Scroll Tanpa Henti, Tapi Kosong: Refleksi Surah Al-’Ashr dalam Tafsir Al-Azhar

0
128
Scroll Tanpa Henti, Tapi Kosong: Refleksi Surah Al-’Ashr dalam Tafsir Al-Azhar
Scroll Tanpa Henti, Tapi Kosong: Refleksi Surah Al-’Ashr dalam Tafsir Al-Azhar

Di era media sosial, banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir TikTok, Instagram, X, atau YouTube Shorts. Arus konten yang tidak pernah berhenti membuat seseorang terus menatap layar tanpa sadar waktu telah berlalu. Namun, setelah sesi scrolling berakhir, tidak sedikit yang justru merasakan kekosongan. Hiburan memang diperoleh, tetapi tugas belum selesai, target belum tercapai, dan waktu yang berharga telah terbuang begitu saja.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah utama manusia modern bukanlah kekurangan waktu, melainkan cara menggunakannya. Semua orang memiliki dua puluh empat jam yang sama setiap hari, tetapi tidak semua mampu mengelolanya dengan bijak. Dalam konteks inilah Surah Al-‘Ashr menjadi relevan untuk direnungkan. Surah yang sangat pendek ini berbicara tentang sesuatu yang dimiliki seluruh manusia tanpa terkecuali, yaitu waktu. Melalui surah ini, Allah mengingatkan bahwa kerugian terbesar manusia sering kali tidak disadari.

Allah Swt. berfirman:

وَالْعَصْرِۙ ١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ ٣ ( العصر/103: 1-3)

Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. (Al-‘Asr/103:1-3).

Baca juga: Tafsir QS. Ar-Ra’d Ayat 28: Dzikir Perspektif Buya Hamka

Masa yang Terus Berkurang

Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menjelaskan bahwa kata Al-’Ashr dapat dimaknai sebagai masa atau waktu yang dilalui manusia sepanjang hidupnya. Allah menjadikan masa sebagai sumpah agar manusia menyadari betapa berharganya waktu yang telah diberikan kepadanya (Tafsir Al-Azhar, Jilid 10, hlm. 8101).

Menurut Hamka, hidup manusia sesungguhnya berjalan bersamaan dengan berkurangnya usia. Setiap hari yang berlalu tidak hanya menambah pengalaman hidup, tetapi juga mengurangi jatah umur yang dimiliki. Ketika satu hari berlalu, sesungguhnya satu hari pula usia manusia telah berkurang.

Karena itulah Allah menyatakan bahwa manusia berada dalam kerugian. Kerugian yang dimaksud bukan hanya kehilangan harta atau kesempatan. Kerugian terbesar adalah berlalunya waktu yang tidak dapat diputar kembali. Uang yang hilang masih bisa dicari, tetapi waktu yang telah pergi tidak pernah kembali.

Penjelasan Hamka tersebut mengajak manusia untuk melihat waktu dari sudut pandang yang berbeda. Sering kali seseorang merasa rugi ketika kehilangan uang atau gagal mencapai target tertentu. Padahal setiap hari yang berlalu tanpa makna merupakan kerugian yang jauh lebih besar.

Baca juga: Pesan Surah An-Nur Ayat 19 untuk Mencegah Oversharing di Era Digital

Scroll Tanpa Henti dan Kerugian yang Tidak Disadari

Menariknya, Hamka juga mengutip penjelasan Muhammad Abduh mengenai kebiasaan masyarakat Arab pada masa lalu. Menurutnya, orang-orang Arab sering berkumpul pada waktu sore untuk mengobrol tentang berbagai masalah kehidupan. Percakapan itu sering berkembang menjadi pembicaraan yang tidak bermanfaat.

Sebagian orang kemudian menganggap waktu sore sebagai waktu yang membawa kesialan karena sering melahirkan pertengkaran dan permusuhan. Namun, Muhammad Abduh menegaskan bahwa yang salah bukanlah waktunya. Hal yang salah adalah cara manusia menggunakan waktu tersebut.

