dan pikirannya pun kembali positif. Sebab ia yakin bahwa segala hal yang menurut pandangan umumnya manusia itu tidak mungkin, tidak berlaku bagi Allah Sang Maha atas segalanya.

Ia pun pada waktu dan di tempat itu juga (mihrab) langsung melantunkan doanya. Salah satu doa yang ia lantunkan termaktub dalam ayat yang sedang dikaji ini dan lainnya juga direkam oleh al-Qur’an dalam Q.S. Maryam [19]: 3-6. Maka Allah pun menjawab doanya dengan lanjutan Q.S. Maryam [19]: 7.

Meskipun pada ayat selanjutnya Zakaria yang mungkin sedang sangat senang dengan berita yang dibawa malaikat kembali mempertanyakan bagaimana bisa Allah memberinya keturunan padahal istrinya sudah mustahil memberi keturunan. Dan Allah pun menegaskan kembali pada Zakaria pada Q.S. Maryam [19]: 9, bahwa menjadikan hal yang mustahil menjadi mungkin itu adalah perkara mudah.

Lalu lahirlah Yahya ibn Zakaria seorang anak yang saleh dan begitu berbakti pada orang tuanya serta penerus estafet dakwah ayahnya. Lahirnya Yahya juga menjadi pembuktian Allah pada Zakaria sekaligus kepada Bani Israil yang pada saat itu gemar mendustakan dakwah yang disampaikan Zakaria, bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha atas segala sesuatu dan satu-satunya yang memiliki hak untuk disembah oleh manusia.

Dari uraian mengenai konteks dan penafsiran mengenai redaksi ayat doa ini, ada beberapa ibrah yang bisa diambil. Pertama, tiada satupun keinginan maupun impian manusia yang mustahil dikabulkan dan diwujudkan oleh Allah, sebab Allah Maha Mampu atas segala sesuatu. Oleh karena itu sebagai manusia tiada alasan untuk berhenti bermimpi dan berkeinginan selama itu merupakan hal yang baik maka gantungkanlah hanya pada Allah semata.

Kedua, berdoa adalah salah satu dari kunci kesuksesan. Kisah Nabi Zakaria memperlihatkan betapa doa memiliki signifikansi yang sangat besar bagi terwujudnya suatu keinginan. Maka jangan lupa untuk selalu menyandingkan doa dengan ikhtiyar. Sebab sekeras apapun ikhtiar yang dilakukan jika Allah belum meridlainya maka tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal/ terbaik.

Ketiga, lafaz doa yang dilantunkan oleh Nabi Zakaria dapat menjadi amalan doa keseharian bagi umat Islam yang ingin memiliki keturunan agar keturunan yang lahir dikaruniai oleh Allah sebagai keturunan yang saleh nan berbakti dan juga bagi yang sedang susah memiliki keturunan agar senantiasa dipermudah untuk memperoleh keturunan oleh Allah dan dikaruniai keturunan yang baik. Wallahu a’lam.

Alif Jabal Kurdi
Alumni Prodi Ilmu al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alumni PP LSQ Ar-Rohmah Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Kiat-kiat pencegahan kemiskinan dalam Al-Quran

Al-Quran dan Upaya Pengentasan Kemiskinan

0
Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk memperhatikan segala aspek sosial kepada saudara Muslim lainya atau manusia pada umumnya. Salah satu yang ditekankan oleh Islam dalam...