BerandaKhazanah Al-QuranKonteks dan Keterampilan dalam Memahami Al-Quran Menurut Ingrid Mattson

Konteks dan Keterampilan dalam Memahami Al-Quran Menurut Ingrid Mattson

Dalam sebuah artikel berjudul How To Read The Quran, Ingrid Mattson mengatakan, membaca kitab suci – termasuk memahami Al-Qur’an – bisa jadi merupakan sebuah langkah problematik, sebab setiap kitab suci agama besar dunia senantiasa dipuja dan digandrungi oleh jutaan orang. Mereka berinteraksi dengan kitab suci secara mendalam lebih dari sekedar membaca buku biasa. Kitab suci bagi mereka adalah pedoman jalan hidup (way of life) yang harus dipatuhi.

Ketika membaca kitab suci, kita menyadari bahwa kita sedang memasuki sebuah semesta yang penuh dengan dimensi spiritual, emosional, historis dan bahkan politik. Karena itu, siapapun yang ingin membaca kitab suci – seperti memahami Al-Qur’an – membutuhkan instrumen tertentu yang melaluinya ia akan mendapatkan pengalaman baru dan menantang yang memperkaya pengetahuan serta pemahamannya yang komprehensif terkait kitab suci.

Dalam konteks memahami Al-Qur’an – menurut Ingrid Mattson – seseorang harus mengeksplorasi tiga konteks utama, yakni: Pertama adalah konteks di mana Al-Qur’an diwahyukan dan ditransmisikan, ditafsirkan, serta dibaca selama berabad-abad; Kedua adalah konteks pribadi pembaca meliputi latar belakang sosial, asumsi, dan prasangka yang dapat mempengaruhi pembacaan terhadap Al-Qur’an; Ketiga adalah pemahaman terhadap istilah yang Al-Qur’an gunakan.

Melalui ketiga konteks tersebut, seseorang akan bisa memahami Al-Qur’an lebih “objektif.” Oleh karenanya, sebelum mendekati Al-Qur’an seseorang harus meninjau kembali pemahamannya tentang Al-Qur’an, Islam dan Muslim. Ia harus mempertimbangkan adanya kemungkinan ketidakbenaran sumber yang selama ini ia pahami. Dengan itu, ia akan lebih mudah mengidentifikasi potensi hambatan kognitif dan emosional untuk mendapatkan pengalaman otentik dengan Al-Qur’an.

Misalnya, jika Anda seorang muslim, maka Anda memiliki konteks budaya dan pengalaman formatif yang telah membentuk pemahaman Anda terhadap Al-Qur’an. Pada titik tertentu, Anda – mungkin – akan kesulitan untuk membuka hati sepenuhnya terhadap pesan Al-Qur’an karena telah diajari untuk memahami ayat-ayat dengan cara tertentu yang – terkadang – sempit dan sektarian. Akibatnya, makna-makna Al-Qur’an direduksi oleh pemahaman yang ada.

Baca Juga: Amina Wadud dan Hermeunitika Tauhid dalam Tafsir Berkeadilan Gender

Hal serupa disampaikan oleh Walid saleh dalam Quranic Commentaries. Ia menegaskan bahwa dalam dunia Islam tradisional, Al-Qur’an telah dipahami melalui bahasa tafsir, dan sebagian besar umat Islam meyakini bahwa makna Al-Qur’an yang sebenarnya adalah sebagaimana makna yang dikatakan tafsir. Akibatnya, tafsir seakan-akan sejajar dengan Al-Qur’an itu sendiri. Dalam konteks ini, makna ayat Al-Qur’an direduksi dan disamakan dengan tafsir Al-Qur’an.

Dengan demikian, penting bagi para pembaca untuk memeriksa kembali asumsi mereka tentang cara membaca Al-Qur’an dan memahami cara Al-Qur’an ditafsirkan oleh orang-orang yang percaya bahwa itu adalah kalam Ilahi. Meskipun Al-Qur’an adalah Firman Tuhan, namun bukan berarti ia harus – selalu – dibaca secara harfiah (literal) dan mengabaikan konteks sosial hukum tertentu, atau mengabaikan makna simbolis dan makna batinnya.

Menelaah linguistik dan sejarah Al-Qur’an atau mencari makna batinnya bukanlah inovasi modern. Sebaliknya, penafsiran semacam ini telah dimulai oleh nabi Muhammad saw beserta para sahabatnya dam berlanjut hingga hari ini. Oleh karena itu, pembaca Al-Qur’an harus melepaskan gagasan bahwa pembacaan literalis adalah lebih otentik atau lebih saleh ketimbang pembacaan informatif dan kontekstual sebagaimana yang dianggap oleh sebagian kelompok fundamentalis.

Ingrid Matsson juga mewanti-anti terhadap orang-orang yang percaya pada kitab suci selain Al-Qur’an agar berhati-hati untuk tidak secara otomatis menerapkan tradisi hermeneutik mereka pada Al-Qur’an. Di sisi lain, para pembaca Muslim juga perlu mengeksplorasi kemungkinan bahwa apa yang telah diajarkan kepada mereka tentang cara menafsirkan Al-Qur’an mungkin tidak sesuai dengan pemahaman banyak Muslim lainnya.

Keterampilan Yang Harus Dimiliki Seseorang Muslim Untuk Memahami Al-Qur’an

Literasi Al-Qur’an sangat bervariasi dalam masyarakat Muslim dan tidak selalu berhubungan dengan pencapaian pendidikan seseorang. Karena banyak dari tokoh Muslim yang tidak mengenyam pendidikan formal, namun mereka memiliki literasi Al-Qur’an yang tinggi. Pendidikan Al-Qur’an membentuk fondasi keaksaraan dalam masyarakat Muslim tradisional, tetapi modernitas – sedikit atau banyak – telah memutuskan hubungan itu pada beberapa tempat.

Menurut Ingrid Mattson, seorang muslim membutuhkan empat keterampilan untuk memahami Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai sumber pertunjuk kehidupan. Keterampilan pertama adalah kemampuan membaca aksara Arab, karena bahas asli Al-Qur’an adalah bahasa Arab. Oleh karenanya, awal dari pendidikan agama untuk sebagian besar anak-anak Muslim dan para Mualaf non-Arab adalah pengetahuan tentang alfabet Arab dan bagaimana merangkainya.

Keterampilan kedua adalah belajar bahasa Arab Al-Qur’an (uslub Al-Qur’an) dengan cukup baik untuk dapat memahami setiap arti kata dan kalimat serta makna-makna relasionalnya. Bagi anak-anak yang berbahasa Arab, pemahaman tentang arti kata-kata tersebut muncul pertama kali sebagai konsekuensi dari pengetahuan umum mereka tentang bahasa Arab, yang kemudian dilengkapi oleh guru mereka.

Untuk memahami Al-Qur’an dengan baik, Muslim non-Arab membutuhkan pendidikan tambahan yang terdiri dari mempelajari kosa kata dan tata bahasa Arab dasar atau memiliki akses ke terjemahan dalam bahasa induk mereka. Bagi orang Arab maupun non-Arab sekarang, pemahaman ilmiah tentang Al-Qur’an membutuhkan studi panjang bertahun-tahun karena bahasa Arab ammiyah atau kontemporer sedikit berbeda dengan bahasa Al-Qur’an.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 13: Apakah Al-Quran Menyetarakan Kasta dalam Pernikahan?

Keterampilan ketiga – yang sangat membantu dalam memahami keberadaan spiritual teks – adalah pengetahuan dan kemampuan untuk membaca Al-Qur’an dengan cara yang tepat, seperti seni tajwīd (pelafalan “baik” atau “indah”) tentang melafalkan huruf dengan benar, penggunaan nada yang tepat, panjang pendek, dan sebagainya. Hal ini penting diketahui karena Al-Qur’an diwahyukan dalam tradisi kelisanan sebagaimana diterangkan oleh Walter J. Ong dalam Orality and literacy.

Keterampilan keempat – yang membuat seseorang akrab dengan Al-Qur’an – adalah menghafal Al-Qur’an setidaknya beberapa ayat dan surah. Dalam setiap ritual sembahyang, surat al-Fatihah harus diucapkan, lalu diikuti dengan surat atau sekelompok ayat yang dipilih oleh jamaah. Bagian-bagian Al-Qur’an ini tidak dibaca dari teks, namun dibaca menggunakan hafalan mereka.

Berdasarkan penjelasan di atas, dalam memahami Al-Qur’an seseorang harus mengidentifikasi bahasa Al-Qur’an dan historisitasnya serta mengevaluasi pra-pemahaman sendiri agar makna Al-Qur’an tidak tereduksi oleh asumsi pribadi. Selain itu, ia membutuhkan keterampilan khusus, seperti bahasa Arab, uslubul qur’an, ilmu tajwid (kelisanan), dan hafalan Al-Qur’an dalam rangka lebih dekat dan memahami Al-Qur’an secara otentik. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

pandangan imam al-Ghazali tentang musik dan nyanyian

Pandangan Imam al-Ghazali Mengenai Musik dan Nyanyian

0
Akhir-akhir ini, tengah ramai diperbincangkan mengenai halal-haramnya musik. Hal ini bermula dari penjelasan ust. Adi Hidayat mengenai asy-Syu’ara yang dimaknai sebagai para pemusik, yang...