Proyek Muṣḥaf al-Ummah dan Tantangan Pengajarannya di Indonesia

0
42
Proyek Muṣḥaf al-Ummah dan Tantangan Masa Depan Pengajarannya di Indonesia
Proyek Muṣḥaf al-Ummah dan Tantangan Masa Depan Pengajarannya di Indonesia

Muṣḥaf al-Ummah (al-Jāmi‘ limā Unzila) merupakan sebuah proyek yang mengintegrasikan beragam qirā’āt, riwāyah, dan sistem ḍhabṭ dalam satu platform. Di balik gagasan tersebut, muncul tantangan terkait Standardisasi mushaf dan pengajaran Al-Qur’an, khususnya di Indonesia. Tulisan ini mengulas peluang dan tantangan proyek tersebut dalam konteks studi Al-Qur’an kontemporer.

Ambisi Menyatukan Tradisi Mushaf Dunia

Sejak kodifikasi Al-Qur’an ke-2 pada era Khalifah Utsman bin Affan, Al-Qur’an telah menjadi simbol persatuan umat Islam lintas wilayah dan generasi. Namun, seiring penyebaran Islam ke berbagai belahan dunia, tradisi penulisan mushaf berkembang dengan gaya dhabt dan ornamen yang beragam.

Rasm utsmani menjadi tonggak verifikator atas validitas penulisan mushaf di dunia yang mencangkup seluruh kemungkinan qiraat yang muktabar. Akan tetapi, variasi penggunaan dhabt (tanda baca) di tiap negara bisa saja berbeda. contohnya pada mushaf madinah, lafdz al-jalalah sering ditulis hanya dengan fathah miring (ٱللَّهِ). sedangkan dalam mushaf standar Indonesia, Turki maupun Pakistan, harus ditulis dengan fathah panjang(الله).

Perbedaan ini tidak menunjukkan Al-Qur’an yang “berbeda”. melainkan usaha masing-masing ulama di setiap negara, untuk menyajikan mushaf yang mudah dibaca oleh masyarakatnya. Orang Arab tidak perlu memakai fathah panjang, untuk tahu bahwa bacaan itu dibaca mad (panjang). Berbeda dengan masyarakat Indonesia, ataupun non penutur Arab yang memerlukan tanda tersebut.

Baca juga: Menyelami Dinamika Sejarah Mushaf: Bedah Buku “Konstruksi Sejarah Mushaf Alquran Abad Pertama Islam”

Di tengah keragaman ini, lahirlah proyek Muṣḥaf al-Ummah yang digagas oleh Jam`iyyat an-Nur Turkiye, menggandeng para ulama dan pakar Al-Qur’an internasional di bawah bimbingan Prof. Dr. Ahmad Isa al-Ma`sharawy. Proyek ini berupaya menghimpun warisan qirā’āt dan penulisan mushaf yang selama berabad-abad tersebar dalam berbagai tradisi pembacaan ke dalam satu platform yang lebih terintegrasi.

Tidak hanya memuat sepuluh qirā’āt dan dua puluh riwāyah yang mutawātir, Muṣḥaf al-Ummah juga berusaha mengakomodasi berbagai sistem habṭ yang berkembang di dunia Islam. Yang baru adalah, usaha ini tidak hanya mendigitalisasikan warisan nushsus mushaf yang pernah beredar, melainkan juga menghadirkan bacaan Al-Qur’an dari para masyayikh dalam bentuk audio.

Proyek al-Jami` li ma Unzila ini digadang-gadang sebagai al-jam`u al-tsalits (kodifikasi ke-3) di era modern. Meski klaim tersebut masih dapat diperdebatkan, Muṣḥaf al-Ummah menunjukkan adanya keinginan kuat untuk menghadirkan ruang bersama bagi umat Islam global tanpa dibatasi oleh sekat geografis maupun tradisi lokal.

Antara Persatuan dan Keragaman: Problematika Standardisasi Mushaf

Di balik ambisi besar Muṣḥaf al-Ummah, terdapat sejumlah tantangan yang tidak dapat diabaikan. Salah satu yang paling mendasar adalah kenyataan bahwa tradisi mushaf di dunia Islam telah berkembang melalui perjalanan sejarah yang panjang dan berbeda-beda.

