Beranda Ulumul Quran Bincang Tafsir Populer dalam Kajian Fadhli Lukman

Bincang Tafsir Populer dalam Kajian Fadhli Lukman

Berbicara terkait perkembangan tafsir al-Qur’an merupakan suatu rangkaian proses panjang dan saling berkelindan. Awalnya penafsiran al-Qur’an merupakan aktivitas eklusif yang hanya dilakukan oleh orang yang ahli dalam bidang keilmuan al-Qur’an dan Tafsir. Proses penyampaiannya pun masih secara lisan ke lisan, lisan beralih ke cetak, hingga berlanjut dari cetak ke digital. Produk dari penafsiran merupakan sebuah kitab ekslusif yang hanya dinikmati oleh para intelektual serta berbentuk jilidan yang mahal. Begitu pula proses pembelajaran tafsir atau yang dikenal dengan sebutan Madrasah Tafsir pun mengalami progress yang signifikan, dimulai dari Era Rasul-Sahabat, Era Sahabat-Tabi’in, dan Era pre-digital era lanjutan. Namun, hari ini tafsir tampil dan dapat dinikmati melalui televisi, dapat didengarkan melalui radio, hingga dapat diakses secara bebas oleh siapapun melalui internet.

Deskripsi Singkat Tafsir Populer

Persinggungan antara tafsir al-Qur’an dengan media sosial adalah fenomena hangat hari ini yang menarik untuk terus dikaji. Menurut Johanna Pink, aktivitas penafsiran demikian disebut tafsir populer. Karakteristik dari tafsir ini adalah memberikan kesan langsung kepada pembaca luas, lebih dekat dengan bentuk ceramah disertai penjelasan detail tentang makna ayat tertentu. Selain itu, tafsir populer dikategorikan sebagai tafsir Pendidikan, sebab dalam tafsir media sosial cenderung mengarahkan pada Pendidikan agama bagi para pembacanya. (Johanna Pink, “Tradition, Authority, and Innovation in Contemporary Sunnī tafsiīr: Towards a Typology of Qur’an Commentaries from the Arab World, Indonesia and Turkey,” Journal of Qur’anic Studies, vol. 12, no. 1-2, tahun 2010). Menurut Fadhli, Tafsir populer menjadi bagian dari wujud tafsir modern. Hal ni ditandai adanya aktivitas penafsiran yang dapat dilihat dari keterlibatan antara teks al-Qur’an dengan konteks realitas modern. (“Digital Hermeneutics and New Face of The Qur’an Commentary,”  al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies, volume 56, no.1, tahun 2018).

Baca Juga: Mengenal al-Rummânî, Ulama Muktazilah Pengarang Kitab al-Nukat fî I’jâz al-Qur’ân

Bentuk Tafsir Populer dalam Facebook

Hadirnya penafsiran di media sosial memuat beragam solusi dari permasalahan sosial-politik, isu-isu actual, isu keagamaan, aktivitas keseharian yang dihubungkan dengan al-Qur’an. Model penyajian yang ditampilkan cenderung lebih simple, modis dengan mengutip ayat-ayat al-Qur’an disertai terjemahan al-Qur’an, kemudian ditambah dengan penjelasan singkat dan lugas menurut pemahaman penafsir, atau memberikan penjelasan melalui cara-cara penyelesaian masalah yang terdapat dalam al-Qur’an.

Bentuk tafsir populer banyak dijumpai dalam berbagai platform media sosial, salah satunya facebook. Fadhli memfokuskan pada akun tiga akun yaitu Buya Gusrizal Gazahar, Salman Harun dan Irena Handono. Namun, dalam tulisan ini fokus pada akun facebook Irena Handonoa. Irena merupakan seorang muallaf, mubalighah, pembimbing orang-orang muallaf yang baru dan salah satu pendiri pesantren di Indoneisa. Dengan mudah, Irena belajar agama Islam diawali dengan belajar cara membaca al-Qur’an yang baik dan benar. Sedangkan dalam memahami isi kandungan ayat al-Qur’an, Irena belajar melalui terjemahan al-Qur’an dan hadis-hadis.

Postingan yang kerap diunggah oleh Irena biasanya bersinggungan dengan aktifitas kesehariannya yang berhubungan sebagai nasehat-nasehat keagamaan dengan mengutip al-Qur’an dan Hadis. Di samping itu, Irena acap kali membahas isu-isu antar agama khususnya antara Islam dan Kristen, juga aktif dalam merespon isu teorirsme, politik islam, perempuan dalam islam dan lain sebagainya. Berbagai tanggapan audience dari postingan akun facebook Irena Handono. Beberapa akun juga menyampaikan terima kasih atas postingan Irena, kerap muncul juga berbagai respon pro-kontra terhadap penjelasannya, ada juga yang berdiskusi terkait postingannya, dan banyak pula yang meminta izin untuk share postingan Irena.

Postingan Irena banyak mengutip dari terjemahan Kemenag RI (Al-Qur’an dan Terjemahnya), dilengkapi dengan penjelasan dari pemahamannya Irena. Disamping itu, Irena jarang mengutip kitab-kitab tafsir otoritatif atau kitab-kitab keilmuan islam lainnya. Irena tidak melakukan analisis kritis dalam menanggapi suatu hal permasalahan. Nampaknya dia hanya memberikan gagasan pribadinya dan menyerukan kepada audiencenya untuk bisa lebih dekat kepada Allah SWT dan meninggalkan segala larangannya. Metode yang digunakan oleh Irena hanya terbatas pada al-Qur’an dan terjemahan al-Qur’an sebagai sumber keagamaan.

Baca Juga: Argumentasi Faydur Rahman Sebagai Kitab Tafsir Jawa Pertama

Kesimpulan

Fenomena tafsir al-Qur’an di media sosial adalah bentuk dari tafsir populer. Tafsir yang awalnya adalah bagian dari rangkaian kegiatan yang eksklusif, kini telah bergeser dalam aktivitas umum yang semua orang bisa melakukan tafsir sesuai dengan pemahamannya yang hanya bersumber pada terjemahan al-Qur’an dan hadis. Hal ini menunjukkan adanya sebuah pergeseran dari proses, produksi, hingga otoritas dari penafsiran. Aktivitas dari banyaknya orang-orang membagikan terjemahan al-Qur’an melalui postingan, capture terjemahan pada ayat tertentu ditambah dengan penjelasan singkat menunjukkan adanya interaksi yang dekat antara terjemah al-Qur’an dengan akun-akun media sosial. Fenomena seperti ini menandai bahwa adanya peningkatan dalam fungsi semantik al-Qur’an. Wallahu’alam.

- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Monopoli

Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

0
Dalam mewujudkan perekonomian yang sehat, Islam mengingatkan agar setiap individu tidak mengindahkan prinsip-prinsip fundamental mengenai kemaslahatan orang banyak, diantaranya adalah kehalalan dan tidak mengambil hak...