Pesan ini terasa sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Jika dahulu orang menghabiskan waktu dalam percakapan yang tidak jelas arahnya, kini banyak orang menghabiskan waktu dengan terus menggulir media sosial tanpa tujuan yang jelas. Medianya berubah, tetapi persoalannya tetap sama.

Satu video berganti dengan video lain. Satu unggahan berganti dengan unggahan berikutnya. Tidak terasa, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk belajar, bekerja, membaca Al-Qur’an, atau berinteraksi dengan keluarga habis begitu saja. Yang tersisa hanya rasa lelah dan perasaan bahwa hari berlalu terlalu cepat.

Tentu media sosial bukan sesuatu yang harus dijauhi. Teknologi dapat menjadi sarana belajar, berdakwah, bekerja, bahkan menyebarkan manfaat kepada banyak orang. Namun, masalah muncul ketika seseorang kehilangan kendali atas waktunya dan membiarkan dirinya larut dalam hal yang tidak memberikan manfaat.

Baca juga: Materialisme dan Konsumerisme Sebagai Tantangan Terhadap Kehidupan Muslim di Era Digital

Empat Jalan Agar Tidak Merugi

Setelah menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, Surah Al-’Ashr memberikan empat jalan keselamatan. Empat hal inilah yang menjadi pengecualian dari kerugian yang disebutkan dalam ayat sebelumnya.

Pertama adalah iman. Hamka menjelaskan bahwa iman membuat manusia memahami tujuan hidupnya. Dengan iman, seseorang menyadari bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih kekal.

Kedua adalah amal saleh. Keimanan tidak cukup berhenti sebagai keyakinan dalam hati. Iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat. Waktu yang dimiliki manusia seharusnya diisi dengan pekerjaan dan aktivitas yang bernilai baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

Ketiga adalah saling menasihati dalam kebenaran. Manusia tidak hidup sendiri. Karena itu, kehidupan yang baik memerlukan lingkungan yang saling mengingatkan kepada nilai-nilai kebenaran. Di tengah derasnya arus informasi digital, prinsip ini menjadi semakin penting untuk dijaga.

Keempat adalah saling menasihati dalam kesabaran. Menjalankan kebenaran tidak selalu mudah. Seseorang membutuhkan kesabaran agar tetap mampu mempertahankan komitmennya terhadap hal-hal yang baik, termasuk dalam menggunakan waktunya secara bijak.

Baca juga: Relasi antara Dakwah dan Opini Publik dalam QS. Ali Imran: 104 Perspektif Hamka

Lebih dari Sekadar Mengurangi Screen Time

Pesan Surah Al-’Ashr sebenarnya tidak berhenti pada persoalan media sosial atau lamanya seseorang menatap layar gawai. Surah ini mengajak manusia untuk merenungkan nilai waktu yang dimilikinya dan bagaimana waktu tersebut digunakan selama hidup.

Barangkali persoalan terbesar sekarang bukan kurang waktu, melainkan terlalu banyak waktu yang terlewat tanpa makna. Kita terus bergerak dari satu konten ke konten lain, tetapi tidak bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Kita merasa sibuk, tetapi belum tentu melakukan sesuatu yang benar-benar penting.

Surah Al-’Ashr mengingatkan bahwa setiap detik yang berlalu adalah bagian dari umur yang tidak akan pernah kembali. Karena itu, yang perlu dikhawatirkan bukan sekadar berapa lama menggenggam gawai, tetapi apakah waktu yang dihabiskan mendekatkan kepada Allah atau justru menjauhkan dari semuanya.

Pada akhirnya, untung dan rugi kehidupan tidak ditentukan oleh banyaknya waktu yang dimiliki seseorang. Hal yang menentukan adalah bagaimana waktu tersebut digunakan, sebagaimana pesan Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar. Sebab waktu akan terus berjalan, sementara manusia hanya diberi satu kesempatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini