Q.S Al-Furqan Ayat 63: Kesalehan Tidak Berhenti di Masjid

0
191

Apakah seseorang dapat disebut saleh hanya karena rajin beribadah? Pertanyaan ini sering muncul di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang dipandang saleh karena tekun melaksanakan salat, puasa, dan berbagai ibadah lainnya. Namun, dalam kehidupan sosial, tidak jarang ditemukan sikap mudah merendahkan orang lain, gemar berdebat dengan kasar, atau sulit menghargai perbedaan. Di sisi lain, ada pula orang yang tidak banyak menampilkan simbol-simbol kesalehan, tetapi kehadirannya justru membawa ketenangan dan kenyamanan bagi lingkungan sekitarnya.

Fenomena tersebut mengundang pertanyaan mengenai bagaimana Alquran sebenarnya menggambarkan sosok yang saleh. Menariknya, QS. Al-Furqan ayat 63 memberikan gambaran tentang karakter ‘ibadurrahman, yaitu hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih yang tidak hanya memiliki hubungan spiritual yang baik dengan Tuhan, tetapi juga menunjukkan akhlak mulia dalam kehidupan sosial.

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا ۝٦

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”.”

Dalam Tafsir Mafatih al-Ghayb, Fakhruddin al-Razi menjelaskan bahwa QS. Al-Furqan ayat 63 menggambarkan karakter ‘ibadurrahman sebagai pribadi yang rendah hati dan mampu merespons kebodohan dengan kedamaian. Penafsiran ini menunjukkan bahwa kesalehan dalam Alquran tidak hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui akhlak dan perilaku sosial.

Baca Juga: Kesalehan: Makna, Kedudukan, dan Pengaruhnya dalam Kehidupan

Makna Karakter ‘Ibadurrahman dalam QS. Al-Furqan ayat 63

Pada QS. Al-Furqan [25]: 63 yang berbunyi:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا ۝٦٣

Artinya:

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”.”

Ayat tersebut menjelaskan tentang karakter ‘ibadurrahman atau hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih. Dalam penafsiran yang dijelaskan oleh Fakhruddin ar-Razi, penyebutan “hamba-hamba Yang Maha Pengasih” pada awal rangkaian ayat ini menjadi pengantar bagi kabar tentang balasan yang akan mereka terima pada bagian akhir ayat-ayat tersebut, yaitu kenikmatan surga. Penyebutan kata ‘ibad juga menunjukkan kemuliaan kedudukan mereka, karena istilah tersebut digunakan bagi orang-orang yang secara khusus menekuni pengabdian kepada Allah.

Dalam penjelasannya, ayat ini menggambarkan beberapa sifat utama dari ‘ibadurrahman. Sifat pertama adalah cara mereka berjalan di bumi dengan penuh ketenangan dan kerendahan hati. Makna berjalan dengan “tenang” tidak hanya menunjuk pada cara berjalan secara fisik, tetapi juga menggambarkan sikap hidup yang lembut, tidak sombong, dan tidak menampakkan keangkuhan di hadapan orang lain. Mereka tidak berjalan dengan kesombongan atau merasa lebih tinggi dari sesama manusia, sebagaimana Alquran juga melarang manusia berjalan di bumi dengan sikap angkuh. Dengan demikian, kerendahan hati menjadi salah satu tanda penting dari kepribadian seorang hamba yang dekat dengan Allah.

Sifat berikutnya terlihat ketika mereka menghadapi orang-orang yang bersikap bodoh atau kasar. Ayat tersebut menyebutkan bahwa ketika orang-orang yang tidak bijak berbicara kepada mereka dengan kata-kata yang tidak baik, mereka justru menjawab dengan ucapan yang membawa kedamaian. Dalam penafsiran ini dijelaskan bahwa ucapan “salam” dapat dimaknai sebagai sikap menahan diri dari membalas kebodohan, menjaga jarak dari perdebatan yang tidak bermanfaat, serta menunjukkan kesabaran dalam menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan. Sikap ini menunjukkan bahwa pengendalian diri dan kelembutan dalam bersikap merupakan bagian penting dari karakter ‘ibadurrahman.

Baca Juga: Tafsir Surah Allail Ayat 6-10: Algoritma Amal Saleh

Dimensi Sosial dalam Konsep Kesalehan

Kesalehan sosial dalam Islam dapat terlihat dari berbagai tindakan sederhana yang memberi manfaat kepada orang lain. Bahkan perbuatan kecil sekalipun dapat menjadi bagian dari keimanan apabila membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar. Dalam sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan la ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim)

Pada hadist tersebut disebutkan bahwa iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, dan salah satu cabang yang paling sederhana adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Hadis tersebut menunjukkan bahwa nilai keimanan tidak hanya tercermin dalam ibadah yang bersifat ritual, tetapi juga dalam tindakan nyata yang memudahkan kehidupan orang lain.

Dalam beberapa kajian tentang kesalehan dalam Islam dijelaskan bahwa amal saleh tidak hanya berkaitan dengan kebaikan yang dilakukan untuk diri sendiri, tetapi juga mencakup perbuatan yang memberi manfaat kepada orang lain. Konsep amal dalam Alquran memberi isyarat bahwa setiap perbuatan baik seharusnya tidak berhenti pada kepentingan pribadi, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kesalehan individu belum dianggap sempurna apabila tidak disertai dengan kesalehan sosial.

Seseorang yang berbuat baik tidak hanya dituntut menjaga hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dalam beberapa kajian etika Islam juga dijelaskan bahwa pembentukan akhlak yang baik berkaitan dengan proses penyucian jiwa. Dalam tradisi tasawuf, proses ini dikenal dengan istilah tazkiyat al-nafs, yaitu usaha membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dan menumbuhkan sifat-sifat yang baik. Proses ini tidak hanya bertujuan mendekatkan manusia kepada Allah, tetapi juga membentuk sikap yang lebih bijaksana dalam kehidupan sosial.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Ma’un 1-3: Ingat, Tidak Saleh Sosial Juga Pendusta Agama!

Relevansinya dalam Kehidupan Sosial

Di era digital saat ini, karakter ‘ibadurrahman sebagaimana digambarkan dalam QS. Al-Furqan ayat 63 menjadi semakin relevan. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang berbagi informasi dan mempererat hubungan antarmanusia tidak jarang berubah menjadi arena pertentangan yang dipenuhi ujaran kasar, saling merendahkan, dan keinginan untuk memenangkan perdebatan. Dalam situasi seperti ini, ajaran Alquran mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada kemampuannya mengalahkan orang lain dalam perdebatan, melainkan pada kemampuannya menjaga akhlak dan merespons perbedaan dengan bijaksana.

Selain itu, berbagai fenomena seperti polarisasi politik, budaya saling menghakimi (cancel culture), serta kecenderungan merasa paling benar dalam memahami agama menunjukkan pentingnya menghadirkan kembali nilai-nilai kerendahan hati dalam kehidupan sosial. Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi ruang dialog sering kali berubah menjadi alasan untuk mencela dan menjatuhkan pihak lain. Padahal, karakter ‘ibadurrahman yang dijelaskan Alquran justru mengajarkan sikap tenang, tidak mudah terpancing emosi, serta mengedepankan kedamaian ketika menghadapi perkataan yang tidak menyenangkan.

Dalam konteks tersebut, pesan QS. Al-Furqan ayat 63 tidak hanya relevan bagi kehidupan individu, tetapi juga menjadi pedoman etis dalam membangun ruang publik yang sehat. Kesalehan yang diajarkan Alquran bukan sekadar tampak dalam ibadah ritual, melainkan juga tercermin dalam kemampuan menjaga lisan, menghormati perbedaan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi orang lain, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

Penutup

Pada akhirnya, pembahasan mengenai kesalehan tidak hanya berkaitan dengan seberapa tekun seseorang menjalankan ibadah ritual, tetapi juga bagaimana ia menghadirkan nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sosial. Melalui penafsiran QS. Al-Furqan ayat 63, al-Razi menunjukkan bahwa karakter ‘ibadurrahman tidak hanya tercermin dalam hubungan seorang hamba dengan Allah, tetapi juga dalam sikap rendah hati serta kemampuannya merespons kebodohan dan perlakuan buruk dengan kedamaian. Dengan demikian, kesalehan dalam Alquran tidak berhenti pada aspek spiritual semata, melainkan harus terwujud dalam akhlak dan perilaku yang membawa kemaslahatan bagi sesama.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini