BerandaKhazanah Al-QuranApakah Benar RA. Kartini yang Menjadi Latar Belakang Penulisan Kitab Tafsir Kiai...

Apakah Benar RA. Kartini yang Menjadi Latar Belakang Penulisan Kitab Tafsir Kiai Sholeh Darat?

Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani, terkenal dan akrab dengan nama Kiai Sholeh Darat, dilahirkan di desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada tahun 1820 M/ 1235 H. Dan wafat di semarang pada hari Jum’at Wage tanggal 28 Ramadhan 1321 H/ 18 Desember 1903 M, ketika usianya 83 tahun.

Beliau merupakan seorang ulama terkemuka pada peralihan abad XX, dan beliau merupakan gurunya para ulama Jawa yang terkemuka pada generasi berikutnya. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai penulis yang fokus pada kitab-kitab keagamaan dengan beraksara Arab dalam Bahasa Jawa (pegon).

Baca Juga: Mufasir-Mufasir Indonesia: Biografi Sholeh Darat As-Samarani

Sejak dini beliau telah dibekali oleh ayahnya dengan ilmu-ilmu dasar agama khususnya bacaan Alquran dan ilmu tajwid. Selain pendidikan dari internalnya yaitu dari keluarganya sendiri, Kiai Sholeh Darat muda tetap belajar dari satu guru ke guru lainnya, yaitu dari Jawa hingga sampai ke Makkah.

Beliau seorang yang tekun belajar serta disiplin pada ilmu, dengan semangat yang tinggi dan kecerdasan intelektualnya tidak heran jika beliau memiliki karya tulis yang tidak bisa dikatakan sedikit.

Beberapa karya tulis beliau yang sampai sekarang masih bisa dibaca dan dipelajari yaitu, kitab Majmu’ah al-Syari’ah al-Kafiyah lil ‘Awam, kitab Munjiyat Metik Sangking Ihya’ Ulumuddin, terjemah al-Hikam karya Ahmad bin ‘Athaillah, kitab Lathaif al-Thaharah wa Asrarus Solah, kitab Manasik al-Hajj, Fasolatan, kitab Sabilu ‘Abid terjemahan Jauhar al-Tauhid karya Ibrahim Laqqani, kitab Minhaj al-Atqiya’, kitab al-Mursyid al-Wajiz, kitab Hadist al-Mi’raj, Tafsir Faid ar-Rahman, dan kitab Syarah Maulid al-Burdah.

Salah satu kitab yang akan penulis analisa latar belakangnya, yaitu kitab Faid ar-Rahman fi Turjumani Tafsir al-Kalam al-Maliki ad-Dayyan, karya Kyai Sholeh Darat ini disinyalir mempengaruhi secara signifikan pola pemikiran salah satu pahlawan Indonesia, yaitu RA. Kartini.

Baca Juga: R.A Kartini Sosok Penggerak Lahirnya Kitab Tafsir Faid ar-Rahman Karya Kyai Soleh Darat

Konon katanya kitab ini ditulis atas permitaan Kartini ketika datang ke majlis Kiai Sholeh Darat, ia meminta penafsiran Alquran Kiai Sholeh Darat dapat ditulis menggunakan Bahasa Jawa yang ditulis menggunakan huruf Arab (pegon) agar mudah di mengerti oleh masyarakat Indonesia. Bahkan sebagian pendapat mengatakan bahwa ada beberapa halaman yang ditulis dan diberikan kepada Kartini sebagai hadiah pernikahan. Data ini diambil dari salah satu cucu Kiai Sholeh Darat yaitu Ibu Nyai Fadhila Sholeh.

Penulis melakukan cross check melalui tanggal kelahiran Kartini dengan tanggal pertama kali kitab faid ar-Rahman Kiai Sholeh Darat ditulis. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 M, sedangkan kitab faid ar-Rahman jilid 1 ditulis pada malam Kamis 20 Rajab 1309 H/ 19 Februari 1892 M.

Jika diambil kesimpulan melalui data tersebut ketika kitab Faid ar-Rahman ditulis Kartini masih berusia 13 tahun. Hal ini, cukup mengejutkan bagi penulis karena anak usia sekitar 10 tahun sudah paham, bahkan ingin tahu lebih jauh tentang ilmu Alquran, dan merengek meminta kepada Kiai besar untuk menulis kitab tafsir.

Pada muqoddimah kitab Faid ar-Rahman Kiai Sholeh Darat juga menjelaskan mengenai latar belakang penulisan kitab ini yang berbunyi Mekaten nyuwun marang Syaikhana mu’allif iki tafsir setengahe ikhwan kita fiddin kang supoyo iki tafsir kasebaro luwih disik senadyan mung sak surat, sebab kerono yakine hajate ba’dlul ikhwan mahu lan liyan-liyane hajat ngaweruhi iki tafsir.

Baca Juga: Womens Day: Raden Ajeng Kartini dan Peradaban Penafsiran Al-Quran di Indonesia

Dari muqaddimah ini penulis menyimpulkan bahwa Kiai Sholeh Darat menulis kitab ini karena adanya permintaan dari teman-temannya, dan ditegaskan kembali dalam kalimat ikhwan kito fiddin yang maknanya teman yang seagama. Namun, sangat disayangkan Kiai Sholeh Darat tidak menyebutkan siapa beliau, bisa jadi memang itu Kartini muda atau orang lain.

Menurut Ibu Fadhila Sholeh ketika Kartini datang dalam majlis Kiai Sholeh Darat yang sedang memberikan ceramah tentang tafsir surah al-Fatihah, setelah pengajian Kartini mendesak ke pamannya yaitu Bupati Demak untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Dan disitu dijelaskan pamannya tidak bisa mengelak karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil.

Dari data ini bisa disimpulkan, bisa jadi memang benar Kartini usia 13 tahun meminta Kiai Sholeh Darat menuliskan kitab Faid ar-Rahman, walaupun usia Kartini masih sekitar 10 tahun. Tapi, hal ini juga bisa dikatakan tidak benar jika menggunakan penalaran logika, seperti hal yang tidak mungkin jika seseorang usia sekitar 10 tahun merengek meminta dituliskan kitab tafsir Alquran.

Wallahu a’lam

- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...