Membaca Maqāṣid al-Qur’an Bersama Hannān Lahhām: Dari Penciptaan Manusia hingga Kemaslahatan Kehidupan

0
27

Ketika berbicara tentang tafsir Al-Qur’an, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan penjelasan makna ayat, hukum-hukum Islam, atau kisah para nabi. Namun, dalam perkembangan studi Al-Qur’an kontemporer, muncul pendekatan yang tidak hanya bertanya “apa makna ayat ini?”, tetapi juga “untuk tujuan apa ayat ini diturunkan?”. Pendekatan inilah yang dikenal sebagai maqāṣid al-Qur’an, yakni upaya memahami tujuan-tujuan besar yang ingin diwujudkan Al-Qur’an dalam kehidupan manusia. Dalam konteks pengembangan pendekatan tersebut, Hannān Lahhām merupakan salah satu tokoh yang memberikan perhatian serius terhadap kajian maqāṣid al-Qur’an.

Beliau adalah seorang sarjana Al-Qur’an asal Suriah. Melalui karyanya Maqāṣid al-Qur’ān al-Karīm (Wa Laqad Karramnā Banī Ādam), ia berusaha menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berisi petunjuk-petunjuk praktis, tetapi juga memiliki tujuan-tujuan universal yang menjadi fondasi kehidupan manusia. Pemikirannya menarik karena menawarkan cara pandang yang sistematis dalam memahami pesan Al-Qur’an melalui tiga dimensi utama, yakni maqāṣid al-khalq, maqāṣid al-qadr, dan maqāṣid al-dīn ( Lahhām, 2004). Berikut uraian penjelasannya.

Baca Juga: Ḥannân Laḥḥâm: Aktivis Perempuan, Pegiat Tafsir Virtual, dan Pengarang Kitab Maqâṣid al-Qur’ân al-Karîm

Tujuan Penciptaan Manusia

Dimensi pertama adalah maqāṣid al-khalq, yaitu tujuan penciptaan manusia dan alam semesta. Menurut Hannān Lahhām, Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa manusia tidak diciptakan tanpa arah. Kehadiran manusia di bumi membawa misi yang besar, yaitu beribadah kepada Allah, memakmurkan bumi, serta menjaga keseimbangan kehidupan.

Dalam perspektif ini, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki kemuliaan dan tanggung jawab. Karena itu, segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat manusia bertentangan dengan tujuan penciptaan yang digariskan Al-Qur’an. Pemahaman semacam ini menjadikan nilai kemanusiaan sebagai salah satu pesan sentral wahyu.

Ketika dunia modern masih dihadapkan pada persoalan diskriminasi, kekerasan, dan ketimpangan sosial, gagasan tersebut mengingatkan bahwa penghormatan terhadap manusia bukan sekadar tuntutan moral, melainkan bagian dari tujuan penciptaan itu sendiri. (A’yuniyah, 2025).

Baca Juga: Maqasid al-Quran Perspektif ‘Abd al-Karim Hamidi

Hikmah di Balik Ketentuan Ilahi

Dimensi kedua adalah maqāṣid al-qadr, yakni tujuan yang terkandung dalam berbagai ketentuan dan sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan manusia. Tidak semua peristiwa yang dialami manusia dapat dipahami secara langsung. Ada kalanya seseorang menghadapi kesulitan, kegagalan, bahkan musibah yang tampak tidak sesuai dengan harapan. Menurut Lahhām, Al-Qur’an mengajarkan bahwa di balik setiap ketentuan terdapat hikmah dan tujuan pendidikan bagi manusia. Kehidupan bukan sekadar rangkaian peristiwa yang terjadi tanpa makna, melainkan proses pembentukan karakter, kedewasaan, dan kesadaran spiritual.

Cara pandang ini penting di tengah kehidupan modern yang sering kali menuntut segala sesuatu serba cepat dan instan. Ketika menghadapi berbagai krisis sosial maupun pribadi, manusia diajak untuk melihat setiap peristiwa secara lebih mendalam, bukan hanya dari sisi kesulitan yang tampak di permukaan. (A’yuniyah, 2025).

Agama untuk Kemaslahatan

Sementara itu, dimensi ketiga adalah maqāṣid al-dīn, yaitu tujuan keberagamaan yang hendak diwujudkan Al-Qur’an. Bagi Hannān Lahhām, agama tidak hadir semata-mata untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga untuk membangun kehidupan yang lebih adil, damai, dan bermartabat.

Karena itu, keberagamaan tidak cukup diukur dari banyaknya ritual yang dilakukan seseorang. Nilai agama harus tercermin dalam perilaku sosial, seperti kejujuran, keadilan, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Pemahaman ini sejalan dengan semangat tafsir maqāṣidī yang memandang Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi terwujudnya kemaslahatan manusia (Muttaqin, 2024).

Dalam masyarakat yang semakin beragam, pendekatan tersebut menjadi sangat relevan. Agama tidak ditempatkan sebagai sumber konflik, tetapi sebagai landasan etika yang memperkuat solidaritas sosial dan kerja sama kemanusiaan.

Baca Juga: Pendekatan Maqashid dalam Penafsiran Al-Quran, Prof. Mustaqim: Tafsir itu Tidak Hanya On Paper

Memahami Al-Qur’an Secara Utuh

Ketiga konsep yang ditawarkan Hannān Lahhām pada dasarnya saling berkaitan. Maqāṣid al-khalq menjelaskan mengapa manusia diciptakan, maqāṣid al-qadr menjelaskan bagaimana manusia menjalani kehidupan yang telah ditetapkan Allah, sedangkan maqāṣid al-dīn menunjukkan arah yang harus dituju dalam menjalani kehidupan tersebut. (A’yuniyah, 2025).

Melalui integrasi ketiganya, Al-Qur’an tidak lagi dipahami sebagai kumpulan ayat yang berdiri sendiri, tetapi sebagai sebuah sistem petunjuk yang memiliki tujuan besar bagi kehidupan manusia. Pendekatan ini membantu pembaca melihat hubungan antara ibadah, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari satu kesatuan pesan wahyu.

Pada akhirnya, pemikiran Hannān Lahhām mengingatkan bahwa memahami Al-Qur’an bukan hanya soal mengetahui makna ayat, tetapi juga menangkap tujuan-tujuan luhur yang ingin diwujudkan melalui ayat tersebut. Kerangka pemikiran yang dibangun Hannān Lahhām dalam Maqāṣid al-Qur’ān al-Karīm menunjukkan upaya untuk membaca Al-Qur’an secara lebih holistik dengan menempatkan kemuliaan manusia, hikmah ketentuan ilahi, dan tujuan keberagamaan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan. Ketika tujuan itu dipahami, Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga menjadi panduan yang hidup dalam membangun manusia dan peradaban yang lebih baik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini