Beranda Khazanah Al-Quran Doa Al-Quran Keistimewaan Doa Nabi Yunus Yang Dibaca Masyarakat Banjar Pada Arba Musta’mir

Keistimewaan Doa Nabi Yunus Yang Dibaca Masyarakat Banjar Pada Arba Musta’mir

Bulan safar sedang kita jalani, tepatnya telah memasuki bagian akhir. Pada hari Rabu, 6 Oktober 2021 atau juga bertepatan dengan 29 Shafar 1443 H merupakan hari arba atau hari rabu terakhir dalam bulan shafar tahun ini. Anggapan sebagian orang, pada bulan Shafar akan diturunkan berbagai bala bencana khususnya pada arba musta’mir atau pada hari rabu terakhir bulan Shafar.

Anggapan demikian berasal dari hadis dhaif yang tentu saja tidak mutlak sebagai wacana yang kuat, apalagi menjadi dasar hukum. Sebab, dalam beberapa keterangan disebutkan bahwa tidak ada keterangan asli atau adanya hadis shahih yang menjelaskan tentang keutamaan maupun celaan terhadap bulan Shafar (Wahid, dalam bukunya Kalender Ibadah Sepanjang Tahun).

Namun terlepas dari berbagai pendapat tentang adanya bala atau tidak pada arba musta’mir bukan menjadi bahasan utama dalam tulisan ini. Tulisan ini akan membahas tentang tradisi yang lumrah pada masyarakat Banjar yaitu adanya kepercayaan untuk meminta perlindungan kepada Allah melalui amalan-amalan dan doa-doa yang dipanjatkan ketika arba musta’mir.

Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak inginkan seperti adanya musibah dan lain-lain serta mengharap keridhaan Allah agar diberi keselamatan. Oleh sebab itu, pada hari arba musta’mir, masyarakat sering melakukan salat sunnah disertai doa tolak bala, selamatan kampung, mandi safar, tidak bepergian jauh (Nadhiroh, dalam penelitiannya “Amalan di Hari Arba’ Mustamir Bulan Safar”).

Salah satu doa atau amalan yang dibaca adalah doa Nabi Yunus dalam al-Qur’an yaitu, “Subhanaka Inni Kuntu Minazhalimin”. Lalu mengapa doa tersebut begitu istimewa? Terkait hal ini Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-‘Anbiya [21]: 87-88 sebagai berikut.

وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبٗا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادَىٰ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَنَجَّيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ وَكَذَٰلِكَ نُ‍ۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-‘Anbiya [20]: 87-88)

Tafsir QS. Al-‘Anbiya [21]: 87-88 tentang Doa Nabi Yunus

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pada ayat ini Allah menceritakan kisah Nabi Yunus yang pergi dari kaumnya karena kaumnya begitu ingkar terhadap ajaran yang dibawa. Nabi Yunus pun kemudian marah dan pergi. Lalu ia menaiki sebuah kapal, tetapi karena kelebihan muatan salah satu penumpang kapal itu harus dibuang kelaut.

Baca Juga: Bahasa Al-Quran dan Pesan Keterbukaan Islam Terhadap Perbedaan

Saat itu, Nabi Yunus menjadi orang yang terpilih undiannya untuk dibuang ke laut. Kemudian Allah pun mengirimkan ikan paus untuk menyelamatkan Nabi Yunus. Maka di dalam perut ikan itu, Nabi Yunus berseru dan berdoa, “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.

Setelah mendengar doa Nabi Yunus, Allah pun mengeluarkannya dari perut ikan dan kegelapan tersebut. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa doa tersebut merupakan doa yang dianjurkan dibaca ketika berda dalam kesulitan dengan penuh berserah diri. Anjuran doa ini juga datang dari pemimpin para Nabi.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya juga menjelaskan bahwa dalam ayat ini terdapat syarat yang ditetapkan Allah bagi yang berdoa kepada-Nya agar dikabulkan, sebagaimana Allah telah mengabulkan doa Nabi Yunus yang saat itu berada dalam perut ikan kemudian Allah selamatkan.

Di dalam surah yang lain Allah juga menyatakan bahwa, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 143-144)

Ini adalah pemeliharaan dari  Allah ‘Azza wa Jalla bagi hamba-Nya, Yunus yang  memelihara hak kehambaannya terhadap-Nya, dan memelihara kendali ketaatannya yang telah lalu. Demikian amat berartinya doa Nabi Yunus kala ia berada di dalam perut ikan tersebut.

Demikian Hamka juga menjelaskan bahwa berkah dari doa Nabi Yunus sebagaimana terdapat dalam ayat tersebut Allah memberikan kemurahan-Nya dengan membiarkan Yunus berada dalam perut ikan itu masih hidup, karena dalam logika sangat tidak masuk akal seorang yang berada dalam ikan paus tetapi masih hidup. Ia bertaubat, ia mengakui kesalahannya, ia hanya ingin mengingat Tuhannya. Maka permohonannya dikabulkan oleh Allah. Dia pun dilepaskan dan dikeluarkan dari dalam perut ikan.

Keitimewaan Doa Nabi Yunus

Adanya sebuah kepercayaan pada masyarakat Banjar yang menganggap pada arba musta’mir atau hari Rabu terakhir pada bulan Shafar tentang akan diturunkannya berbagai bala oleh Allah menjadikan hari tersebut dipenuhi dengan doa memohon ampunan dan keselamatan. Salah satunya dipanjatkannya doa Nabi Yunus ketika beliau berada di dalam perut ikan.

Kajian ini merupakan kajian living Qur’an atau al-Qur’an yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Living Qur’an juga biasanya menyangkut keajaiban daripada ayat al-Qur’an itu sendiri yang digunakan oleh masyarakat baik untuk penyembuhan, doa, dan lain-lain.

Jika dicermati, doa yang dipanjatkan oleh Nabi Yunus dalam ayat tersebut pertama merupakan ungkapan ketauhidan dengan sebuah pernyataan mengesakan Allah Swt. yang tertuang dalam kalimat “Laa Ilaha Illallah”. Kedua, menunjukkan pembersihan dan pengagungan kepada Allah dari segala kekurangan yang ditunjukkan dalam kalimat “subhanaka” “Maha suci Engkau” .

Ketiga, doa tersebut juga menunjukkan pengakuan atas dosa yang dilakukan. Tidak menjalankan hak Allah dengan sempurna serta menzhalimi diri sendiri karena sikap yang dilakukan. Hal tersebut ditunjukkan dalam kalimat, “Inni kuntu minazzhalimin” sebagai sebuah pengakuan taubat atas kesalahan yang telah dilakukan.

Sebagaimana penafsiran ayat di atas, doa ini sangat dianjurkan untuk dimunajatkan apalagi ketika dalam keadaan sulit. Sebab di dalamnya terdapat pengagungan kepada Allah dan ungkapan taubat atas segala kesalahan. Harapan dari doa ini adalah untuk memohon kemurahan Allah dalam menyelamatkan orang yang berdoa sebagaimana Allah menyelamatkan Nabi Yunus dari perut ikan itu.

Baca Juga: Hal Ihwal Pandangan Ulama Seputar Kata Amin

Kontekstualisasi doa dalam ayat ini kemudian direpresentasikan oleh masyarakat Banjar sebagai salah satu doa yang diungkapkan ketika memohon perlindungan kepada Allah dari segala bahaya atau musibah. Demikian bahwa keistimewaan dan kedahsyatan yang terdapat dalam doa Nabi Yunus yang semestinya dapat diamalkan oleh setiap muslim bukan hanya pada arba musta’mir belaka (dalam Syamsudin Noor, Dahsyatnya Doa para Nabi).

Penutup

Adanya arba musta’mir pada masyarakat Banjar menjadi khazanah budaya Indonesia yang beragam. Terlepas dari adanya berbagai pendapat terkait bulan Shafar, tradisi tersebut sebaiknya dilaksanakan dengan sangat hati-hati agar terhindak dari perbuatan syirik dan tidak melunturkan esensi dari doa-doa yang ada di dalamnya.

Doa Nabi Yunus sering digunakan karena mengandung beberapa hal penting di antaranya adalah ungkapan ketauhidan dan pengagungan kepada Allah Swt. serta aktualisasi taubat dari seorang hamba kepada Rabb-Nya. Memunajatkan doa ini dengan harapan dapat meraih keridhaan dan kemurahan Allah Swt. untuk selalu dilindungi dan diselamatkan sebagaimana Allah juga menyelamatkan Nabi Yunus ketika membaca doa tersebut. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi
Minat Kajian Studi Islam dan Pendidikan Islam
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Surah Muhammad

Tafsir Surah Muhammad Ayat 22-25

0
Tafsir Surah Muhammad Ayat 22-25 berbicara tentang orang munafik yang menutup diri dari kebenaran dan enggan merenungi kandungan dari al-Qur’an. Maka, sikap mereka yang...