Beranda Khazanah Al-Quran Asmaulhusna dan Keutamaan bagi yang Menghafalnya

Asmaulhusna dan Keutamaan bagi yang Menghafalnya

Umar Faruq dalam bukunya Khasiat & Fadhilah 99 Asmaul Husna: Nama-nama Indah Allah Swt (hal. 7), menyebut bahwa Asmaulhusna adalah nama-nama terbaik yang dimiliki oleh Allah Swt sebagai cerminan dari sifat-sifat-Nya. Indikator baiknya nama-nama tersebut dapat dilihat dari frasa Asmaulhusna itu sendiri. Kata husna merupakan bentuk muannats dari kata ahsan yang berarti “terbaik”.

Menurut Quraish Shihab dalam bukunya al-Asma al-Husna: Mengenal Nama Nama Allah, kata husna yang bermakna terbaik (superlatif) tersebut menunjukkan bahwa nama-nama yang dimiliki Allah Swt. tidak hanya sampai pada taraf “baik” saja, tetapi yang “terbaik” jika dibandingkan dengan nama-nama baik lainnya.

Asmaulhusna dalam Alquran

Salah satu ayat di dalam Alquran yang menjelaskan tentang Asmaulhusna adalah Surah Al Araf [7]: 180 yang berbunyi sebagai berikut:

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ

Dan Allah memiliki Asma’ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al Araf [7]: 180)

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (hal. 380-381) ayat ini turun berkaitan dengan sifat kaum musyrik yang menyekutukan Allah Swt. Dosa menyekutukan Allah Swt. merupakan pertanda batalnya pengakuan akan sifat yang paling khusus bagi Allah Swt. Sehingga dengan adanya ayat ini orang-orang beriman diseru kembali untuk selalu meng-Esa kan-Nya dengan menyebut Allah Swt. melalui nama-nama-Nya.

Penyebutan di sini bisa berarti dengan memohon doa melalui salah satu dari Asmaulhusna tersebut dengan harapan mendapat petunjuk dari Allah Swt. Perintah untuk meninggalkan kaum musyrik di akhir ayat ini menunjukkan betapa kejinya perbuatan mereka yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-Nya atau menyematkan sesuatu yang tidak layak bagi Zat Allah Swt. Yang Maha Agung.

Baca Juga: Pandangan Gus Baha tentang Hadis Larangan Memelihara Anjing

Lafaz “yulhiduna” dalam ayat ini menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar (hal. 609) diambil dari lafaz “lahad” yang bermakna tempat untuk menguburkan orang mati. Biasanya di dalam kubur dibuatkan tempat yang terletak di sudut untuk membaringkan mayat. Sehingga makna “yulhiduna” dalam ayat ini dapat diartikan dengan orang yang menyudut (membuat lubang lain). Membuat lubang lain di sini diartikan oleh beliau dengan membuat pengertian lain menjadi dua macam. Pertama, kaum musyrik memberi sifat kepada Allah Swt. dengan bukan sifat-Nya dan yang kedua memberi sifat Allah Swt. dengan sifat yang tidak layak bagi-Nya.

Mengenai jumlah dari Asmaulhusna tersebut terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menurut Ibnu Hazm dalam kitab Al Muhalla menyebut bahwa jumlah Asmaulhusna adalah 99. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Adapun dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa nama-nama Allah Swt tidak memiliki batas jumlah. Pendapat yang berbeda juga disampaikan oleh Ath-Thabathabai dalam tafsirnya Al Mizan yang menyatakan bahwa Allah Swt  memiliki 127 nama. Dalam kitab Syareh Al-Asma Al-Husna karangan Barjam Al-Andalusi menyebut bahwa jumlah asmaul husna adalah 132 nama. Namun pendapat yang populer adalah pendapat yang menyatakan bahwa jumlah Asmaulhusna adalah 99.

Keutamaan Asmaulhusna

Pendapat yang menyatakan bahwa jumlah Asmaulhusna ada 99 didasarkan pada sebuah hadis yang di dalamnya juga terdapat keterangan tentang pahala surga bagi siapa yang mampu mengahafalnya. Berikut narasi dari hadis tersebut yang dikutip dari kitab Shahihain dari sahabar Abu Hurairah:

أنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمَا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَ فِي لَفْظٍ: مَنْ حَفِظَهَادَخَلَ الْجَنَّةَ

“Bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Siapa yang menjaganya maka dia akan masuk surga. Dalam lafaz lain: siapa yang menghafalnya maka ia akan masuk surga.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada yang cacat mengenai hadis ini. Bahkan Ibnu Hajar Al Asqalani pun memuat hadis ini dalam kitab beliau, Bulughul Marom. Hadis ini kemudian sangat populer di kalangan masyarakat. Tidak hanya itu, hadis ini juga dijadikan motivasi oleh para guru di sekolah-sekolah agar mendorong muridnya untuk menghafalkan 99 Asmaulhusna. Berkat surga yang dijanjikan bagi siapa yang mampu menghafalnya, maka hal ini memberi dorongan tersendiri agar orang-orang bersemangat untuk menghafalkannya, bahkan beserta artinya.

Usaha untuk menghafal ini memang tidak keliru, terlebih lagi yang dihafal adalah nama-nama Allah Swt. dan ditujukan kepada para siswa yang sedang menuntut ilmu. Bahkan Nabi Muhammad Saw. sendiri pun merupakan sosok manusia yang sangat pandai dalam menghafal. Namun yang menjadi permasalahan adalah ketika hadis ini hanya difahami secara tekstual. Bahkan di buku Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas X (hal. 101) yang disusun oleh H. Aminuddin dan Harjan Syuhda hadis ini tidak dilengkapi dengan penjelasan lebih lanjut. Makna أَحْصَاهَا  atau حَفِظَهَا  dalam hadis tersebut hanya difahami hafal secara verbal. Yang dikhawatirkan adalah ketika umat Islam meninggalkan kewajiban yang lain dan hanya mengandalkan hafalan Asmaulhusna dengan niat akan meraih surga.

Jika difahami lebih lanjut tentu makna أَحْصَاهَا  atau حَفِظَهَا  sangat luas. Menurut Imam Nawawi dalam Syarah An Nawawi ‘Ala Muslim (juz IX/hal. 39) makna أَحْصَاهَا tidak hanya menghafal, tetapi juga beriman terhadapnya dan melaksanakan konsekuensi dari nama-nama tersebut serta beramal dengan isi kandungannya.

Baca Juga: Hukuman Bagi Pelaku Pemerkosaan dalam Islam

Komaruddin Hidayat dalam bukunya Psikologi Ibadah (hal. 46-49) menyatakan bahwa makna حَفِظَهَا  dalam hadis tersebut adalah “memelihara”. Artinya, orang yang mampu menghafal 99 Asmaulhusna akan berusaha memelihara dirinya untuk meneladani sifat-sifat agung yang dimiliki oleh Allah Swt. Orang yang hafal bahwa sifat Allah Swt. al-Bashir yang bermakna Allah Maha Melihat akan menjaga dirinya dari segala perbuatan maksiat. Sebab ia yakin dan faham bahwa makna dari al-Bashir tersebut merupakan sifat pengawasan Allah Swt. terhadap apa saja yang diperbuat hamba-Nya.

Begitu juga nama-nama lainnya, ketika ia mampu menghafal nama tersebut berserta artinya dan faham tentang nama itu maka segala sifat baik yang ada pada Asmaulhusna dapat terpancar dalam dirinya. Sehingga wajar jika seseorang mampu memelihara dirinya terlebih lagi dengan cerminan 99 Asmaulhusna tersebut akan mengantarkan ia kepada surga-Nya Allah Swt.

Tulisan ini bukan berarti meremehkan usaha menghafal, namun lebih ditujukan bagaimana hafalan secara verbal tersebut dapat diimplementasikan dan terpancar melalui amal baik yang dilakukan. Semoga tulisan ini memberi kita semangat untuk selalu meneladani sifat-sifat Allah Swt. Wallahu a’lam.

Ahmad Riyadh Maulidi
Mahasiswa S2 UIN Antasari Banjarmasin
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Kiat-kiat pencegahan kemiskinan dalam Al-Quran

Al-Quran dan Upaya Pengentasan Kemiskinan

0
Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk memperhatikan segala aspek sosial kepada saudara Muslim lainya atau manusia pada umumnya. Salah satu yang ditekankan oleh Islam dalam...