Beranda Tafsir Tematik Anjuran Membangunkan Keluarga ketika Menyambut Lailatulqadar

Anjuran Membangunkan Keluarga ketika Menyambut Lailatulqadar

Berita tentang keistimewaan sepuluh hari terakhir Ramadan datang dari Rasulullah saw. Dapat dikatakan juga bahwa kemuliaan hari-hari tersebut terjadi karena ada info dari Rasulullah tersebut. Jika lailatulqadar dikatakan sebagai malam yang penuh rahasia, maka Rasulullah saw. lah yang pertama kali membocorkan rahasia tersebut dengan menyebut sedikit ciri-cirinya, khususnya tentang waktunya, yakni di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Selain itu, berdasar pengamatan istri Rasulullah saw. yakni Aisyah di beberapa riwayat, di malam-malam terakhir Ramadan tersebut Rasulullah saw. melakukan aktifitas yang tidak biasa dia lakukan di hari-hari yang lain. Salah satunya adalah membangunkan keluarganya untuk beribadah, baik yang sudah dewasa maupun yang anak-anak. Ini juga menjadi salah satu tanda dari ‘ketidakbiasaan’ malam-malam tesrebut. Riwayat-riwayat tersebut juga disinggung oleh beberapa mufasir ketika menafsirkan surah Al-Baqarah ayat 187.

Baca Juga: Tips Mendapat Malam Lailatulqadar Ala M. Quraish Shihab

Membangunkan keluarga di sepuluh malam terakhir Ramadan

Imam Ibn Katsir dan al-Razi tatkala menguraikan tafsir surah Al-Baqarah ayat 187 tersebut mendokumentasikan beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadan. Diantaranya diriwayatkan dari Aisyah dan disahihkan oleh Bukhari Muslim:

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Nabi Muhammad saw. ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, maka beliau akan menyisingkan lengan bajunya, menghidupkan malamnya, serta membangunkan keluarganya (Tafsir Mafatihul Ghaib/2/17 dan Tafsir Ibn Katsir/8/451)

Ibn Baththal menyatakan, salah satu kesimpulan yang dapat kita ambil dari hadis tersebut adalah, hendaknya seseorang memberikan dorongan kepada keluarganya untuk melaksanakan amal baik serta ibadah sunah. Dan tidak terbatas pada ibadah wajib saja (Syarah Bukhari Libni Baththal/7/189).

Ibn Hajar al-Asqalani berkomentar tentang hadis di atas, khususnya tentang tujuan Nabi membangunkan keluarganya, yaitu agar mereka melaksanakan salat. Dalam rangka menguatkan pendapatnya, Ibn Hajar kemudian mengutip hadis yang diriwayatkan Imam al-Tirmidzi dari Zainab bin Ummi Salamah:

لَمْ يَكُنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَقِيَ مِنْ رَمَضَان عَشْرَة أَيَّام يَدَعُ أَحَدًا مِنْ أَهْله يُطِيق الْقِيَام إِلَّا أَقَامَهُ

Tatkala memasuki sepuluh hari bulan Ramadan, Nabi Muhammad selalu membangunkan semua keluarganya yang mampu melaksanakan salat malam, untuk salat malam (Fathul Bari/6/310).

Muhammad Hamid menjelaskan, redaksi “keluarga” sebenarnya merujuk pada sosok istri. Namun dalam hadis tersebut merujuk pada seluruh orang yang ada di dalam rumah. Kesimpulan ini dapat diperoleh dari hadis yang diriwayatkan al-Tahbrani dan Abu Ya’la dari Ali Ibn Abi Thalib:

“كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يوقظ أهله في العشر الأواخر في شهر رمضان وكل صغير وكبير يُطيق الصلاة”

Saat tiba di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, Rasulullah salallahualaihi wasallam membangunkan keluarganya dan tiap anak serta orang dewasa yang mampu menjalankan salat

Terkait hadis tersebut, Muhammad Hamid mengutip keterangan Imam al-Haitsami yang menilai sanad Abi Ya’la sebagai sanad yang bagus (hasan). Selain itu, hadis tersebut menjadi peringatan bagi para orang tua yang bersemangat pergi beribadah ke masjid untuk tidak mengabaikan keluarga mereka (yang di rumah) (Thalai’ as-Sulwan fi Thabai’ an-Niswan/146).

Baca Juga: Hikmah Dirahasiakan Waktu Lailatulqadar

Ibn Rajab dalam Lathaiful Ma’arif juga menyatakan kabar yang sama tentang kegiatan Nabi di akhir-akhir Ramadan. Berdasar riwayat tersebut, diketahui bahwa salah satu hal yang dikerjakan Nabi di sepuluh hari terakhir Ramadan adalah membangunkan keluarganya untuk salat malam. Ini adalah sesuatu yang tidak beliau lakukan di malam yang lain. Dalam riwayat lain yang disampaikan oleh Abi Dzar, Nabi malah hanya membangunkan keluarganya di malam ke-dua puluh tujuh saja. Ini sesuai dengan riwayat yang mengatakan bahwa lailatulqadar terjadi pada malam ke-dua puluh tujuh Ramadan.

Terlepas rutinitas khusus itu dilakukan di sepuluh hari terakhir Ramadan atau hanya pada tanggal dua puluh tujuh saja, keterangan ini menunjukkan bahwa membangunkan keluarga di akhir-akhir Ramadan sangat dianjurkan guna mempersiapkan penyambutan lailatulqadar.

Ibn Rajab juga menyinggung kebiasaan Imam Sufyan Al-Tsauri yang menyontoh kebiasaan khusus Nabi Muhammad saw. di atas. Menurut nukilannya, saat masuk sepuluh hari terakhir Ramadan, Imam Sufyan al-Tsauri gemar salat tahajud dan membangunkan keluarga (anak serta istrinya) untuk juga melaksanakan salat. (Lathaiful Ma’arif/207). Semoga kita semua bisa meneladan kebiasaan Rasulullah saw dan para shalihin. Wallahu a’lam.

Muhammad Nasif
Alumnus Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Tartib Nuzul: al-Tafsir al-Hadits karya Muhammad ‘Izzat Darwazah

Tafsir Tartib Nuzul: al-Tafsir al-Hadits karya Muhammad ‘Izzat Darwazah

0
Telah saya sebutkan di tulisan sebelumnya bahwa saya menemukan sekurangnya empat tafsir model Tartib Nuzul, yaitu Bayan al-Ma’ani karya Abdul Qadir Mulla Huwaisy, al-Tafsir...