Menelusuri Dimensi I’jaz Al-Qur’an: Eksplorasi Ragam Kemukjizatan dalam Perspektif Ulumul Qur’an

0
14
Menelusuri Dimensi I’jaz Al-Qur’an: Eksplorasi Ragam Kemukjizatan dalam Perspektif Ulumul Qur’an
Menelusuri Dimensi I’jaz Al-Qur’an: Eksplorasi Ragam Kemukjizatan dalam Perspektif Ulumul Qur’an

Sebelum memasuki pembahasan i’jaz Al-Qur’an, terdapat satu pertanyaan yang patut diajukan: mengapa Al-Qur’an dikatakan sebagai mukjizat? Pertanyaan ini tampak sederhana, namun dapat memasuki gerbang khazanah keilmuan Islam secara mendalam terkait pembahasan i’jaz Al-Qur’an yang lebih komprehensif.

Secara umum, umat Islam mengklaim bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Namun, para ulama tidak berhenti hanya pada pengklaiman tersebut. Mereka berusaha menjelaskan letak dan hakikat kemukjizatan Al-Qur’an. Apakah kemukjizatannya terletak pada susunan bahasanya yang tak tertandingi? Pada kandungan maknanya? Pada pemberitaan tentang hal-hal yang gaib? Ataukah pengaruh terhadap jiwa spiritual manusia?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian melahirkan disiplin ilmu yang dikenal dengan ‘Ilm I’jāz al-Qur’ān. Sejak abad ketiga dan keempat Hijriah, para ulama mulai merumuskan teori-teori yang menjelaskan mengapa manusia tidak mampu menghadirkan sesuatu yang sebanding dengan Al-Qur’an, meskipun Al-Qur’an sendiri berkali-kali menantang mereka untuk melakukannya (ayat-ayat at-taḥaddī).

Dalam perkembangannya, lahirlah beragam pendekatan. Sebagian ulama, seperti Al-Baqillani, menegaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an terutama terletak pada keunggulan bahasa (struktur dan komposisi bahasanya) yang tidak mungkin ditiru oleh manusia. Pandangan ini kemudian dikembangkan lebih sistematis oleh Abdul Qahir al-Jurjani melalui teori an-naẓm, yang menempatkan hubungan antarkata, susunan kalimat, dan keserasian makna sebagai inti keajaiban Al-Qur’an.

Lahirnya teori Al-Baqillani ini berdasarkan kritikan tajam terhadap pendapat ulama muktazilah, yakni Ibrahim An-Nazam yang mencetuskan teori as-sarfah. Teori ini mengasumsikan bahwa ketidakmampuan manusia dalam menandingi Al-Qur’an disebabkan adanya intervensi Allah dalam memalingkan potensi manusia. Pendekatan seperti ini oleh Nasr Hamid Abu Zaid dalam Mafhum an-Nash (terj, Tekstualitas Al-Qur’an) dikategorikan sebagai dimensi i’jaz eksternal (kharij al-amr).

Baca juga: Tafsir tentang Laut yang Tidak Bercampur: Mukjizat atau Fenomena Ilmiah?

Konsepsi Mukjizat Al-Qur’an sebagai mukjizat abadi

Konsep dasar  mukjizat Al-Qur’an dapat ditelusuri ketika Al-Quran memberikan tantangan balik kepada para penentangnya. Dialektika ini bermula ketika ada kegagalan berupa tuduhan kaum kafir dalam memvonis Al-Qur’an sebagai syair atau asatir al-awwalin (dongeng kuno). Dalam ruangan tantangan ini, Az-Zarqani membaca tantangan Al-Quran sebagai gambaran kekuatan Al-Quran dalam melemahkan pengetahuan para penentangnya. Namun, Az-Zarqani dalam menarasikan hal ini tidak serta merta menjadikan  kemukjizatan Al-Qur’an sebagai tujuan melemahkan para penentangnya, namun hanya sebatas “konsep verifikatif” dalam membuktikan kebenaran rasul serta apa yang dibawanya (Manahilul Irfan Fi Ulumil Qur’an).

Secara etimologis, kata mukjizat berasal dari derivasi kata a’jaza – yu’jizu – i’jazan, yang berarti melemahkan. Hal ini berkaitan dengan fungsi kerasulan serta kenabian terhadap umatnya dengan memperlihatkan “bukti” yang dibawanya. (Sejarah dan Ulum Al-Qur’an (hlm. 106).  Ahmad Abu Umar Syufah mendefinisikan mukjizat sebagai manifestasi kekuatan supra-rasional yang melampaui hukum alam dan sifat materiil. (Al Mukjizat Al Qur’aniyyah (hlm. 21)

Melihat sisi kelaziman konsep kemukjizatan, As-Suyuthi membagi mukjizat dalam 2 konsep, : (1) hissiy, suatu mukjizat yang bersifat empiris yang hanya berorientasi pada indera lahiriah. Karakteristiknya bersifat kontemporer dan terbatas.(2) aqliy, suatu mukjizat yang bersifat rasional yang dapat diakses melalui nalar dan penalaran intelektual.

