Beranda Kisah Al Quran Belajar Ontologi Filsafat dari Kisah Nabi Ibrahim

Belajar Ontologi Filsafat dari Kisah Nabi Ibrahim

Ontologi filsafat merupakan satu dari tiga bagian cabang filsafat yang mengulas tentang hakikat yang ada. Islam mengistilahkan ontologi dengan al-wujud (tidak hanya tampak secara kasat mata). Nabi Ibrahim pernah menggunakan al-wujud tatkala memperingatkan, membantah dan mementahkan keyakinan ayah dan kaumnya kala itu. Bahwa apakah pantas menjadikan berhala sebagai tuhan? Atau bintang, dan segala benda yang muncul dan tenggelam bisa dianggap sebagai tuhan?

Melalui pertanyaan ini, Nabi Ibrahim ingin menyampaikan pesan tersirat bahwa pentingnya memahami sesuatu dengan menggunakan al-wujud. Bukan ontologi yang didefinisikan oleh Barat yang hanya berpatok pada sesuatu yang terlihat atau tampak secara kasat mata. Kisah Nabi Ibrahim ini diabadikan oleh Allah swt dalam firman-Nya Q.S. al-An’am [6]: 74,

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَبِيْهِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصْنَامًا اٰلِهَةً ۚاِنِّيْٓ اَرٰىكَ وَقَوْمَكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar, ”Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata” (Q.S. al-An’am [6]: 74)

Tafsir Surah al-An’am Ayat 74

Ayat ini dan ayat berikutnya pada bahasan selanjutnya menguraikan sekelumit pengalaman Nabi Ibrahim a.s “menemukan” Allah swt. Serta bantahan beliau terhadap tesis bahwa Tuhan ya berhala itu. Kaum musyrikin yang selalu mempertuhankan bintang-bintang, membuat dan mengada-ada bahwa setiap bintang yang mereka puja dapat menolongnya.

Al-Dhahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya nama ayah Nabi Ibrahim bukanlah Azar, melainkan Tarikh (Terakh). Sedangkan ibunya bernama Syani. Istri Nabi Ibrahim adalah Sarah dan Siti Hajar, budak Nabi Ibrahim. Dalam riwayat yang lain Mujahid dan al-Saddi mengatakan bahwa Azar adalah nama berhala. Berdasarkan pendapat ini, dia (ayah Nabi Ibrahim) dikenal dengan Azar sebab dialah yang menjadi pelayan dan pengurus berhala-berhala itu. Baca juga: Parenting Demokratis ala Nabi Ibrahim dalam Surat As-Saffat Ayat 102

Pertanyaan berikutnya yang muncul dalam redaksi ayat tersebut adalah atattakhidzu ashnaman alihatan (pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan?). Ibnu Katsir menafsirkannya dengan Hai ayahku, pantaskah kamu menjadikan Azar sebagai berhala yang disembah. Secara kaidah kebahasaan (lughawy) hal ini jauh dari kebenaran, sebab lafal yang jatuh sesudah istifham (pertanyaan) tidak dapat beramal terhadap lafaz sebelumnya, mengingat huruf istifham berkedudukan di awal kalimat.

Wahbah al-Zuhaily dalam Tafsir al-Munir menyampaikan penafsiran falsasfi bahwa melalui ayat ini kita diingatkan bahwa pantaskah kita menjadikan berhala sebagai tuhan? Di mana berhala itu kita buat sendiri, memahat dengan tangan kita berbahan dasar batu, kayu, logam dan pohon.

Apabila kita menuhankan berhala-berhala tersebut sedangkan kita dianugrahi akal untuk berfikir, apakah tuhan itu diam, apakah tuhan itu berwujud patung?. Tentu tidak, jika kita sebagai manusia sadar bahwa dianugerahi akal oleh Allah swt. Maka, Nabi Ibrahim kala itu mengatakan kepada orang tuanya bahwa dia beserta kelompoknya berada dalam kesesatan yang nyata (fi dhalalin mubin).

Lalu, Ibnu Katsir menguraikan maksud kesesatan yang nyata, yaitu mereka tersesat dan tidak mendapat petunjuk dari-Nya sehingga berjalan dalam keadaan gamang dan penuh kebingungan. Hal ini jelas bagi orang yang berakal waras. Karena menurut orang waras sebagaiamana dijelaskan dalam Tafsir al-Maraghi mana mungkin berhala lebih mulia dan tinggi kedudukannya ketimbang manusia.

Sedangkan Quraish Shibab dalam Tafsir al-Misbah lebih menekankan pada aspek penuturan dakwah Nabi Ibrahim kepada orang tuanya. Redaksi inni araka wa qaumaka, bukan redaksi makian. Nabi Ibrahim memperingatkan dengan bernada tegas bahwa apa yang dilakukan ayahnya atau pamannya adalah bentuk kesesatan yang nyata. Ini sangat wajar, dan dibenarkan. Baca juga: Kepada Semua yang Ingin Mempelajari Al Quran

Quraish Shihab mengatakan “Ia tidak sependapat dengan mereka yang memahami kata Azar sebagai makian, karena hal ini bertentangan dengan sifat ajaran Islam yang selalu mengajak berdakwah dengan hikmah dan peringatan yang menyentuh serta diskusi yang sebaik-baiknya. Bahwa kalimatnya tegas adalah wajar dan dibenarkan karena ini adalah masalah akidah yang menyangkut persoalan prinsip.”

Sedangkan kalimat: Menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan mengandung kecaman serta penolakan mempertuhan berhala. Sekaligus penolakan terhadap politeisme (syirik).

Belajar Ontologi FIlsafat dari Nabi Ibrahim

Ayat di atas mengandung ontologi filsafat yang mendalam, berisi bantahan yang menukik tajam atas kemapanan kepercayaan lama (old paradigm) bahwa Tuhan ya berhala itu. Kepercayaan-kepercayaan semacam itu yang terklasifikasi dalam animisme dan dinamisme, dibantah.

Selain itu, dimentahkan oleh istifham (pertanyaan) ontologi filsafat Nabi Ibrahim kepada ayahnya melalui redaksi atattakhidzu ashnaman alihatan. Inni araka wa qaumaka fi dhalalin mubin (pantaskah berhala itu engkau jadikan Tuhan. Sungguh aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata).

Redaksi tersebut mengandung aspek ontologi filsafat yang sangat mendalam. Kita tahu bahwa ontologi filsafat dalam Islam diistilahkan dengan al-wujud. Istilah al-wujud mempunyai konsekuensi terhadap pemahaman dan penerapan cara berfikir manusia.

Jika Barat memaknai ontologi adalah hanya yang sekadar tampak terlihat secara kasat mata. Maka tak ayal mereka mengatakan kehidupan itu berasal dari air, udara, angin, dan sebagainya. Sedangkan Islam memahami hakikat yang ada sebagai al-wujud. Ia tidak hanya sekadar terlihat secara kasat mata, lebih dari itu mempunyai aspek yang metafisis (yang tak kasat mata).

Hal-hal semacam ini yang menyebabkan pemahaman umat Islam mampu menangkap pesan-pesan Alquran baik secara tersurat (qauliyyah) maupun tersirat (kauniyyah).

Karenanya, untuk memahami sesuatu kita tidak boleh melihat dari satu aspek atau menggunakan kacamata kuda. Melainkan komprehensif (secara menyeluruh) sehingga tidak terjebak pada kesesatan berpikir dan pada akhirnya kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ulul albab (orang-orang berakal). Wallahu A’lam.

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

0
Pemahaman Alquran berawal dari susunan kalimat yang ditampilkannya. Alquran berbahasa Arab, di dalamnya memuat rangkaian fungsi kalimat dengan ragam bentuk kalimat. Setiap fungsi kalimat...