BerandaBeritaAl-Quran di Mata Kaligrafer Congaban: Sebuah Resepsi Estetik

Al-Quran di Mata Kaligrafer Congaban: Sebuah Resepsi Estetik

Ya’qut al-Musta’simi, seorang kaligrafer kenamaan era kesultanan Turki Usmani mengistilahkan kaligrafi dengan ‘Seni arsitektur rohani yang lahir melalui alat-alat kebendaan’ (lihat Sirojuddin AR, Seni Kaligrafi Islam, h. 3). Di mata seorang kaligrafer, Al-Quran teramat istimewa. Begitu juga dengan kaligrafer-kaligrafer di Pesantren Congaban atau yang lebih dikenal dengan kaligrafer Congaban. Walaupun resepsi Al-Quran di antara mereka beragam, tapi pada intinya sama-sama berpulang pada satu titik; bahwa mereka sedang mempertontonkan visualisasi keindahan wahyu Tuhan mengikuti gerak imajinasi dan—meminjam istilah Hans Robert Jauss—‘horizon harapan’ dalam benak masing-masing.

Baca juga: Mengenal Hind Shalabi, Pakar Tafsir Sekaligus Aktivis Perempuan Asal Tunisia

Tentang Kaligrafer Congaban

Untuk terjun ke dalam dunia seni kaligrafi Al-Quran tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan pendalaman pada aspek-aspek elementer seperti tekstur, warna, bidang, ruang, kombinasi dan komposisi dengan mengolah ayat-ayat Al-Quran menjadi tampilan yang mampu memanjakan mata siapa saja yang memandangnya. Karena itulah, dalam seni kaligrafi Al-Quran, selain dibutuhkan keterampilan khusus juga diperlukan latihan yang intens.

Dari waktu ke waktu, pelatihan menulis kaligrafi dan terutama pembekalan khat Al-Quran di Pesantren Congaban terus digalakkan. Beberapa di antara santri yang mengikuti pelatihan bahkan pernah menyabet juara dua mewakili Kecamatan Modung, dan juara dua di tingkat Kabupaten Bangkalan dalam ‘Ajang Kreasi antar Pesantren Se Jawa Timur’ (Arifin, Wawancara, 26/6/21).

Para kaligrafer Pesantren Congaban pada dasarnya berangkat dari tradisi kaligrafi dan ornamentik Islam-Arab. Mereka mendalami seluk beluk dan pedoman khat Al-Quran. Mulai dari khat Kufi, Tsuluts, Naskh, Riq’ah, Humayuni (Diwani), sampai Farisi. Walau begitu, mereka tidak berhenti sebatas mendalami kaligrafi klasik-tradisional dengan berpegang pada panduan khat, tetapi melangkah hingga pada pendalaman kaligrafi kontemporer dengan memperkaya konsep-konsep penunjang seperti background, model, gaya tulisan dan lain-lain.

Mereka tidak hanya mengadopsi imaji-imaji simbolik spiritual dari tradisi yang sudah mengakar kuat di pesantren. Lebih dari itu, mereka juga menyuguhkan nilai-nilai artistik baru dan berupaya memperkaya imaji-imaji simbolik-spiritual dimensi fisiko plastis dari kaligrafi Al-Quran secara khusus, dan kaligrafi Arab secara umum. Mereka lalu mengembangkannya menjadi beberapa katagori seperti figural, ekspresionis, simbolis dan abstraksionis murni.

Selain mengukir kaligrafi Al-Quran di lingkungan pesantren, kaligrafer-kaligrafer Congaban juga kerap menerima pesanan dari masyarakat sekitar. Mereka biasanya memesan kaligrafi khusus untuk surah atau ayat tertentu, seperti ayat Qursi, Surah Al Ikhlas, Surah Yasin dan ayat-ayat yang bisa memberikan motivasi dalam hidup. Di luar itu, untuk pilihan ayat yang akan dijadikan objek kaligrafi biasanya disesuaikan dengan momen dan tempat. Seperti pemilihan potongan terakhir QS. Al Mujadalah [58]: 11 sebagai objek kaligrafi pada dinding-dinding dekorasi dalam acara haflah Imtihan (Arifin, Wawancara, 26/6/21).

Baca juga: Mengenal Hind Shalabi, Pakar Tafsir Sekaligus Aktivis Perempuan Asal Tunisia

Kewajiban, Pembuka Pintu Rezeki hingga Media Dakwah

Seorang kaligrafer Al-Quran sejatinya adalah implied reader (pembaca pada apa yang tersirat). Ia akan menenggelamkan diri ke dalam struktur artistik Al-Quran. Itulah mengapa kaligrafer selalu memaknai Al-Quran secara estetik. Ia membawa ikut serta hasil pemaknaan terhadap Al-Quran pada setiap pola dan model kaligrafi yang diciptakan (lihat Jannah, Resepsi Estetik terhadap Alquran pada Lukisan Kaligrafi Syaiful Adnan, h. 29).

Sebagai implied reader, para kaligrafer di Pesantren Congaban memiliki resepsi (pemaknaan) berbeda antara satu dan yang lainnya. Beberapa resepsi (pemaknaan) terhadap kehadiran Al-Quran di kalangan kaligrafer-kaligrafer Pesantren Congaban—yang bisa disebutkan di sini—adalah 1) sebagai suatu kewajiban, 2) pembuka pintu rezeki dan 3) sebagai media dakwah.

Pertama, sebagai sebuah kewajiban. Bagi seorang kaligrafer yang fanatik akan melihat dan meresepsi bahwa menjaga keindahan artistik Al-Quran bukan cuma sekadar hobi atau “pelarian” untuk mengisi waktu senggang. Lebih dari itu, bagi mereka, Al-Quran yang begitu indah haruslah tetap dijaga keindahannya. Wajar saja kalau mereka tulus mencurahkan segenap perhatian dalam setiap goresan. Seperti yang disampaikan oleh Ustaz Ahmad Faqot (Wawancara, 26/06/21):

“Dari tiga macam seni (audio, visual dan audiovisual) itu semua sudah ada dalam Al-Quran. Jadi tidak bisa dipungkiri lagi kalau Al-Quran itu adalah sebuah seni yang indah. Sebenarnya yang menunjukkan kalau Al-Quran itu kayak seni masih banyak. Karena itu, Al-Quran menurut saya adalah objek terindah dalam sebuah kaligrafi. Bahkan seni-seni lainnya. Bagi kami para kaligrafer, menjaga keindahan Al-Quran bukan cuma karena hobi atau ngisi waktu kosong, tapi lebih sebagai suatu kewajiban. Kalau bukan kami, siapa lagi yang akan menjaga keindahan visual Al-Quran?”

Kedua, sebagai pembuka pintu rejeki. Dari sisi kultural-normatif, kaligrafer-kaligrafer Pesantren Congaban tidak saja berangkat dari keindahan Al-Quran sebagai sebuah seni. Tetapi, mereka juga berpijak pada landasan-landasan kultural-normatif. Resepsi semacam ini misalnya dapat dilihat dari penuturan Gus Nasikh al-Haromain:

“Salah seorang penulis wahyu sekaligus Amirul Mukminin umat Islam, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berpesan; Hendaklah kalian bisa menulis dengan baik (khusn al-khat), karena menulis dengan baik merupakan salah satu sarana untuk membuka pintu rejeki.” (Nasikh, Wawancara, 26/06/21).

Baca juga: Tafsir Ahkam: Asal Usul Kewajiban Menguburkan Mayat dalam Islam

Di dunia kaligrafer, wejangan dari Sayyidina Ali sebagaimana dikutip Gus Nasikh di atas memang sudah sering didengar. Meskipun sumber dari pernyataan Sayyidina Ali ini masih simpang siur, tetapi banyak kaligrafer yang menjadikannya sebagai pegangan. Keberkahan Al-Quran diyakini dapat mengantarkan para kaligrafer untuk membuka pintu rezeki. Dengan kata lain, resepsi pertama ini nampak lebih bersifat pragmatis.

Ketiga, sebagai media dakwah. Ya’qub dalam bukunya Publisistik Islam: Teknik Dakwah dan Leadership membagi media dakwah menjadi lima; Lisan, Tulisan, Lukisan, Audio Visual dan Akhlak. Sebuah kekeliruan besar jika menganggap dakwah hanya terbatas pada ceramah dan pidato keagamaan saja. Kini, metode dakwah yang bisa menjadi pilihan dan sepertinya cukup menarik adalah dakwah bi al-qolam, yang salah satunya melalui seni kaligrafi.

“Dalam setiap kaligrafi Al-Quran yang dibuat, ada makna dan pesan mendalam yang hendak disampaikan oleh pembuatnya. Setiap ayat yang dipilih punya fungsi artistik untuk menyampaikan maksud secara simbolis. Bahasa sederhananya, kaligrafi-kaligrafi Al-Quran adalah wujud ekspresi dari pembacaan mendalam tentang apa yang dikandung oleh Al-Quran. Di sanalah pesan-pesan moral Al-Quran sedang kami perjuangkan.” Ungkap Ustaz Arifin (Wawancara, 26/06/21).

Tak berlebihan jika seumpama Ubaidillah bin al-Abbas menyebut kaligrafi sebagai lisan al-yadd (lidahnya tangan); karena dengan tulisan kaligrafi itulah tangan sedang berbicara. Jika orang-orang Pesantren Congaban pada umumnya berdakwah bi al-khutbah dan bi al-hal, maka tidak dengan para kaligrafer-kaligrafernya. Mereka lebih memilih menempuh jalan dakwah bi al-qolam melalui gemerincing pena dan arsiran kuas. Mungkin itulah cara mereka berkhidmah untuk agama ini.

Wallahu a’lam, Tabik []

Fawaidur Ramdhani
Fawaidur Ramdhani
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan Dosen Ma’had Ali UIN Sunan Ampel Surabaya. Minat pada kajian tafsir Al-Quran Nusantara, manuskrip keagamaan kuno Nusantara, dan kajian keislaman Nusantara
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Mufasir Indonesia

Mengulas Naskah Tempo 1984 “Fatwa Kecil dari Kudus”

0
"Fatwa Kecil dari Kudus" merupakan judul artikel dalam Majalah Tempo, 4 Agustus 1984. Majalah ini didapat dari arsip Perpustakaan Medayu, Surabaya. Artikel yang dimuat...