Konsep pertama, termanifestasikan pada kemukjizatan nabi terdahulu. Mukjizat tersebut dapat diresepsikan dengan panca indera. Namun ketika nabi tersebut telah wafat, maka mukjizat tersebut juga akan hilang dan terkubur oleh waktu. Sementara konsep kedua, termanifestasikan kepada kemukjizatan Al-Qur’an. Dikatakan aqliy, karena basis pendekatannya adalah akal. Hal ini secara tidak langsung telah menggambarkan bahwa keabsahan kemukjizatannya bersifat trans-temporal dan trans-spasial (berlaku sepanjang waktu dan tempat). Dalam wacana konsep seperti ini, Dr. Said Ramadhan Al-Buthi menyebutnya sebagai mukjizat rabbaniyyah yang menyentuh intuisi, kejiwaan dan rasionalitas manusia secara simultan.

Baca juga: Kajian Kata Mukjizat dalam Al-Quran dan Aspek Kemukjizatan Al-Quran

Dimensi dan Aspek Kemukjizatan Al-Qur’an

Selanjutnya, para ulama mengidentifikasi beberapa dimensi utama yang menjadi bukti kemukjizatan Al-Qur’an. Setidaknya ada 3 aspek yang akan dijelaskan lebih lanjut.

Pertama, aspek linguistik Al-Qur’an (i’jaz lughawi). Az-Zarkasyi menyatakan bahwa kegagalan para sastrawan Arab dan orang-orang kafir dalam menandingi Al-Qur’an bersumber dari keterbatasan kemampuan mereka dalam menyamai kualitas lafaz Al-Qur’an. (Al Burhan Fi Ulumil Qur’an (hlm. 384).

Sehingga dalam wacana ini, semakin memperkuat teori kebahasaan yang digagas oleh Al-Baqillani (teori beliau dalam kebahasaan Al-Qur’an terkait susunan  dan struktur bahasanya dalam beberapa ayat) yang kemudian dikembangkan dan disistematiskan oleh Al-Jurjani mengenai teori Nadhamnya.

Kedua, aspek simetrisitas dan keseimbangan kata yang digunakan (I’jaz ‘Adadi). Kajian Abd al-Razaq Naufal memotret adanya presisi statistik dalam Al-Qur’an, di antaranya: (1) keseimbangan jumlah kata dengan antonimnya, seperti kata Al-Hayy dan Al-Maut masing-masing disebutkan sebanyak 145 kali. (2) keseimbangan jumlah dengan sinonimnya, seperti kata Al-Dhallun dan Mawta (orang sesat atau yang mati jiwanya) masing-masing disebutkan 17 kali. (3) keseimbang jumlah kata yang bersifat khusus, seperti kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal disebutkan sebanyak 365 kali yang menunjukkan hari dalam setahun, serta bentuk jamak dan tasniahnya berjumlah 30 yang menunjukkan hari dalam sebulan, lalu penyebutan syahr sebanyak 12 kali yang menunjukkan jumlah bulan dalam setahun. (Sejarah dan Ulum Al-Qur’an (hlm. 114-117)

Ketiga, aspek akurasi prediksi pemberitaan masa depan. Dalam Q.S. Al-Qamar [54] : 45, :

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّوْنَ الدُّبُرَ

Artinya: “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka berbalik ke belakang (mundur).”

Dalam ayat ini, Allah memberitahu Nabi terkait kaum musyrikin yang dapat ia kalahkan. Ayat ini diturunkan ketika Nabi masih di Mekah. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 8 H, mereka dikalahkan secara total pada peristiwa Fathu Makkah. (Sejarah dan Ulum Al-Qur’an (hlm. 126-127).

Penjelasan 3 aspek atau dimensi kemukjizatan ini hanyalah beberapa aspek saja di antara aspek-aspek lainnya. Seperti contoh aspek keabadian Al-Qur’an, bagaimana Allah menjaga Al-Qur’an tanpa adanya tahrif (perubahan) dari sisi tauqifi-nya (taken for granted-nya). Tentu, aspek dan dimensi lainnya akan lebih baik jika diulas dalam artikel-artikel selanjutnya. Wallahu a’lam[].

Baca juga: Mukjizat-Mukjizat Nabi Muhammad saw. Ketika Hijrah ke Madinah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini