Beranda Ulumul Quran Benarkah Nabi Muhammad Mengidap Epilepsi Ketika Menerima Wahyu?

Benarkah Nabi Muhammad Mengidap Epilepsi Ketika Menerima Wahyu?

Mengapa sampai ada pertanyaan, benarkah Nabi Muhammad saw mengidap epilepsi? Ketika terjadi proses turunya wahyu, Nabi seringkali mengalami gejala-gejala fisik yang tidak biasa, dimana hal tersebut tidak pernah dialami Nabi selain ketika proses penerimaan wahyu. Kondisi tersebut banyak diceritakan dan diriwayatkan dalam beberapa Hadis Nabi. Salah satunya disebutkan dalam Shahih al-Bukhari nomor 2 dalam bab permulaan turunya wahyu (bad’ al-wahy).

“Dari ‘Aisyah Ummul Mu’minin ra., sesungguhnya Harits bin Hisyam pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: Bagaimanakah caranya wahyu turun kepada anda? Jawab Rasulullah: Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku (kedengaran) seperti bunyi lonceng. Itulah yang sangat berat bagiku. Setelah bunyi itu berhenti, lantas aku mengerti apa yang dikatakanya. Kadang-kadang malaikat menjelma menyerupai seorang laki-laki yang datang kepadaku. Dia berbicara kepadaku dan aku mengerti apa yang dibicarakanya. ‘Aisyah berkata: aku pernah melihat Nabi, ketika wahyu turun kepada beliau pada suatu hari yang amat dingin. Setelah wahyu itu berhenti turun, kelihatan dahi Nabi bersimbah peluh (keringat).”

Setidaknya terdapat lima kondisi yang dialami Nabi ketika menerima wahyu.

Pertama, keringat Nabi bercucuran, walaupun pada kondisi dingin.

Kedua, Nabi menutup kepalanya, kulit bersemu merah, mendengkur seperti tertidur.

Ketiga, wajah Nabi menjadi pucat.

Keempat, turunya wahyu menyebabkan Nabi sempoyongan, tetapi tidak sampai menghilangkan kesadaran beliau.

Kelima, Nabi merasa dibebani beban yang sangat berat.

Baca juga: Kekhasan Al-Quran Sebagai Mukjizat Bagi Nabi Muhammad Saw

Terhadap kondisi yang terakhir ini, diceritakan pernah suatu ketika paha Zaid bin Tsabit tertindih oleh paha Nabi. Ketika terjadi proses turunya wahyu, Zaid merasa beban berat yang menimpa Nabi seakan-seakan membuat pahanya hampir patah. Begitu juga ketika Nabi mengendarai unta, beban wahyu tersebut menyebabkan unta tidak kuat menahan tubuh Nabi, sehingga menyebabakn Nabi harus turun dari punggung unta tersebut.

Berbagai kondisi yang dialami Nabi inilah yang kemudian dijadikan landasan oleh orientalis Barat untuk menuduh bahwa Nabi mengidap epilepsi. Dalam literatur sejarah, orang yang pertama kali menuduh Nabi epilepsi adalah seorang sejarawan Byzantium yang bernama Theopanes. Tuduhan tersebut terus berkembang luas dalam kajian Barat dan disebarluaskan oleh para orientalis Barat, seperti Prideaux, Gustav Weil, Sir William Muir, dan banyak tokoh lainya.

Definisi Epilepsi

Kata “epilepsi” berasal dari bahasa Yunani yaitu Epilambanmein, yang bermakna serangan. Secara umum, epilepsi berarti penyakit saraf yang ditandai dengan kejang dan dapat disertai dengan hilangnya kesadaran.

Penyakit epilepsi telah dikenal sejak 2000 tahun sebelum masehi. Dahulunya, epilepsi dianggap sebagai penyakit yang berkaitan erat dengan mistis. Orang pertama yang mengidentifikasi epilepsi sebagai penyakit yang disebabkan adanya gangguan otak adalah Hipokrates.

Baca  juga: Inilah Alasan Mengapa Umat Islam Harus Mengenal Rasulullah SAW

Epilepsi adalah salah satu kondisi neurologis paling umum, dengan kejadian 50 kasus baru per tahun dalam setiap 100.000 populasi manusia. Penyakit epilepsi dapat menyerang semua umur. Akan tetapi, 75% penderita epilepsi dimulai sejak anak-anak.

Menurut ILAE (International League Against Epilepsy), epilepsi adalah penyakit otak yang ditandai oleh tiga hal, yaitu (1) terjadi dua kejang spontan dengan jarak lebih 24 jam, (2) kejang yang disertai persentase kemungkinan berulangnya minimal 60% dalam 10 tahun berikutnya, dan (3) bila bangkitan kejang tersebut merupakan sindrom epilepsi.

Dalam surat keputusan Menkes RI tahun 2017, kejang epilepsi dapat menyebabkan disorganisasi paroksimal pada satu atau beberapa fungsi otak yang dapat menyerang fungsi motorik, sensorik, dan psikis penderita. Tidak hanya itu, epilepsi juga mengakibatkan hilangnya kesadaran, ketegangan otot, dan berkurangnya kemampuan bicara.

Respons Cendekiawan Muslim 

Seorang ahli Neurologi asal Pakistan, yaitu Hasan Aziz, ia menulis artikel jurnal ilmiah yang berjudul Did Prophet Mohammad (PBUH) Have Epilepsy? A Neurological Analysis. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa apa yang dianggap oleh para orientalis dan sejarawan Barat sebagai epilepsi (secara sadar atau karena kurangnya pemahaman) sebenarnya hanyalah sebatas tanda ketidaknyamanan Nabi selama proses penerimaan wahyu.

Untuk membuktikan ucapannya, Hasan Aziz melakukan diagnosis neurologis terhadap 10 kejadian turunya wahyu yang dijadikan dasar oleh orientalis barat sebagai tanda epilepsi. Ia menyimpulkan bahwa semua kejadian tersebut tidak memiliki gejala neurologis yang bisa dikategorikan sebagai epilepsi.

Penyakit epilepsi umumnya terjadi secara tiba-tiba, tanpa adanya keinginan sendiri dan disertai hilangnya kesadaran. Tetapi faktanya, Nabi justru seringkali melakukan komunikasi dua arah dengan Malaikat Jibril. Ini menunjukkan bahwa ketika wahyu turun, Nabi masih berada dalam kesadaran yang optimal.

Baca juga: Pengumpulan Al-Quran dan Kisah Diskusi Alot Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit

Secara umum, sebagian besar penderita epilepsi akan mengalami kebingungan dan amnesia. Namun, fakta historis menunjukkan bahwa Nabi sama sekali tidak pernah hilang ingatan dan justru hafal setiap wahyu yang turun, yang berjumlah 6.236 ayat tersebut. Terakhir, poin terpentingnya adalah Nabi tidak pernah mengalami kejang secara berulang, sebagaimana yang menjadi ciri utama dari penderita epilepsi.

Dalam buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an karya Taufik Adnan Amal, klaim tersebut mendapat tanggapan keras dari sarjana muslim asal Pakistan, yaitu Fazlur Rahman. Menurutnya, terdapat tiga poin penting yang menjadi alasan bahwa Nabi tidak mengidap penyakit epilepsy.

Pertama, kondisi tersebut hanya terjadi ketika masa kenabian. Hal ini dikarenakan ketika sebelum masa kenabian, Nabi sama sekali tidak pernah mengalami kondisi tersebut.

Kedua, kondisi tersebut hanya terjadi bersamaan dengan proses penerimaan wahyu dan tidak pernah terjadi secara terpisah.

Ketiga, hampir mustahil dipercaya bahwa penyakit epilepsi ini tidak mampu diidentifikasi oleh masyarakat yang berpengalaman seperti penduduk Makkah atau Madinah saat itu.

Kritik Sarjana Barat terhadap Pendahulu Mereka

Tidak hanya dari kalangan Islam, para sarjana Barat modern juga banyak yang mengkritik dan menolak terhadap tuduhan pendahulu mereka. Edward Gibbon misalnya, sejarawan Inggris tersebut menganggap bahwa tuduhan bahwa Nabi mengidap epilepsi hanyalah fitnah yang absurd.

Kemudian, William Montgomery Watt juga menambahkan bahwa apabila Nabi mengidap epilepsi, maka Nabi seharusnya akan mengalami penurunan fisik dan gangguan mental. Tetapi faktanya, kondisi fisik dan mental Nabi tidak berkurang sedikit pun.

Terakhir, Watt juga mengajak kepada mereka agar menjauhi konsepsi-konsepsi buruk tersebut. Ia juga meganjurkan kepada rekan akademisinya agar memandang Nabi Muhammad sebagai pribadi yang tulus serta jujur dalam mengemukakan pesan-pesan ilahi. Wallahu a’lam[]

Moch Rafly Try Ramadhani
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Manuskrip Sana'a

Jalan Panjang Penelitian Manuskrip Sana’a (Bagian 2)

0
Kali ini penulis hendak meringkas alur penelitian manuskrip Sana’a sejak dekade 1980-an dan perkembangannya hingga hari ini. Pada awal penemuannya di tahun 1972, penelitian...