Keragaman tersebut tidak hanya menyangkut qirā’āt, tetapi juga mencakup aspek habṭ, tanda waqaf wa al-ibtida`, sistem penomoran ayat, hingga metode pembelajaran Al-Qur’an yang digunakan oleh masing-masing komunitas muslim.

Pada titik ini muncul pertanyaan penting: apakah persatuan umat Islam harus diwujudkan melalui penyeragaman bentuk mushaf? Di samping itu, sejarah justru menunjukkan bahwa umat Islam selama berabad-abad mampu mempertahankan kesatuan Al-Qur’an meskipun menggunakan tradisi mushaf yang beragam.

Studi menunjukkan, ada 3 model utama dalam penulisan dan penyebaran msuhaf era post-modern;

  1. Masyariqah: Model ini mempresentasikan transmisi mushaf di area Mesir, Syam, dan Tanah Arab.
  2. Magharibah:mewakili tradisi penulisan mushaf di daerah Maroko dan Afrika Barat, yang memiliki sedikit perbedaan seperti penulisan huruf fa dengan satu titik di bawah, sementara qaf dengan satu titik di atas.
  3. Al-Atrak: Arus ini mewakili Turki, Indonesia, Pakistan,dan negara-negara di luar area masyariqah dan magharibah.

Baca juga: Popularitas Mushaf Alquran Produksi Bombay di Indonesia

Namun, penyebutan nama al-Atrak ini sempat menimbulkan protes, khususnya dari LPMQ di Indonesia. Menurut LPMQ, istilah al-atrak hanya terbatas pada tradisi penyalinan mushaf di area Turki dan sekitarnya (Zaenal Arifin Madzkur dkk., “Considerating of The Mushaf Al-Ummah The Dabt Asia-Anatolia in Compared to The Indonesian Standard Qur’an and The Pakistani Mushaf.” SUHUF 17 (2)”, hlm. 347). Padahal, banyak juga tradisi yang menggunakan model ini di wilayah Pakistan, Indoenesia, dan berbagai wilayah lain.

Atas dasar inilah LPMQ mengajukan pengistilahan model Asia-Anadolu yang secara bahasa lebih mencangkup daerah-daerah non-masyariqah dan magharibah.

Salah satu tantangan utama Muṣḥaf al-Ummah bukanlah menyatukan teks Al-Qur’an yang memang telah satu, melainkan menjembatani beragam tradisi keilmuan yang tumbuh di sekelilingnya. Persoalan inilah yang menjadikan proyek tersebut menarik sekaligus mengundang perdebatan di kalangan akademisi dan pemerhati studi Al-Qur’an.

Tantangan Baru Pengajaran Al-Qur’an di Indonesia

Apabila Muṣḥaf al-Ummah berhasil mencapai tujuannya, maka dampaknya tidak hanya dirasakan pada ranah percetakan mushaf atau studi qirā’āt saja. Lebih dari itu, hal ini juga berpengaruh pada cara umat Islam dalam mempelajari Al-Qur’an.

Tantangan ini akan terasa lebih besar di negara-negara non-Arab, termasuk Indonesia, yang selama ini mengembangkan sistem pengajaran Al-Qur’an berbasis satu riwāyah dominan, yaitu riwāyah Ḥafṣ dari ‘Āṣim.

Selama beberapa dekade, mayoritas muslim Indonesia belajar membaca Al-Qur’an melalui jalur praktis dan pedagogis yang relatif sederhana. Santri diperkenalkan kepada huruf hijaiyah, tajwid, dan tahsin, kemudian diarahkan untuk membaca mushaf standar yang digunakan secara nasional.

Dalam model pembelajaran semacam ini, keberagaman qirā’āt jarang menjadi bagian dari kurikulum dasar. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang menganggap setiap perbedaan bacaan Al-Qur’an sebagai kesalahan atau penyimpangan karena tidak sesuai dengan bacaan yang mereka kenal.

Baca juga: Mengenal Edisi Mushaf Standar Indonesia

Kondisi tersebut berpotensi berubah ketika Muṣḥaf al-Ummah membuka akses publik terhadap berbagai qirā’āt dan riwāyah secara bersamaan. Seorang pelajar dapat dengan mudah menemukan variasi bacaan yang sebelumnya hanya dipelajari oleh kalangan spesialis.

Keterbukaan informasi ini menghadirkan dua kemungkinan sekaligus. Di satu sisi, ia membuka peluang lahirnya apresiasi yang lebih luas terhadap kekayaan tradisi transmisi Al-Qur’an. Namun di sisi lain, ia juga dapat memunculkan kebingungan baru apabila tidak disertai dengan literasi yang memadai.

Persoalan yang lebih mendasar sesungguhnya bukan terletak pada banyaknya qirā’āt yang tersedia, melainkan pada kesiapan institusi pendidikan Islam dalam menjelaskan makna keragaman tersebut.

Terlebih, dalam konteks pendidikan di Indonesia, masih banyak guru agama maupun guru baca tulis Al-Qur’an yang memerlukan peningkatan kompetensi. Kementerian Agama RI mencatat, sekitar 50% guru PAI di sekolah formal berada di level basic dalam kompetensi membaca Al-Qur’an. Sementara itu, hanya 13-17% guru PAI yang berada di level mahir (Halimah Dwi Putri, Respons Hasil Asesmen, Kemenag Latih 4.921 Guru PAI Tuntas Baca Al-Qur’an).

Baik pemerintah, ormas Islam, maupun lembaga dakwah dan lembaga pengajaran Al-Qur’an, tampaknya harus bahu-membahu dalam akselerasi peningkatan literasi Al-Qur’an. Khususnya menyediakan dan mempersiapankan para pengajar Al-Qur’an yang aware dan faham akan historis dan keberagaman qiraat, dhabt dan seluk beluk mushaf di berbagai belahan dunia (Ahmad Hariyanto, “Manajemen Pendidikan Qira’at Sab’ah di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Remaja (PTYQR) Kudus.” Jurnal Al Burhan 3 (2), hlm. 3).

Baca juga: Status Makkiyah dan Madaniyah Mushaf Standar Indonesia, Apakah Berbeda dengan Mushaf Lain?

Selama ini, pengajaran Al-Qur’an sering kali berorientasi pada aspek performatif: membaca dengan benar, menghafal dengan baik, dan menerapkan kaidah tajwid secara tepat.

Pendekatan ini tentu penting, tetapi tidak lagi memadai ketika masyarakat mulai berinteraksi dengan ekosistem digital yang memungkinkan mereka mengakses berbagai bentuk bacaan Al-Qur’an secara instan. Dalam situasi demikian, pengajaran Al-Qur’an perlu bergerak dari sekadar pendidikan membaca menuju pendidikan literasi Al-Qur’an.

Literasi Al-Qur’an yang dimaksud bukanlah kewajiban mengajarkan sepuluh qirā’āt beserta riwayatnya. Melainkan, yang dibutuhkan adalah kemampuan menjelaskan bahwa keragaman bacaan yang sah merupakan bagian dari sejarah transmisi Al-Qur’an itu sendiri.

Dengan pemahaman semacam ini, masyarakat tidak akan mudah terjebak pada dikotomi “bacaan benar” dan “bacaan salah” ketika menjumpai variasi riwayah yang sebenarnya memiliki landasan ilmiah yang kuat.

Dari sudut pandang ini, Muṣḥaf al-Ummah dapat dibaca sebagai penanda perubahan penting dalam sejarah studi Al-Qur’an kontemporer. Jika abad ke-20 ditandai oleh proyek standardisasi mushaf nasional untuk memudahkan pembelajaran, maka abad ke-21 tampaknya akan ditandai oleh kebutuhan membangun literasi qirā’āt dan kesadaran historis mengenai keragaman tradisi Al-Qur’an.

Tantangan terbesar bukan lagi bagaimana menyebarkan mushaf kepada masyarakat, melainkan bagaimana mempersiapkan masyarakat untuk memahami kompleksitas pengetahuan yang terkandung di balik mushaf tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini