Beranda Tafsir Al Quran Menelusuri Jejak Tafsir 'Faidl al-Rahman' Kiai Sholeh Darat

Menelusuri Jejak Tafsir ‘Faidl al-Rahman’ Kiai Sholeh Darat

Dari beberapa tulisan yang membahas tentang Kiai Sholeh Darat, penulis belum mendapati tulisan yang secara khusus membicarakan Faid al-Rahman sebagai sebuah objek kajian. Kebanyakan tulisan yang ada cenderung menyorot pemikiran sufistik Kiai Sholeh. Kalau pun ada tulisan yang membicarakan Faidl al-Rahman, umumnya hanya pada aspek permukaan saja, tidak sampai pada tahap kritis.

Di antara tulisan yang menyorot pemikiran Kiai Sholeh seperti trilogi milik Nur Ahmad berjudul Penulis Satu-Satunya Tafsir Isyari Nusantara: Kiai Sholeh Darat Semarang, Konsep Awal Tafsir ‘Isyari’ Kiai Sholeh Darat, dan Konsep Awal Tafsir Isyari Kiai Sholeh Darat (Bag. 2). Sedangkan tulisan yang menyinggung karya Faidl al-Rahman di dalamnya seperti Mufasir-Mufasir Indonesia: Biografi Sholeh Darat As-Samarani karya Muhammad Rafi dan Jihad Nir-Kekerasan Ala Kiai Sholeh Darat karya penulis sendiri.

Signifikansi kajian kritis terhadap Faidl al-Rahman terletak pada mengetahui validitas isi tafsir yang hingga hari ini, boleh dibilang, belum menemui kejelasan. Hal ini, menurut pandangan awal penulis, disebabkan adanya kerancuan dalam rujukan yang digunakan sekaligus kesalahan pemahaman pada aktivitas perujukan yang dilakukan.

Sebagaimana disebutkan oleh Rafi dan Fais sebelumnya, Faidl al-Rahman berisi penafsiran 13 juz dari Alquran. Padahal naskah-naskah yang dijumpai saat ini belum ada satu pun yang menunjukkan demikian. Naskah yang dijumpai berjudul Faidl al-Rahman karya Kiai Sholeh hanya berisi penafsiran surah Al-Fatihah sampai surah An-Nisa’ (juz 6).

Penelusuran penulis terhadap beberapa literatur mendapati bahwa artikel yang menjadi rujukan utama dalam masalah ini adalah artikel ‘lama’ tahun 2012 yang ditulis oleh M. Masrur berjudul Kyai Soleh Darat, Tafsir Fa’id al-Rahman dan RA. Kartini. Artikel ini lah yang agaknya menjadi penyebab rancunya validitas isi Faidl al-Rahman.

Dalam artikel tersebut, Masrur menyebut setidaknya dua tafsir yang menjadi karya Kiai Sholeh. Pertama, Faidl al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik al-Dayyan yang terdiri dari dua juz: juz pertama berisi surah Al-Fatihah dan surah Al-Baqarah, dan juz kedua berisi surah Ali Imran dan surah An-Nisa’. Kedua, terjemahan Alquran yang dihadiahkan kepada RA. Kartini yang berisi 13 juz dari Alquran, yang oleh Masrur disebut sebagai Faizhur Rohman fi Tafsiril Quran.

Kemiripan nama yang diberikan ini lah yang kemudian menyebabkan kerancuan dalam memahami ‘hakikat’ Faidl al-Rahman. Teks tafsir pertama yang disebutkan Masrur adalah teks yang naskahnya masih dapat ditemukan saat ini. Sedangkan teks yang kedua, penulis belum dapat menjumpai data pendukung yang menyebutkan informasi tersebut. Masrur pun tidak menyebutkan sumber yang ia kutip kecuali tulisan berjudul spirit kartini.. untuk direnungkan, yang menurut penulis ‘kurang meyakinkan’ sebagai rujukan ilmiah.

Naskah-naskah yang saat ini banyak direproduksi ulang oleh Komunitas Pecinta Kiai Sholeh Darat (Kopisoda) Semarang melalui teknik photocopy yang juga tersedia dalam versi digital, hanya mencakup pada teks pertama yang disebutkan oleh Masrur, yakni Faidl al-Rahman. Kalau pun ada naskah lain, itu adalah naskah yang berisi teks Hidayah al-Rahman, bukan Faizhur Rohman fi Tafsiril Quran.

Alasan penulis mengangkat topik ini adalah adanya temuan naskah Faidl al-Rahman pada penelitian digitalisasi yang penulis ikuti bersama Pak Anasom, salah seorang peneliti senior bidang naskah dan Walisongo dari UIN Walisongo Semarang. Naskah tersebut cenderung mendukung keberadaan teks pertama yang disebutkan oleh Masrur, Faidl al-Rahman, bukan teks kedua, Faizhur Rohman.

Saat ini, naskah Faidl al-Rahman tersebut tersimpan di Museum Masjid Agung Demak. Catatan di dalamnya menunjukkan bahwa naskah tersebut berasal dari Drs. H Masruhin asal Pilang Wetan, Dempet (sekarang Kebonagung), Kabupaten Demak, dan diserahkan kepada pihak museum pada tanggal 6 Maret 1996.

Melihat fisiknya, ada kemungkinan bahwa naskah tersebut merupakan cetakan asli litograf dari percetakan. Tertulis pada bagian kolofonnya, (percetakan) Haji Muhammad Amin Singapura. Pada bagian lain juga tertulis al-thab‘ah al-ula 1312 (H.) atau cetakan pertama 1312 (H.). Naskah tersebut memiliki dimensi 29,5 cm x 21 cm dengan tebal 5 cm serta memiliki ukuran bidang teks sebesar 25,5 cm x 15 cm.

Berdasar pada data-data yang telah penulis kemukakan, agaknya klaim yang menyebutkan bahwa Faidl al-Rahman berisi penafsiran 13 juz perlu dikaji kembali. Mengacu sejarah yang menyebutkan pemberian terjemah tersebut kepada RA. Kartini, agaknya arsip-arsip Raden Ajeng perlu dilibatkan dalam penelusuran. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Nor Lutfi Fais
Santri TBS yang juga alumnus Pondok MUS Sarang dan UIN Walisongo Semarang. Tertarik pada kajian rasm dan manuskrip kuno.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Khaleel Ur Rahman Chishti: Pegiat Nidzam al-Qur’an Era Modern

0
Nidzam al-Qur’an adalah kajian dalam penafsiran Alquran yang memfokuskan pada aspek koherensi susunan atau struktur surah. Kajian nidzam al-Qur’an atau kestrukturan dalam Alquran ini...